Mungkin semacam aspek WOW hanya terhadap dunia Fantasy yang diciptakannya. Aspek seperti itu kurang ada di dalam Candi Murca.
justru fantasi-fantasi lokal yg udah beredar itu kebanyakan pada ngandelin aspek WOW di bukunya, yang ane liat sih. malah payah di plot & karakterisasi. kebanyakan penulis fantasi indo itu punya pikiran kolot: yang namanya genre fantasi cuma penting di imajinasi. plot, gaya bahasa, karakterisasi, gak terlalu dipeduliin. elu punya imajinasi tentang sebuah dunia alternatif, elu terjemahkan dengan kata-kata ber-POV orang pertama/ketiga, dan jreng! Congratulation you're a fantasy writer already.

Dan, aspek WOW itu ternyata gagal, atau kurang WOW, semata-mata karena bangunan settingnya goyang

. Dan memang harus dibedain antara aspek WOW ini dengan plot & karakterisasi. Aspek WOW cuma bicara masalah setting, kayak lo bangun rumah dengan arsitektur keren, dengan segala isinya yg hi-tech yang bikin elo terkagum-kagum selama satu jam dua jam pertama (tergantung besarnya rumah,... hehehe).
Tapi Plot dan Karakterisasi adalah apa yg bisa elo kerjain di rumah itu, yang dapat membuat elo betah berhari-hari, bertahun-tahun di dalamnya, dengan sejumlah alasan 'kenapa'.
Candi Murca (thanks koreksinya jun

), malah kurang di aspek WOW, gaya bahasa dilabel kuno, berarti plot & karakterisasinya bisa dianggap mumpuni donk? heheheh.. sebetulnya ada gak sih fantasi lokal yang kuat dan sejajar baik di setting, imajinasi, gaya bahasa, plot, karakterisasi? well kita tunggu tanggal mainnya.

Bener sih, plot dan karakterisasi memang mumpuni, koq. Hiya ya, saat ini belum ada the ultimate Fantasy, mari kita tunggu

Pada generasi pendahulu negeri kita (let's say saat jaman Majapahit atau Mataram), literasi fantasy datang dari tanah India melalui dua epos terkenalnya Mahabarata dan Ramayana, yang melahirkan kisah-kisah Pewayangan lokal yang khas dengan lakon-lakon non-pakem ciptaan dalang-dalang lokal.
Tapi, seperti sering gue bilang, kita kan memang sudah putus hubungan dengan budaya leluhur. jadi ga heran bila kita lebih menjiwai fantasy ala Barat atau Jepang. Dan apa yang kita hasilkan, tentu saja mencerminkan apa yang kita jiwai,...
Lho?

berarti pada prinsipnya, indo emang gak pernah punya literasi orisinil kan? (maksudnya, kebudayaan/mitologi aseli.) kalo 'budaya leluhur' itu sendiri originnya dari tanah india,
He he, kenapa pukul rata, gitu? Namanya kebudayaan, pastilah merupakan suatu kulminasi dari berbagai pengaruh. Literasi orisinil, rasanya banyak. Budaya bertutur Indonesia melahirkan banyak sekali kisah legenda yang bersumber dari peristiwa-peristiwa di tanah air yang diolah menurut kadar kemampuan fantasi rakyat saat itu. Contohnya legenda Tangkuban Perahu (Sangkuriang), Candi Prambanan, La Galigo.
Kemampuan kita menyerap cerita epos dari India dan merevitalisasi kembali sehingga muncul berbagai format (wayang kulit, wayang golek, wayang tari), yang bahkan menjadikan seolah-olah kejadian Bharata Yudha itu berlangsung di tanah Jawa sendiri

, itu justru merupakan hasil karya budaya yang levelnya tinggi. Bayangin dari cerita, muncul tarian yang format dan filosofinya jauh lebih dalem & rumit. Di India sendiri malah gak terbentuk sejauh itu.
kenapa kita generasi hari ini jadi punya kewajiban buat melestarikan? toh literasi orang-orang majapahit jadul jaman dulu itu juga kena influence dari masuknya kebudayaan asing (india) di nusantara.
Ini dua masalah yang jawabannya berbeda

