Lautan Indonesia - Forum Indonesia Terbesar dan Terlengkap
Welcome, Guest. Please login or register.
Did you miss your activation email?

Login with username, password and session length
July 30, 2010, 05:41:44 am
Pages:  1 ... 210 211 212 213 [214] 215 216 217 218 ... 944   Go Down
  Print  
Author Topic: [LOUNGE & SERVICE] Fiksi Fantasi Dalam Negeri III  (Read 166635 times)
Elyasa
Kelasi
*
Offline Offline

Posts: 43


Enthireans Heroes


WWW
« Reply #2130 on: July 11, 2008, 04:09:18 pm »

Ngebahas masalah penulis fantasi lokal yang nggak bisa berkembang....

Kalo menurut gue sih...karena orang bule itu jauh lebih kreatif dan open minded dibandingin kita...dan juga mereka sekarang berpikaran global, nggak kaya kita yang ujung-ujungnya dukun, cinta, seks, dll....

dan satu lagi...menurut gue sih, bahasa inggris itu jauh lebih keren dari bahasa kita...contohnya

Inggris : lets attack them boys, give them blood!
Indo    : Ayo kita serang mereka anak-anak, berikan mereka darah!

bener ga sih??/
Logged

Enthirea: Pertempuran dua dunia melanglang Khatulistiwa...

Enthirea: Delapan pelindung...Segera Terbit...hehehe
MakMak
Chingu
**
Offline Offline

Posts: 1219


Choooo Denji.... Yo-Yooo!!!!


« Reply #2131 on: July 11, 2008, 04:29:17 pm »

Ngebahas masalah penulis fantasi lokal yang nggak bisa berkembang....

Kalo menurut gue sih...karena orang bule itu jauh lebih kreatif dan open minded dibandingin kita...dan juga mereka sekarang berpikaran global, nggak kaya kita yang ujung-ujungnya dukun, cinta, seks, dll....


nggak juga sih. kreatif tidaknya seseorang tidak ditentukan oleh ras. tapi kualitas seseorang. kalau penulis bagus, mau orang bule, mau orang indonesia, tetep aja penulis bagus.

kayaknya dulu ada sastrawan indonesia yang dapat nominasi nobel sastra. kalo ga salah namanya Pramudya Ananta Toer. (memang ga menang, tapi nominasi nobel lho)

dan satu lagi...menurut gue sih, bahasa inggris itu jauh lebih keren dari bahasa kita

bahasa Indonesia adalah bahasa yang luar biasa menurutku. satu-satunya bahasa yang konfrensinya digelar setiap tahun, sehingga selalu terjadi penyempurnaan. hanya kita saja yang kurang mampu menggali potensi bahasa kita.
Logged

lagi baca Hourou Musuko.
manga tentang lika-liku kehidupan cross dresser. sangat menarik.

visit: http://visnovtranslation.blogspot.com - for unofficial visual novel translation

visit: http://ninou-maxmax.blogspot.com/ - for my stories documentation so far
cheppy70
Kelasi
*
Offline Offline

Posts: 879


« Reply #2132 on: July 11, 2008, 04:41:58 pm »

Ngebahas masalah penulis fantasi lokal yang nggak bisa berkembang....

Kalo menurut gue sih...karena orang bule itu jauh lebih kreatif dan open minded dibandingin kita...dan juga mereka sekarang berpikaran global, nggak kaya kita yang ujung-ujungnya dukun, cinta, seks, dll....

Gue setuju hanya bila yang elo maksud adalah budaya kita SEKARANG.

Budaya adiluhung kita di masa lalu itu BENER-BENER adiluhung beneran! Gak cuma stempel budaya tinggi aja.

Tahukah kita, bahwa corak kain batik aja memiliki makna yang dalem banget?

Persoalannya, kita sekarang udah terputus obor dengan leluhur, yang kita warisi adalah budaya serba tanggung yang diasah oleh perilaku bejat selama bertahun-tahun. So, ngga ada hal positif yang bisa tumbuh di atas sampah itu.

Open minded-nya budaya barat, itu baru terjadi di dekade belakangan ini aja, setelah mereka terpapar pada budaya-budaya Timur yang naskahnya di boyong ke museum negeri mereka,..  Hammer Hammer Hammer

Quote

dan satu lagi...menurut gue sih, bahasa inggris itu jauh lebih keren dari bahasa kita...contohnya

Inggris : lets attack them boys, give them blood!
Indo    : Ayo kita serang mereka anak-anak, berikan mereka darah!

bener ga sih??/

Gak, itu karena elo memang 'live' in english language (sebagai anak sastra, elo juga pasti paham bahwa 'live' di sini bermakna bahwa seluruh program pikiran kita menggunakan software yang ditulis dalam bahasa 'anglic'. Tidak ada manusia di negri kita (terutama yg 'terdidik') yang lepas dari software tersebut.

