;

Welcome, Guest. Please login or register.
Did you miss your activation email?

Username: Password:
Pages: [1]   Go Down

Author Topic: Fokker 28 ternyata hebat  (Read 5115 times)

Doni Hendarto

  • Penyelam Unggul
  • *****
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 7.328
Fokker 28 ternyata hebat
« on: January 05, 2008, 11:00:52 pm »

http://www.angkasa-online.com/11/09/kisah/kisah1.htm


Fokker F-28 Fellowship:
Tulang Punggung Garuda dan Negara

 PABRIK UANG - Garuda mengakui F-28 pernah menjadi pabrik uang bagi perusahaan./Foto: Angkasa/DN Yusuf 

Ketika Wiweko Soepono ditunjuk memegang jabatan puncak Garuda Indonesian Airways (GIA) pada 1968 menggantikan Capt. Soedarmo, kondisi perusahaan masih serba terbatas. Armada kurang, dana terbatas, pun sumber daya manusianya. Hingga periode itu, armada GIA terdiri dari 17 DC-3 Dakota, delapan Convair 340, tiga Lockheed Electra, tiga Convair 990-A, serta sebuah DC-8.

Melihat kondisi ini, Wiweko sepertinya tidak puas. Tahun itu juga, Wiweko menyampaikan keinginannya agar semua kota besar di Indonesia mampu disinggahi pesawat-pesawat Garuda dalam sehari penerbangan. Sebuah ide brilian. Tapi bagaimana mungkin menyinggahi 26 kota besar dalam sehari dengan 90 persen armada berbaling-baling. Melihat keterbatasan ini, Wiweko bertindak cepat. Pesawat DC-8 dijualnya. Sebagai gantinya dibelinya F-27. Pertimbangannya menurut Capt. Koesdjinatin, manajer operasi kala itu, F-27 bermesin turboprops akan memudahkan pilot-pilot Garuda untuk transisi.

Kehadiran 12 F-27 disambut baik. Tapi lama-lama, seiring tumbuhnya pasar, kok tidak memadai juga. Hingga satu hari (sekitar 1969 atau 1970) dalam lawatannya ke pabrik Fokker di Belanda, Wiweko diperkenalkan kepada produk terbarunya bermesin turbofans F-28. Tidak hanya dipertontonkan, "Wiweko mencobanya, ternyata gampang mengoperasikannya. Dia pikir, dia saja bisa apalagi pilot profesional," kata Koesdjinatin. Alhasil, kontrak ditandatangani dan sejumlah pesawat dibeli.

Selain tergiur oleh kemudahan mengoperasikannya (easy to fly), Wiweko sepertinya terpesona oleh jaminan Fokker bahwa pesawatnya mampu mendarat di hampir semua landasan di Indonesia.

Sebagai persiapan menyambut kedatangan F-28, Garuda mulai menyiapkan ground crew maupun air crew. Tim yang bertanggungjawab mempersiapkan crew ini diketuai Manajer Operasi Capt. Koesdjinatin dibantu chief instructur Capt. Sucipto dan chief pilot Capt Suprodjo Gondosumarsono. Setelah seleksi ketat berdasarkan ability dan dedikasi, keluar sebelas nama. Delapan calon captain, dua calon ko-pilot, serta seorang crew darat khusus menangani performance pesawat. Kedelapan calon captain: Suprodjo, Sedyanto, Joko Sugiarto (alm), Dwiyanto, Arifin (mereka sebut 'kedua', karena ada dua Arifin), Deden, Abdul Rohim, dan Sudarsono (disebut 'ketiga', karena ada tiga nama serupa). Calon ko-pilot: Joko Laksito dan Waluyo (alm), sementara awak darat Sucipto.

Kesebelas orang ini berangkat meninggalkan Indonesia sekitar awal Mei 1971. Sebelum menuju Amsterdam, mereka terlebih dulu singgah ke Derby, Inggris. Di kota ini, selama tiga hari mereka mendapat pengenalan mesin Spey (Rolls Royce Spey 555-15 turbofans) yang terpasang di F-28. Barulah dari sini, kesebelas duta Garuda ini berangkat ke Amsterdam lewat darat dan begitu tiba langsung ground course. Usai ground course, delapan orang kembali ke Indonesia sedang tiga sisanya (Surpodjo, Sedyanto, dan Joko Sugiarto) meneruskan ke latihan menerbangkan pesawat (flight training). "Sekitar 8 jam," jelas Suprodjo menyinggung jam terbang latihannya.

