hmm... gw juga ga gitu yakin. Intinya gini kl menurut gw,
'penulis berbakat' hanyalah kekuatan seorang individu, satu orang. Dan kekuatan satu orang mau sesakti apapun, tanpa didukung lingkungan dan masyarakat, individu itu powerless, tak berdaya.
Sesuai hukum alam. Bibit harus tumbuh di tanah yang cocok.
Tanah Indonesia bukannya tidak cocok. Cuma kurang pupuk, dan lemah dalam manajemen. Di segala aspek, semuanya saling terkait sehingga menciptakan sistem yang 'mematikan'.
Kalo bicara bibit, sebetulnya Tuhan sudah mengkaruniai negeri kita dengan bibit-bibit terbaik. Kita pernah punya padi yang demikian tinggi kualitasnya, sehingga muncul nama Yawadwipa (Pulau Padi).
Durian Indonesia pernah dikatakan sebagai galur murni, induk semua durian yang ada di Bumi.
Tapi sekarang liat aja, padi,.... bah. Impor.
Durian, kalah kualitas sama durian monthong.
Kita jadi umat yang kufur nikmat, makanya Tuhan mencabut nikmat itu dari kita.
Tapi, berita baiknya, Tuhan memberi kita rahmat tersembunyi.
Di tanah yang tandus, bibit harus bener-bener berjuang keras untuk bisa tumbuh. Maka dia akan menjadi tanaman yang liat, dan tahan gempuran.
Kalau kita tetap berjuang keras untuk tumbuh, against all odds, maka kita akan muncul sebagai pribadi yang tahan gempuran dan teruji dalam situasi tersulit.
Nah, makanya, pilihlah untuk terus berjuang, jangan pilih yang enak-enak aja. Perjuangan akan membesarkan kita, kenikmatan akan mengerdilkan kita.
Salam perjuangan! (Apa sih?)
FA Purawan