Perhatikan bahwa contoh elo saja berakar dari dari sikap dan perilaku yang lazim di dalam budaya Amerika, dimana seseorang menyelesaikan masalah dengan 'otot' dan 'darah', dimana hal tersebut ngga begitu lazim di budaya kita (makanya kita ngga punya istilah yang kena untuk hal-hal tersebut).

Kalau mau yang sesuai budaya kita, nah contohnya seperti ini:

Indonesia: udalah, berapa banyak you sediain buat ngegosok bapak anu?
Inggris: C'mon, how much you have prepared to rub mr. anu?  Grin Grin Grin Grin

Salam,

FA Purawan
Logged

rd_Villam
Kelasi
*
Offline Offline

Posts: 929


I'm just a dreamer.


WWW
« Reply #2133 on: July 11, 2008, 05:10:15 pm »

@rey, fred, mas pur,
udah gue kirim tuh TFH nya...
silakan dibantai. hehehe...

Koq gue belum terima?  Sad

kutunggu loh,... Smiley

FA Purawan

udah kok.
mudah2an gak ilang filenya di udara... heheh...
kalo emang belon dapet kasih tauk yak, biar gue kirim lagih...
Logged

fr3d
Kelasi
*
Offline Offline

Posts: 702



« Reply #2134 on: July 11, 2008, 05:41:59 pm »

kayaknya dulu ada sastrawan indonesia yang dapat nominasi nobel sastra. kalo ga salah namanya Pramudya Ananta Toer. (memang ga menang, tapi nominasi nobel lho)

Almarhum Pram dipertimbangkan untuk menerima nobel.
Kayaknya di penghargaan nobel gak ada nominasinya deh. Iya gak sih? (lupa2 inget)
Bukunya Almarhum Pram, khususnya tetraloginya, emang bagus. Thumbs Up
Logged
Elyasa
Kelasi
*
Offline Offline

Posts: 43


Enthireans Heroes


WWW
« Reply #2135 on: July 11, 2008, 05:58:16 pm »

Quote
Gak, itu karena elo memang 'live' in english language (sebagai anak sastra, elo juga pasti paham bahwa 'live' di sini bermakna bahwa seluruh program pikiran kita menggunakan software yang ditulis dalam bahasa 'anglic'. Tidak ada manusia di negri kita (terutama yg 'terdidik') yang lepas dari software tersebut.
Iya juga sih....
Quote
Budaya adiluhung kita di masa lalu itu BENER-BENER adiluhung beneran! Gak cuma stempel budaya tinggi aja.

Gue setuju banget ama yang ini....cuman masalahnya bangsa kita ini kurang menghargai budaya kita sendiri...mulai dari yang heboh deh...reog ponorogo dan batik yang mau diambil malaysia...belum lagi patung-patung dicandi-candi yang dijarah...nah itu sangat amat mengecewakan dan membuktikan kurangnya perhatian kita (mungkin termasuk gue) terhadap sejarah dan budaya bangsa sendiri.

Dan akhirnya menyebabkan kita seperti kehilangan pegangan!

apalagi sineas muda jama sekarang bikin film dukun kalo gak roman picisan yang berbau cabul!!!! Duh OOT deh gue...

Hehehehe....Muuph
Logged

Enthirea: Pertempuran dua dunia melanglang Khatulistiwa...

Enthirea: Delapan pelindung...Segera Terbit...hehehe
hege
Chingu
**
Offline Offline

Posts: 1352


stranger in the moonlight


WWW
« Reply #2136 on: July 11, 2008, 07:19:21 pm »

Whoa, hundred pages already, incredible.
yg novelnya baru trebit, selamat yak. yg suka review, hayo lebih keji lagi! yang lagi desperate dan yg berupaya nulis, sip.

