;

Welcome, Guest. Please login or register.
Did you miss your activation email?

Username: Password:
Pages: [1]   Go Down

Author Topic: Yuk Simak Arus Balik Literasi Keindonesiaan  (Read 165 times)

andresteav

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 173
Yuk Simak Arus Balik Literasi Keindonesiaan
« on: May 11, 2019, 09:14:36 pm »

Jantung keindonesiaan kita kerap tertusuk-tusuk duri kedengkian. Kontestasi ideologi membuat cerita berkebangsaan kita, berpusar pada arus pembicaraan gak lekas henti perihal landasan kenegaraan juga sekaligus hari depan keindonesiaan. Pembicaraan terkait basic negara, kerap menyeret perkawanan serta persaudaraan pada gelombang kedengkian yg bertambah mengkuatirkan. Walaupun sebenarnya, Pancasila dengan segala nilai-nilai terpentingnya, udah dirumuskan founding fathers negeri ini, dalam pemikiran jernih serta renungan mendalam yg terangkum pada kondisi pembicaraan berkebangsaan yg sehat.

Sesaat, pada saat-saat ini, perdebatan-perdebatan terkait metode negara serta arah hari depan bangsa membelah komunitas-komunitas, persaudaraan serta perkawanan lintas etnis-agama, dalam kelompok-kelompok kecil yg tidak sama pandangan. Pembicaraan ini melenggang tiada usaha serius menziarahi inspirasi yg diwariskan Sukarno, Moh. Hatta, Kiai Hasyim Asy'ari, Kiai Ahmad Dahlan, Sjahrir, Tan Malaka, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo, serta barisan pemikir-pejuang negeri ini.

Literasi keindonesiaan serta berkebangsaan kita sangatlah minim berikan kesegaran inspirasi anak bangsa. Infrastruktur literasi keindonesiaan mesti bisa tembus perubahan technologi, juga sekaligus melewati sekat geografis. Walaupun pemerintah dengan cara serius mengusahakan menanggulangi jurang menganga dalam infrastruktur literasi kita, membutuhkan usaha yg berkesinambungan serta berpihaknya buat memajukan mutu literasi keindonesiaan.

Kenyataan yg ada di permukaan, bangsa Indonesia adalah bangsa besar dengan warisan peradaban agung, akan tetapi miskin dalam transformasi literasi kekinian. Kebiasaan kejadian, dongeng, tambo serta sejenisnya, yg menyimpan khazanah kebudayaan dan imajinasi kebinekaan, berganti berubah menjadi gunjingan dan fitnah yg tumpah. Walaupun sebenarnya, kita miliki kebiasaan tepa selira yg berakar dari khazanah Nusantara, dan tabayyun dari kebiasaan agama. Perubahan technologi serta perubahan social media belum bisa berubah menjadi jembatan komunikasi lintas etnis serta agama dalam nuansa keindonesiaan yg fresh.

Literasi keindonesiaan kita butuh sentuhan bersama-sama. Data United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2016, di area dunia ada lebih kurang 263 juta anak putus sekolah yg minim kapabilitas literasi basic. Dari lanskap global, indeks literasi penduduk Indonesia ada pada anak tangga bawah. Data statistik dari UNESCO, Indonesia ada di posisi 60 dari keseluruhan 61 negara, yg ada dalam indeks literasi internasional. Negeri ini ada di tingkat literasi rendah, dibawah posisi sekian banyak negara Asia Tenggara serta satu posisi diatas Botswana.

Penelitian yg digelar oleh Programme for International Student Assessment (PISA) masih memberikan rendahnya animo baca penduduk negeri ini. Dari laporan PISA, indeks literasi membaca cuma naik satu point, dari 396 pada 2012 berubah menjadi 397 pada laporan 2015. Pada 2012, Indonesia memperoleh score 396, dengan posisi 60 dari 65 negara, pada category membaca. Score rata-rata internasional PISA, dalam kapabilitas membaca, yg termasuk mendalami, memanfaatkan, serta menggambarkan berbentuk tulisan, pada angka 500. Sesaat, pada indeks literasi sains serta matematika, naik cukuplah subtansial : 382 point (2012) berubah menjadi 403 point (2015) , dan 375 point pada 2012, naik 11 point berubah menjadi 386 pada 2015 waktu lalu.
Simak Juga : cara mendirikan CV

Tidak cuman percepatan infrastruktur fisik, penambahan mutu sdm Indonesia mesti dikhususkan. Percepatan pembangunan layanan umum begitu penting buat memperlancarkan denyut nadi ekonomi kita. Namun, mencipta sdm yg unggul mesti berubah menjadi prioritas. Menggenjot infrastruktur tiada bangun intelektualitas serta jiwa bangsa, ibaratnya cuma bangun gedung pencakar langit tiada penghuni.