Kemampuan yang diperlihatkan ketiga pilot Garuda tidak mengecewakan para instruktur pabrik yang didirikan 22 Februari 1912 oleh pria kelahiran Blitar, Jawa Timur, 82 tahun silam, Anthony H.G. Fokker. Setelah menyelesaikan latihan, mereka dinyatakan sebagai captain pilot F-28. Pada hari yang ditentukan, pesawat pertama akan diterbangkan ke Indonesia. Untuk menerbangkan pesawat dari Belanda ke Indonesia, ketiga captain baru ini didampingi dua orang captain pabrik yaitu Capt. Moll dan Capt. Onderwater.

Penerbangan yang dimulai dari Bandara Schipol itu mengambil rute Teheran­Karaci­Kalkuta­Bangkok­Jakarta (sayang Suprodjo lupa tempat pendaratan antara Schipol-Teheran). Ditiga pendaratan, Teheran, Karaci, dan Bangkok, mereka RON (remaind over night). Hanya saja ketika mendarat di Bangkok, mereka disambut Wiweko. Sang dirut yang datang seorang diri, malam itu mentraktir semua awak makan malam. Barulah esok paginya, plus Wiweko, mereka menuju Jakarta.

Tanpa perlu menggelar penyambutan besar-besaran, hanya dihadiri Koesdjinatin dan beberapa crew tehnik, pesawat pertama F-28 MK-1000 PK-GJZ dengan konfigurasi 65 tempat duduk mendarat di Bandara Kemayoran pada 11 Agustus 1971 sekitar pukul 10 pagi. Dihitung sejak pendaratan pertama ini hingga penerbangan perpisahan lalu, berarti F-28 memperkuat Garuda selama 29 tahun tujuh bulan 25 hari.

34 pesawat

 FAREWELL FLIGHT - Berlangsung pada 25 April 2001 dalam penerbangan Yogyakarta-Jakarta./Foto: Angkasa/Beny Adrian 

Baru sehari berkangen-kangenan dengan keluarganya yang sudah ditinggalkan tiga bulan, telepon berdering di rumah Suprodjo pagi itu. Dia diminta ke Kemayoran untuk latihan tambahan selama dua hari. Apa gerangan maksudnya? Usut punya usut, "Ternyata tanggal 14 saya harus menerbangkan Pak Harto (Presiden Soeharto) ke Surabaya. Sepertinya Wiweko mau memperkenalkan pesawat barunya," papar Suprodjo. Dengan demikian, Soeharto merupakan penumpang pertama F-28 dan penerbangan RI-01 hari itu menjadi operasi pertama F-28. Itulah sejarahnya.

Karena pabrik menjanjikan hampir semua bandara bisa disinggahi F-28, Wiweko mau membuktikan. Beberapa hari kemudian diadakan tur keliling Indonesia diikuti Suprodjo, Sedyanto, Moll, Onderwater, dan Wiweko sendiri. Penerbangan uji-coba landasan selama lima hari itu menempuh rute Jakarta-Bandung-Semarang-Surabaya-Denpasar-Ujung Pandang-Kupang-Ambon-Halmahera-Manado-Gorontalo-Balikpapan-Banjarmasin-Pontianak-Tanjun Pinang-Medan-Aceh-Medan-Pekanbaru-Padang-Palembang-Jakarta. Misi berjalan mulus. Diakui Suprodjo, F-28 mampu mendarat di semua landasan yang dituju, bahkan tak masalah di landasan berumput-kerikil sekalipun.

Keberhasilan tur diikuti penerbangan komersial F-28 pada bulan September tahun itu juga. Dituturkan Suprodjo, sejak kedatangan F-28 pertama hingga disusul pesawat berikutnya, kesibukan tiada henti membuntutinya. Disamping masih harus terbang, dia juga masih bertanggungjawab menyiapkan captain-captain maupun kopilot-kopilot baru. Kadang masih terbang lagi ke Amsterdam untuk menguji pesawat dan membawanya pulang. Seiring makin banyaknya captain F-28 Garuda, kedatangan Suprodjo ke pabrik belakangan hanya sebagai acceptance test, tes penerimaan.

