@om pur,
well, daku menilai negatif rata-rata fantasi lokal itu buat semua fantasi lokal dengan settingan dunia barat/alternatif. agak penasaran jugak sih sama 'fantasi2 indo' kayak Candi Murka & serial Gajah Mada (ini fantasi bukan?), memuaskan apa mengecewakan nih?
Serial Candi Murca, dan Gajah Mada, ya?
Kalo gajah Mada kurang begitu masuk ke genre Fantasi, lebih tepat roman sejarah.
Kalo Candi Murca, memang kuanggap Fantasi, makanya gue masukin review. Sejauh ini kuanggap sebagai sebuah karya bagus. Tapi kalo mo bicara memuaskan atau enggak, sangat tergantung pada selera.
Gue sendiri biarpun bisa mengapresiasi ceritanya, masih kurang puas dalam menikmati bacaannya. Semata-mata gaya berceritanya buat gue agak ke arah jadul punya (terutama dari aspek penamaan tokoh dan dialog). Selain itu, kalo di Fantasi mungkin ada unsur 'wisata imajinasi' dimana pembaca diajak melanglang buana dalam universenya pengarang, menikmati isi dunia itu sendiri tanpa terlalu harus terikat pada menikmati isi cerita. Mungkin semacam aspek WOW hanya terhadap dunia Fantasy yang diciptakannya. Aspek seperti itu kurang ada di dalam Candi Murca.
Untuk aspek wisata ini, kurasa dari yang pernah saya baca, baru Hozzo yang udah memasukkannya, serta satu lagi yang kulihat sudah right on the mark: Dream of Utopia. Frankly, gue belum selesai baca, tapi penjabaran-penjabaran akan dunia fantasy Dream Utopia sudah bisa dinikmati pada bab-bab depan, jadi cukup udah bisa gue omongin, deh
Sekarang bicara tentang blantika (halah istilahnya, Prambors taun 80-an banget

) Literasi Fantasy di Indonesia.
Menurut gue sih, memang benar bahwa 'standar' kualitas karya Fantasy ditentukan dari Barat (atau Jepang

), bukan dari referensi yang bersifat lokal. Sudah sewajarnya, sebab 'trigger' yang menghidupkan minat terhadap genre itu datang dari karya-karya Barat dan Jepang. Pada generasi pendahulu negeri kita (let's say saat jaman Majapahit atau Mataram), literasi fantasy datang dari tanah India melalui dua epos terkenalnya Mahabarata dan Ramayana, yang melahirkan kisah-kisah Pewayangan lokal yang khas dengan lakon-lakon non-pakem ciptaan dalang-dalang lokal.
Tapi, seperti sering gue bilang, kita kan memang sudah putus hubungan dengan budaya leluhur. jadi ga heran bila kita lebih menjiwai fantasy ala Barat atau Jepang. Dan apa yang kita hasilkan, tentu saja mencerminkan apa yang kita jiwai,...

Dan ga ada yang salah dengan itu. Kurasa problem utama kita (para penulis) jika memang ingin mengembangkan genre ini di tanah air, adalah banyak diantara penulis yang belum menguasai betul teknik kepengarangan. Memang itu merupakan proses belajar seumur hidup, tapi at least ada teknik-teknik dasar yang bisa dipelajari sendiri, serta teknik lanjutan yang bisa didiskusikan dan dipelajari bersama. Ibarat mau main jurus, lha kuda-kuda ada belum kuat, tapi kan bisa dipelajari (secara serius).
Pengarang Fantasy (kita) punya kecenderungan menganggap remeh pelajaran mengarang, dan mau langsung 'jump' into bookwriting, karena terlanjur menganggap ide dan fantasynya sudah cukup untuk mewakili cerita yang ada di benaknya

Isn't that right? Jawab aja sendiri, hehehe,....
nah, problem selanjutnya adalah semata buah dari situ. Tanpa ilmu kepengarangan yang kuat, karya yang dihasilkan menjadi miskin kualitas. karya yang rendah kualitas membuat penerbit jadi gak percaya diri. Dan pengarang+penerbit pun makin minder ditengah serbuan karya-karya Fantasy dari Barat yang notabene ditulis oleh 'professional writer' (liat aja term-nya, sudah begitu mengerikan, karena mengandung adanya kekuatan ilmu dan kekuatan pengolahan sebuah team di belakangnya, if you get what I mean

)
Sekarang, kita musti ngapain?
Well, kalo di Barat sana para pengarang merupakan subyek-subyek pembelajar yang terus mengolah wawasan dan kemampuan teknisnya, kenapa kita gak tiru kiat tersebut? Di Barat sono, sampe ada majalah khusus SciFi. Di kita, gak perlu sampe majalah deh, forum kayak gini aja udah cukup, yang penting kita sama-sama bisa belajar.
Selain itu, perlu juga ditingkatkan kemampuan dan peran serta para Editor, sebab mereka lah yang sejatinya mendefinisikan kualitas Fantasy hasil terbitan lokal. Kalo bisa digagas sebuah forum khusus para Editor Fantasy, boleh jadi kemajuan penulisan Fantasy di negeri kita bisa mengalami sebuah quantum leap!
Soal segmen pasar terbatas, aku nggak terlalu setuju, sebab sudah dibuktikan melalui terbitan Fantasy terjemahan yang cukup laku di pasar, menandakan bahwa pasar menyukai genre Fantasy. Tinggal pengarang lokal (dengan arahan editor) yang menjawabnya dengan karya-karya yang memenuhi standar kualitas.
Salam,
FA Purawan