Data penelitian United Nations Development Programme (UNDP) menyingkap tingkat pendidikan menurut Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia yg masih butuh dorongan percepatan. Laporan UNDP dalam Human Development Report (2016) , Indeks Pembangunan Manusia negeri ini ada pada posisi 113 dari 188, yg turun tiga tingkat dari urutan 110 pada 2014. Apa yg berlangsung di Asmat, Papua berubah menjadi tamparan keras untuk pemerintah Indonesia.

Literasi Keagamaan

Tidak cuman literasi keindonesiaan yg masih tetap butuh dorongan peraturan, ada satu ceruk literasi yg mengkuatirkan : literasi keagamaan (religious literacy) . Dalam sekian tahun paling akhir, agama berubah menjadi medan kontestasi gosip dan perlawanan cerita keindonesiaan. Peta perebutan politik serta kepemimpinan, memposisikan agama jadi instrumen beradu kapabilitas. Sesaat, komunikasi internal serta antarkomunitas agama teperdaya pada instrumen perebutan politik.

Survey PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yg dipublikasi dalam akhir 2017 lalu menyingkap alarm untuk kebhinekaan serta keindonesiaan kita. Survey ini melaunching cerita kedengkian yg demikian bergelombang dalam denyut nadi. Pengamat PPIM mewawancara guru PAI (Pendidikan Agama Islam) , dosen PAI, siswa dan mahasiswa di semuanya Indonesia. Survey ini libatkan 2181 responden dari 35 propinsi, 68 kabupaten/kota, terdiri dalam 264 guru,  58 dosen, 1522 siswa serta 337 mahasiswa.

Dari survey ini, technologi digital serta social media berubah menjadi instrumen penting persebaran kabar. Sejumlah 54, 87 prosen generasi milenial mengaku kalau sumber pengetahuan agama mereka dari internet serta social media. Pendidikan agama, bukan hanya bersumber dari pendidikan resmi di sekolah serta kampus, akan tetapi pun dari ustaz-ulama yg punyai account interaktif di social media.

Cerita yg terjaga dalam lanskap keagamaan, tersingkap begitu kedengkian menyebar tiada dilandasi wawasan menyeluruh atas liyan. Sejumlah 64, 66 prosen guru serta dosen melihat Ahmadiyah jadi saluran Islam yg dibenci. Sesaat, Syiah ada pada posisi ke dua jadi saluran yg tak digemari, pada score 55, 6 prosen. Pada segi lain, 44, 72 prosen guru serta dosen tak sepakat apabila pemerintah buat perlindungan Syiah serta Ahmadiyah.

Pada lingkaran siswa serta mahasiswa, pendidikan agama berubah menjadi pintu masuk mendalami keragaman serta trik pandang mereka terhadapa ketaksamaan. Sayangnya, sejumlah 48, 95 prosen responden menyebutkan kalau pendidikan agama pengaruhi mereka tidak untuk bergaul dengan pemeluk agama lain. Sesaat, 58, 5 prosen responden siswa serta mahasiswa punyai trik pandang keagamaan yg radikal.

Data ini memberikan tanda-tanda serius yg tak dapat dikira sepele. Dalam sebuah zaman paling akhir, kita mundur selangkah dalam skema literasi keagamaan. Dalam akhir zaman ke-19 serta awal zaman ke-20, ulama Nusantara punyai jaringan cendekiawan juga sekaligus persebaran literasi yg tembus batas geografis. Beberapa ribu karya kiai-kiai dibuat oleh beragam penerbit di Singapura, Mumbai (India) sampai Mesir serta Haramain. Karya-karya keagamaan ini berubah menjadi rekomendasi penting untuk lingkaran akademis pada waktu itu. Fatwa-fatwa ulama penuh nuansa menjunjung ketaksamaan serta mengayomi keragaman.
Artikel Terkait : pohon literasi

Sesaat, pada saat-saat ini, literasi keagamaan terjangkiti kanker kritis berwujud tidak bisanya mendalami ketaksamaan. Napas-napas beberapa dari kita seakan tersengal disaat menyaksikan dikit saja ketaksamaan pandangan serta kepercayaan. Penduduk Indonesia butuh oksigen penyegaran dari literasi keagamaan yg menjunjung kebhinekaan, melihat ketaksamaan perbedaan (khilafiyyah) jadi rahmah. Kita butuh penyegaran literasi keagamaan juga sekaligus literasi keindonesiaan.
Logged
Pages: [1]   Go Up