Ah akhirnya diriku mampir dan say hi, being abit busy lately, having great times in the new place Smiley

anyway, salah satu tulisan yang menginspirasi hege buat nulis adalah ini:

            A fiction writer is a person who invents stories.             But how does one start out on a job like this? How does one become a full-time professional fiction writer?             Charles Dickens found it easy. At the age of twenty-four, he simply sat down and wrote Pickwick Papers, which became an immediate best seller. But Dickens was a genius, and geniuses are different from the rest of us.             In this century (it was not always so in the last one), just about every single writer who has finally become successful in the world of fiction has started out in some other job -- a schoolteacher, perhaps, or a doctor or a journalist or a lawyer. (Alice in Wonderland was written by a mathematician, and The Wind in the Willows by a civil servant.) The first attempts at writing have there­fore always had to be done in spare time, usually at night.             The reason for this is obvious. When you are adult, it is necessary to earn a living. To earn a living, you must get a job. You must if possible get a job that guarantees you so much money a week. But however much you may want to take up fiction writing as a career, it would be pointless to go along to a publisher and say. "I want a job as a fiction writer." If you did that, he would tell you to buzz off and write the book first. And even if you brought a finished book to him and he liked it well enough to publish it, he still wouldn't give you a job. He would give you an advance of perhaps five hundred pounds, which he would get back again later by deducting it from your royalties. (A royalty, by the way, is the money that a writer gets from the publisher for each copy of his book that is sold. The average royalty a writer gets is ten percent of the price of the book itself in the bookshop. Thus, for a book selling at four pounds, the writer would get forty pence. For a paperback selling at fifty pence, he would get five pence.)             It is very common for a hopeful fiction writer to spend two years of his spare time writing a book which no publisher will publish. For that he gets nothing at all except a sense of frustration.             If he is fortunate enough to have a book accepted by a publisher, the odds are that as a first novel it will in the end sell only about three thousand copies. That will earn him maybe a thousand pounds. Most novels take at least one year to write, and one thousand pounds a year is not enough to live on these days. So you can see why a budding fiction writer invariably has to start out in another job first of all. If he doesn't, he will almost certainly starve.

Here are some of the qualities you should possess or should try to acquire if you wish to become a fiction writer:               1. You should have a lively imagination.             2. You should be able to write well. By that I mean you should be able to make a scene come alive in the reader's mind. Not everybody has this ability. It is a gift, and you either have it or you don't.              3. You must have stamina. In other words, you must be able to stick to what you are doing and never give up, for hour after hour, day after day, week after week and month after month.             4. You must be a perfectionist. That means you must never be satisfied with what you have written until you have rewritten it again and again, making it as good as you possibly can.             5. You must have strong self-discipline. You are working alone. No one is employing you. No one is around to give you the sack if you don't turn up for work, or to tick you off if you start slacking.             6. It helps a lot if you have a keen sense of humor. This is not essential when writing for grown-ups, but for children, it's vital.             7. You must have a degree of humility. The writer who thinks that his work is marvelous is heading for trouble.

- Roald Dahl
(From his book “The Wonderful Story of Henry Sugar and Six More)



hege akan terus mampir dan baca-baca. sukses buat semuanya.
Logged

blue_amaranthine
Kelasi
*
Offline Offline

Posts: 40


www.dream-of-utopia.com


« Reply #2137 on: July 11, 2008, 07:36:25 pm »

     In this century (it was not always so in the last one), just about every single writer who has finally become successful in the world of fiction has started out in some other job -- a schoolteacher, perhaps, or a doctor or a journalist or a lawyer. (Alice in Wonderland was written by a mathematician, and The Wind in the Willows by a civil servant.) The first attempts at writing have there­fore always had to be done in spare time, usually at night.             
Thanks bwat hege, paragraf itu cukup inspiring. Wah, ternyata pilihan aq buat jadi Scientist di bidang Chemistry (FMIPA Kimia ITB, doain ya biar masuk) ga salah. My life is for writing. Ga harus jadi sastrawan buat nulis fantasi. everyone has they own dream and imagination. Pekerjaan kita emang ga harus sama ama fantasy fiction. Kegemaran itu udah ada pada diri kita n jadi apapun kita, hal itu takkan pernah berubah. Thank you again, Hege! Kedatanganmu membawa berkah
Logged

Dream of Utopia, novel karanganku, sudah ada di toko buku lho! Ceritanya Fantasi BANGETZ!
rd_Villam
Kelasi
*
Offline Offline

Posts: 929


I'm just a dreamer.


WWW
« Reply #2138 on: July 11, 2008, 11:44:08 pm »

Thanks bwat hege, paragraf itu cukup inspiring. Wah, ternyata pilihan aq buat jadi Scientist di bidang Chemistry (FMIPA Kimia ITB, doain ya biar masuk) ga salah. My life is for writing. Ga harus jadi sastrawan buat nulis fantasi. everyone has they own dream and imagination. Pekerjaan kita emang ga harus sama ama fantasy fiction. Kegemaran itu udah ada pada diri kita n jadi apapun kita, hal itu takkan pernah berubah. Thank you again, Hege! Kedatanganmu membawa berkah

he...
ada adik sealmamater lagi di sini... heheh...
(sayang si kokonoka dah gak pernah muncul lagi)
tetaplah menulis yak, walau nanti dibantai tugas-tugas kuliah dan praktikum. wakakakak...

