;

Welcome, Guest. Please login or register.
Did you miss your activation email?

Username: Password:
Pages: [1]   Go Down

Author Topic: Jangan Lewatkan Belajar Adil Sejak dalam Pikiran  (Read 55 times)

achasawi

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 183
Jangan Lewatkan Belajar Adil Sejak dalam Pikiran
« on: September 06, 2019, 10:19:26 pm »

Mungkin di telinga kita telah terdengar familiar pernyataan tuntulah pengetahuan dari buaian sampai liang kubur. Bukan itu saja, saat ini kita kenal satu arti yakni longlife education.

Atau di seputar kita ada kawan yang mengumumkan jika “pembelajar selama hayat” ialah motto hidupnya. Apa pun itu tentunya belajar serta tuntut pengetahuan penting.


Tetapi pengetahuan yang diperlukan untuk melalui samudera kehidupan kenyataannya bukan sebatas sin cos tan dalam matematika atau rumus relativitas ala Enstein dalam fisika. Ada yang lebih susah daripada itu. Belajarnya kurang cuma di ruangan kelas sekolah atau les-lesan. Itu ciri-ciri. Belajar teorinya bisa saja di sekolah tetapi praktiknya telah pasti langsung terjun di kampus kehidupan.

Satu diantara ciri-ciri yang penting serta mulia ialah adil. Sikap adil membimbing manusia jadi arif dalam putuskan satu masalah. Ditambah lagi buat seseorang hakim peradilan, tentunya itu benar-benar diperlukan.

Sayangnya jual beli hukum hampir jadi rahasia umum. Kenyataannya penegak keadilan yang semestinya junjung tinggi keadilan juga masih tertangkap di masalah suap atau koruosi. Jika hakim dengan jabatan tinggi saja bisa lakukan hal keji itu, bagaimana dengan di bawahnya?

Sayangnya permasalahan akut itu tidak cuma di bagian itu. Bahkan juga dalam pemikiranpun terkadang tanpa ada sadar membuat orang tidak adil dalam persepsi. Benar sekali suara hati siapa yang tahu, bayangan akal siapa juga yang bisa menebak.

Tetapi ide alias pertimbangan tentunya masih dapat kita indra. Memiliki bentuk memang abstrak tetapi bisa kita mengerti serta dimenerti oleh orang.

Itu pemikiran. Saat ini bermacam memahami tersebar ditengah-tengah warga. Sebutlah saja kapitallisme, sosialisme, materialisme, feminisme, serta masih banyak. Semua memahami itu berkeliaran berebutan pendapat serta hati warga supaya diadopsi oleh individu. Disebarkan dengan mode propaganda bermacam-macam. Digencarkan atas nama kebebasan.

Tidak itu saja, kenyataannya tidak cuma memahami yang tersebar. Bicara propaganda, saalah satu yang terpopuler adalah War on Terrorism serta Being LGBT in Asia.

Bermacam memahami, pertimbangan, serta pendapat tersebar ditengah-tengah warga. Jika kita refleksi kembali apa semua baik untuk kita? Tentunya kita harus selektif. Di lain sisi, ada stigma negatif yang dilekatkan pada seorang yang berupaya patuh.

Orang berjilbab yang ingin patuh diibaratkan dengan keterkungkungan, waktu ada yang ingin membuka aurat disebut kebebasan. Coba berdasar teguh pada syariat Islam lalu mengimplementasikannya dalam kehidupan dipandang memaksakkan kehendak sedang hidup sebebas-bebasnya ala barat dikagumi

Jika menginginkan kebebasan untuk diri kenapa ada stigma buat beberapa orang hang ingin patuh pada apa yang diyakininya? Mengelu-elukan kebebasan memiliki pendapat tanpa ada sadar menjerumuskan kita pada hipokrasi.

Bagaimana dapat? Saat ini kita lihat bukti di manna tiap orang bernada atas nama kebebasan. Misalnya waktu seseorang muslimah berjilbab dipandang terpenjara walau sebenarnya itu ialah kemauan mereka sendiri serta mereka tidak keberatan dengan itu. Begitupula orang yang menebarkan ajaran Islam berbentuk syariat dipandang memaksa kehendak walau sebenarnya lewat cara yang baik serta tanpa ada kekerasan.

Nyatanya manusia punyai tolok ukur berlainan. Jika seperti apa itu mungkin serasi akan terbentuk di temgah milyaran manusia yang tengah hidup di bumi ini? Oleh sebab telah jadi fitrah jika manusia patuh pada Sang Pencipta yang Dzat yang paling tahu seluk-beluk ciptaan-Nya. Simak Juga : rumus sin cos tan

Sampai standard kebenaran tidak relatif sebabb standard ganda sangat bahaya. Serta disitulah letak ketidak adilan semenjak dalam pemikiran. Patuh pasti menghasilkan kebahagiaan sesaat mengikutkan nafsu cuma menjerumuskan pada kesengsaraan.

Waktunya kembali pada ketentuan Sang Pencipta, Allah Ta’ala. Menumpukan standard kebenaran pada-Nya yang tertuang dalam tips hidup serta tuntunan hidup manusia yaitu Quran serta Sunnah. Supaya standard ganda tidak tampil serta kita bisa berkelanjutan dengan kebenaran itu. Silahkan belajar adil semenjak dalam pemikiran.

Wallahu a’lamu bish showab.
Logged
Pages: [1]   Go Up