Solusinya, Garuda membuat program kilat untuk menutupi kebutuhan air crewnya. Selain menerima lulusan PLP Curug, Garuda mengirim sendiri para calon pilot ke Amerika, Inggris, dan Australia. Program ini terkenal sebagai 'Garuda 1'. Gabungan jebolan Garuda 1 dan Curug 13 inilah yang menjadi inti calon kopilot F-28 tahap kedua ke Amsterdam. "Pokoknya lakukan apa saja untuk menerbangkan pesawat, berapapun biayanya. Bagaimana cara merekrut orangnya, itu urusan Anda," tutur Wiweko seperti ditirukan Koesdjinatin.

Dibenarkan Koesdjinatin, dia sendiri sebagai manajer operasi Garuda saat itu, mengaku tidak tahu banyak soal pembelian F-28. "Semua langsung ditangani Wiweko," jelasnya. Ditambahkan Koesdjinatin, kondisi Garuda sebagai perusahaan negara pada masa kepemimpinan Wiweko teramat independen, hingga segala sesuatu yang dilakukan Wiweko hampir tidak bersentuhan dengan departemen terkait. Buktinya dalam pembelian pesawat (mulai F-27, F-28, A300 B4, hingga B-747-200), Wiweko melakukannya sendiri dengan mendatangi langsung pabriknya. Lalu dananya? "Dari uang yang dibayar masyarakat dan pinjaman bank-bank dari luar negeri," katanya lagi.

Soal ini ada ceritanya, ingat Koesdjinatin, bahwa Soeharto pun tidak tahu (sebelum semua selesai) ketika F-27 dijual kembali ke pabrik untuk ditukar dengan F-28. Hal ini diceritakan Koesdjinatin ketika dalam satu penerbangan mendampingi Soeharto (Wiweko sedang ke luar negeri) ke Manado untuk membuka MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran). Dalam penerbangan Makassar-Manado, Soeharto memanggilnya dan bertanya, "Saya sedang berpikir untuk Merpati, karena beberapa hari yang lalu mendapat tawaran dari Kanada Dash-7. Saya pikir, kenapa tidak F-27 saja diberikan ke Merpati?" Dijawab Koesdjinatin, "Maaf Pak, setahu saya tadi pagi telah berangkat pesawat F-27 terakhir ke Amsterdam sebagai tukar tambah dengan F-28." Mengikuti buku "Perjalanan Pengabdian 45 Tahun Garuda Indonesia" (hal. 45), pengiriman terakhir F-27 ini berarti tahun 1977.

"Dalam setahun setidaknya datang dua-tiga pesawat," jelas Samsurianto, Kepala Dinas Quality Insurance Direktorat Tehnik Garuda. Menurut data yang dikumpulkan Angkasa, jumlah F-28 yang pernah dibeli Garuda mencapai 34 pesawat. F-28 MK-1000 tercatat digunakan paling singkat. Karena setelah Fokker mengeluarkan varian terbarunya MK-3000 disusul MK-4000 dengan kapasitas lebih besar pada 1973, Wiweko memutuskan membelinya lewat tukar tambah dengan MK-1000 sejak 1977. Belakangan, tujuh diantaranya yang dikembalikan ke pabrik dibeli Piedmont, sebuah airline di Amerika.

Namun tanpa disadari, disela proses tukar-tambah, ternyata kalau ditotal semua F-28 dari tiga versi yang pernah diterbangkan Garuda mencapai 62 pesawat. Banyak sekali. "Betul, tapi bukan berarti Garuda beli sebanyak itu, karena pesawat berikutnya MK-3000 dibeli lewat tukar-tambah dengan MK-1000. Jadi Garuda tetap mempertahankan angka 34 yang dibeli," jelas Soeratman, Dirut Pelita Air Sevice yang pernah menjabat direktur teknik Garuda. Jumlah ini ditemukan Angkasa setelah menelusuri registrasi yang pernah dikeluarkan.