@hege,
itu tulisan yang sangat bagus.  Thumbs Up
Logged

Alpha_Serpentwitch
Kelasi
*
Offline Offline

Posts: 612


Serpent Pro


WWW
« Reply #2139 on: July 12, 2008, 10:00:37 am »

Quote
Ehm,.. gw pakai Telkomflash Unlimited, cuma 200 rb sebulan bisa online dimana aja dan bisa dapet 3G.

Enak juga, lho,... 


wew, gw juga udah denger en pengen nyoba tuh, terutama krn ini udah hari ketujuh speedy wa mokad >.<

Gw cuma takut flash bagus awal2 doang dan ntar kl dah rame pelanggannya, dia sering down. Trus ktnya full speed cuma buat 3 giga pertama, trus seterusnya pake speed dial up biasa? Speed dial up nya brp Kb/s yah? Jgn2 speed bekicot bener2 setelah 3 giga abis.(Yg mana juga tetep lebih untung drpd speedy yg 450/ bulan sih)

Btw soal penulis lokal yang ga bisa berkembang, kita engga separah itu kok kualitasnya sebagai penulis, kl yang gw bilang itu tatanan masyarakatnya yang udah terbiasa mengkonsumsi produk luar dan mencap jelek produk lokal. Bule kreatif? Coba aja suru bule kreatif itu berjuang sbg penulis di Indo, setahun juga gulung tikar pulang kampung. Nominasi2 dan penghargaan cuma 1 kelompok kecil yang mengapresiasi dan kl gw mau kejam dikit, gw katakan sbg kelompok kecil yang 'memaksakan diri' untuk memperjuangkan novelis lokal yang ada. Sementara itu masyarakat awam di luar organisasi itu dan komunitas penulisnya sendiri, tidak ada yang 'aware' sama sekali udah sampai mana perkembangan novel lokal. Yang menang award aja judulnya ga dikenal, 10% populasi jakarta aja ga sampe yang aware tentang adanya award seperti itu. Dan dari segitu dikitnya yang aware dan tahu, ga sampe 50% nya yang mau beli, sekalipun tuh buku dipuji setinggi apapun juga.

Seorang penulis menulis dan 'terpacu' untuk menulis karena mengharapkan ada yang mau membaca karyanya kan? Jika masyarakatnya ogah2an dan emang dasarnya menolak membaca buku lokal, gmn caranya supaya bisa maksa mereka baca yah? Apa semua penulis harus menggunakan nama samaran sebagai orang asing? Kl ga ada yang mau baca kan mood jadi ilang dan kinerja serta kreatifitas kita secara keseluruhan akan menurun jauh dari kemampuan kita yang sebenarnya.

Kalau bergantung sama penerbit sini, liat aja hasilnya, nyari novel lokal segitu banyak judul yang udah direview Om Pur aja susah banget >.< Lokasinya diselipin di tempat yang tidak terlihat, tenggelam sama novel2 best seller luar yang bertebaran disekelilingnya. Asli, kalau lay out tokonya seperti itu, siapa yang mau 'aware' ada novel lokal disitu??

Diluar negeri jelas enak, animo masyarakatnya terhadap seni dan sastra sangat tinggi. Disini mah animo masyarakat cuma terpicu naik seputar kata duid dan murah. -__-.  Atau semua negara berkembang seperti ini yah? saking miskinnya dah ga ada waktu mikirin hal lain selain duid? Brp banyak dan waktu yang dibutuhkan untuk merubah tatanan masyarakat yg udah terlanjur terbentuk dan mendarah daging begini ? Huh?

Quote
@Hege
4. You must be a perfectionist. That means you must never be satisfied with what you have written until you have rewritten it again and again, making it as good as you possibly can.

masalahnya perfeksionis dooesn't know when to stop -__- Gw tiap baca ulang karya gw rasanya pengen diulang2 terus... so...I wonder if it's a bad thing or a good thing. Tongue Ada yang bilang hal ini bagus, ada juga yg bilang ini bad habit yang harus dihilangkan ^^
Logged

Pages:  1 ... 210 211 212 213 [214] 215 216 217 218 ... 944   Go Up
  Print  
 
Jump to:  

Powered by MySQL Powered by PHP Powered by SMF 1.1.11 | SMF © 2006-2009, Simple Machines LLC Valid XHTML 1.0! Valid CSS!
Page created in 2.259 seconds with 23 queries. (Pretty URLs adds 0.001s, 1q)