Dalam hal influence dari India, yang sudah terbukti adalah terjadinya transformasi cerita asal menjadi bentuk kreativitas baru, baik berupa seni, maupun fiksi-fiksi baru berupa lakon carangan yang tidak ada dalam naskah aslinya. Transformasi ini sangat jauh berbeda sifatnya dengan apa yang kita lakukan sekarang. Pada jaman dulu, mah, istilah kata budaya kita nggak 'ngalah' sama budaya luar, melainkan terjadi proses penyerapan, budaya asli kita jadi diperkaya, dan diperkuat. Ciri khasnya, ada nilai tambah dari penyerapan itu, misalnya menyusupnya nilai-nilai kehidupan tradisi lokal dalam fiksi yang diciptakan. Salah satu contoh yang terkenal, kalau terkait pewayangan adalah terciptanya tokoh-tokoh Punakawan (Semar, Petruk, Gareng, Bagong), yang di versi Indianya aja gak ada, tapi begitu diciptakan oleh orang-orang kita, mereka mampu menjadi tokoh dalam Mahabarata versi lokal yang abadi menembus jaman. Atau lakon-lakon yang melibatkan Jimat "Kalimasada", yang jelas-jelas merupakan pengaruh dari ajaran Islam, yang diintrodusir oleh Sunan Kalijaga dalam seni pewayangan.
Nah, Soal yg katanya warisan budaya, kenapa kita wajib melestarikan? Pertama-tama musti dijabarkan dulu APANYA yg wajib dilestarikan?
Kalo menurut gue sih, kita udah meninggalkan semua aspek budaya lokal kita secara hakiki, sehingga ga ada lagi alasan yang mewajibkan kita melestarikannya. Hehehehe,.... Practically, bangsa Indonesia saat ini adalah sebuah bangsa yang sedang mentrasformasikan dirinya menjadi bangsa Hollywood (bukan otomatis jadi bangsa Amerika), alias bangsa global sesuai yang disefinisikan di media-media dunia.
Ini situasi yang sangat jauh berbeda dengan masa lalu, dimana budaya asinglah yang terserap untuk memperkaya budaya lokal. Situasi kita sekarang, kitalah yang mencair (disolve) untuk bergabung dalam budaya global. Kenapa? Karena kita 'kalah' budaya. Kenapa kalah budaya? Karena kita semua sudah meninggalkan budaya lokal kita, tumbuh menjadi bangsa yang 'a-kultural' alias gak memiliki budaya lagi (so jangan heran bila dalam aspek kehidupan sehari-hari, kita menemukan banyak sekali anomali dalam masyarakat!)
Jadi salah aja, jika para tetua meminta generasi muda melestarikan warisan budaya Indonesia. Warisan yang mana? Saat ini yg disebut sebagai budaya lokal, practically cuman 'bahasa daerah', dan sedikit adat istiadat yang masih dijalankan oleh keluarga (saat kawinan, misalnya

. Tapi nilai-nilainya udah nggak diyakini dan dipercayai lagi sebagai sesuatu yang perlu dilestarikan

. So, kehilangan budaya, memang sudah menjadi nasib kita, mo cepat atau lambat. Mungkin kalo mau contoh Indonesia di masa depan, mirip kayak warga Singapura sekarang ini, yang gak punya budaya jelas (karena udah pada ninggalin budaya lokal China, India dan Melayu-nya), kemudian sibuk menganggap diri berbudaya Barat.
Nah, yang menjadi pertanyaan buat kita sekarang ini, kita (Indonesia) mau yang mana?
Saya melihatnya bukan lagi pilihan-pilihan harga mati dari para tetua, yang kalo gak kita laksanakan akan bikin kita kuwalat. Saya ngeliatnya semata aspek strategis buat masa depan kita aja.
Di saat batas antar bangsa menyatu, kita nggak akan punya nilai kalau kita ngga punya keunikan yang bisa kita tawarkan. Apa anehnya ngeliat orang Indonesia 'meniru' performance hip-hop sepersis-persisnya? Soalnya remaja Iran, remaja Bangladesh, ato remaja India, semua bisa melakukan peniruan yang sama. Dan kita gak akan mampu masuk status sebagai 'creator', paling 'impersonator', kenapa? Karena jaringan bisnisnya (blood-nya) akan tetap dikuasai oleh mereka (Ini juga yang ngebedain perluasan Budaya era dulu dengan sekarang).
Nah, pada saat kita menguasai sesuatu yang unik, yg ngga dikuasai oleh bangsa lain (istilahnya, Local Genius, atau Local Ingenuity), kita punya daya jual dan daya tawar yang lebih tinggi. Apa yang unik itu? Ya budaya lokal yang dulu kita punyai. Semakin tinggi penguasaan kita atas budaya lokal, semakin kuat daya saing kita dalam kancah global.
Saat ini kita kan bisa mikir, bila novel-novel Fantasy kita diterjemahkan ke dalam bahasa asing, apakah akan punya appeal yang sama dengan novel asing yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia? Apa menariknya setting yang kita tawarkan di mata pembaca asing? Kalo kita cuma 'niru', rasanya ngga ada yg menarik sebab semuanya udah pernah ada di sana (been there, done that

). Dan lagi, gue rasakan sih dalam setiap peniruan, selalu ketara ada 'soul' yang gak dapet.
Tapi kalo kita padukan kreativitas dengan setting yang 'beyond' their knowledge, kita akan muncul sebagai kekuatan yang diperhitungkan dalam khasanah Fantasy global (keren gak pidato gue? heheh)
Kira-kira gitu deh pendapat gue atas topik 'berat' ini,...

Yg penting sekarang, mah: ayo, belajar menulis lagi terus!
Salam,
FA Purawan