Tidak hanya mengembalikan semua MK-1000 pada 1977, MK-3000 pun lalu dihibahkan ke Merpati. 17 pesawat dihibahkan pada awal 1980-an seiring keluarnya kebijakan pemerintah menyatukan Garuda dengan Merpati. Keputusan ini sekaligus menegaskan pembagian 'tugas' kedua maskapai milik negara itu. Jika Garuda lebih diseriuskan menjalani rute luar negeri dan regional, maka Merpati dikonsentrasikan pada rute-rute dalam negeri baik yang sudah dijalani maupun meneruskan yang pernah dijalani Garuda. "Untuk itulah, ke 17 pesawat dihibahkan," tambah Samsurianto.

Sumbangsih yang tak akan pernah dilupakan dari F-28 kepada bangsa ini tentu ketika dilibatkan dalam mendukung operasi militer TNI di bekas propinsi Timor Timur pada 1975. Tidak tanggung-tanggung, Koesdjinatin sebagai manajer operasi kala itu mengaku mengerahkan 15 F-28 untuk memindahkan pasukan TNI dari Madiun ke Kupang. Karena pada tanggal 7 Desember 1975 itu, akan digelar operasi lintas udara untuk menduduki Dili dan Baucau.

Krueng Aceh

 TUTUP PINTU - Abdulgani Dirut Garuda menutup pintu F-28 untuk terakhir kalinya./Foto: Angkasa/Beny Adrian 

Ada prestasi, ada pula kemalangan, seperti dua sisi mata uang. PK-GJT tercatat sebagai pesawat pertama yang mengalami insiden. Peristiwanya terjadi pada 2 Agustus 1973 di Bandara Blang Bintang, Banda Aceh. Pesawat yang diterbangkan Capt. Edu Irawadi (alm) dan Capt. Sri Subekti sebagai kopilot yang tengah menjalani hari terakhir captaincy, mengalami kecelakaan ketika mendarat. Pesawat meluncur deras hingga tersangkut di pematang sawah di luar ujung landasan. Akibatnya, sayap kiri pesawat patah karena menghantam pematang sawah. Untungnya, ke 37 penumpang selamat.

Karena peristiwa ini, Subekti 'dirumahkan' selama enam bulan sebelum akhirnya diaktifkan kembali. Lucunya, Subekti yang menjadi captain setelah dua minggu aktif kembali, justru yang diminta menerbangkan kembali PK-GJT dari Aceh ke Jakarta. Setelah peristiwa itu, PK-GJT diberi nama (nose name) 'Krueng Aceh' ­ saat itu, pesa-wat-pesawat Garuda diberi nama hidung, Garuda memberikan nama hidung untuk DC-9 nama-nama kerajaan, DC-9 nama sungai, dan F-28 nama gunung. Namun, nama-nama yang pernah ditempelkan di hidung F-28 itu sulit untuk dilacak kembali.

Kecelakaan fatal (crash) pertama dialami F-28 pada 24 September 1975. Pesawat registrasi PK-GVC itu jatuh di Palembang. Total tujuh F-28 mengalami crash dimana dua diantaranya (PK-GFU dan GKV) dioperasikan Merpati.

Sampai menjelang penutup abad lalu (1999), Garuda masih menunjukkan kecintaannya kepada F-28. Ini diakui sendiri Noor Wahjudie yang bersama tim Garuda melihat sendiri F-28 milik Scandinavian Air Service (SAS) yang akan dibeli. "Sudah dipastikan lima pesawat, tapi setelah dirundingkan lagi biaya reconditioning-nya terlalu tinggi, akhirnya batal," papar Noor. "Rute domestik dengan karakteristik landasan dan terrain seperti Indonesia, saya akui sangat andal bagi F-28," ulas Noor yang menjadi chief pilot F-28 sejak 1995 hingga penerbangan terakhir.(ben)


Hingga sekarang Jenis Fokker 28 masih dioperasikan Merpati untuk Jurusan Denpasar - Ende-Maumere,Denpasar - Tambulaka,Denpasar - Flores dan Denpasar - Mataram.selamat tinggal Fokker 28 :'(
Pages: [1]   Go Up