Lautan Indonesia - Forum Indonesia Terbesar dan Terlengkap
Welcome, Guest. Please login or register.
Did you miss your activation email?

Login with username, password and session length
July 30, 2010, 06:14:33 am
Pages:  1 ... 223 224 225 226 [227] 228 229 230 231 ... 944   Go Down
  Print  
Author Topic: [LOUNGE & SERVICE] Fiksi Fantasi Dalam Negeri III  (Read 166653 times)
piethitam
Kelasi
*
Offline Offline

Posts: 64


« Reply #2260 on: July 20, 2008, 08:33:12 pm »

baru dateng lagi setelah keseleo di pergelangan kaki seminggu Cry

@bloodsin
betul kata si Fr3d mengenai ejaan Mandarin (basi banget ga sih topiknya?) Cao-Cao itu di jaman jebot dieja Tsao-tsao kaya Mao Zhedong yang dulu dieja Mao Tse Tung (bacanya Mao Cetung), Zhang Zi Yi itu dibaca Cang ce i. Dan Liu Bei dibaca Liuw Pei. itu menurut ejaan baru resmi internasional yang bisa diketikkan di komputer.Jadi kalo lo ngetik di kompi(yang ada translator huruf kanji mandarinnya) Tsao-tsao nggak bakalan keluar hurup, tapi kalo Cao (ato Zhao sebenernya Fr3d?) akan muncul beberapa huruf yang berbunyi demikian, n lo tinggal pilih Cao yang mana yang lo maksud. Pusing,ya?

Oh,ya bloodsin yang kukenal sangat membenci gay ternyata tahu boyband Fahrenheit!!! gosip baru nih...Secret

@all
e-book tuh ilegal nggak sih?
pada pake kompi kantor kecuali oom pur, nih tapi beliau meskipun pake flash pribadi ternyata pake jam kantor pula, terbukti dari jam postingnya yang seringkali pagi  Grin

menurut gue kenapa fantasi lokal sulit laku adalah minat baca yang rendah, n duit orang indo yang ngga seberapa.daripada beli buku orang indo memilih beli beras atao...rokok! terus propaganda fantasi luar yang gila-gilaan...mulai dari iklan di tipi, koran, n film yang nggak takut buang uang itu bikin genre lokal yang promosinya cuma bisa diliat di internet lakunya segitu-gitu aja.
terus bagi sebagian orang indo, fantasi lokal itu terlalu ajaib! Secara gue aja ga suka nonton Star Wars!Mendingan gue nonton Xena, beneran deh!

Legenda Naga?Hiro sama Masyumi itu bukan sih?Bayangin! dari gue SMA sampe kapan tuh nggak tamat-tamat kaya komik Topeng kaca yang ga pernah punya ending itu.Untung gue baca Legenda Naga pinjem temen kalo ga bisa bangkrut n ketergantungan kaya nonton sinetron stripping.

Ehmmmm gue ga begitu suka, tapi emang jauh lebih bagus daripada baca Naruto. Menurut gue, (jangan marah, bagi yang suka) Naruto adalah Manga dengan gambar paling berantakan yang pernah gue baca(kalah rapi ama sin-chan) dan itu ngeganggu ceritanya.Untung versi animenya lebih rapi.
Cerita pas scene Masyumi itu terlalu magical n cewek banget, kekuatan pikiran Masyumi didewakan?Uih....aneh.tapi settingnya bagus dan risetnya bagus, kalo nopel fantasi lokal mungkin kaya Goran pas scene di Cina-nya. tapi suasana di Goran lucu kalo di Legenda Naga lebih kuno, romantik dan mellow gitu...

@oom pur
Quote
Pengarang Fantasy (kita) punya kecenderungan menganggap remeh pelajaran mengarang, dan mau langsung 'jump' into bookwriting, karena terlanjur menganggap ide dan fantasynya sudah cukup untuk mewakili cerita yang ada di benaknya Smiley  Isn't that right? Jawab aja sendiri, hehehe,....

kan sekarang ada sekolah menulis?banyak penulis teenlit yang keluaran dari sana ato penulis FLP dari forum sharing lingkar pena? Tapi lucunya yang jadi penulis bestseller book ternyata andrea hirata, JK ROwling dan banyak lagi orang yang ga belajar secara formal...kasian.

oom pur pasti tau drama radio Brama Kumbara dkk yang dulu pernah membius masyarakat Indonesia. Aku masih balita waktu itu. Menurut gue cerita itu fantasi yang rapi banget n karena disampein lewat radio, bukan film fantasinya jadi lebih berasa buat pendengar yang bebas ngekhayalain jagoannya masing2.Niki Kosasih,penulisnya kalo ga salah.Kemanakah dia?
Logged
cheppy70
Kelasi
*
Offline Offline

Posts: 879


« Reply #2261 on: July 20, 2008, 09:13:54 pm »

@oom pur
Quote
Pengarang Fantasy (kita) punya kecenderungan menganggap remeh pelajaran mengarang, dan mau langsung 'jump' into bookwriting, karena terlanjur menganggap ide dan fantasynya sudah cukup untuk mewakili cerita yang ada di benaknya Smiley  Isn't that right? Jawab aja sendiri, hehehe,....

kan sekarang ada sekolah menulis?banyak penulis teenlit yang keluaran dari sana ato penulis FLP dari forum sharing lingkar pena? Tapi lucunya yang jadi penulis bestseller book ternyata andrea hirata, JK ROwling dan banyak lagi orang yang ga belajar secara formal...kasian.


Yup, penulis Ledgard pun konon adalah mantan ketua FLP cabang Yogya (eh kalo ga salah, liat review gue). Makanya para penulis fantasy pun jangan segan balajar terus,.....

Kata siapa JK Rowling kagak belajar menulis?
Logged

BloodSin
Chingu
**
Offline Offline

Posts: 1440



« Reply #2262 on: July 20, 2008, 11:46:55 pm »

Quote
... ga jadi deh, harus menahan diri utk tidak meladeni anak kecil...   Semoga belum ada yang baca 


ih payah kenapa diubah postingannya? gw belom baca! T______T

padahal dari kemaren2 gw udah sengaja mancing2 elu (dengan harapan kita bisa 'diskusi' bersama lagi Grin), keknya gw kudu ganti umpan nih


Quote
Mungkin semacam aspek WOW hanya terhadap dunia Fantasy yang diciptakannya. Aspek seperti itu kurang ada di dalam Candi Murca.


justru fantasi-fantasi lokal yg udah beredar itu kebanyakan pada ngandelin aspek WOW di bukunya, yang ane liat sih. malah payah di plot & karakterisasi. kebanyakan penulis fantasi indo itu punya pikiran kolot: yang namanya genre fantasi cuma penting di imajinasi. plot, gaya bahasa, karakterisasi, gak terlalu dipeduliin. elu punya imajinasi tentang sebuah dunia alternatif, elu terjemahkan dengan kata-kata ber-POV orang pertama/ketiga, dan jreng! Congratulation you're a fantasy writer already. Thumbs Up

nah kan, ternyata ente sudah mendukung pernyataan ane di atas dengan statement ini:
Quote
Pengarang Fantasy (kita) punya kecenderungan menganggap remeh pelajaran mengarang, dan mau langsung 'jump' into bookwriting, karena terlanjur menganggap ide dan fantasynya sudah cukup untuk mewakili cerita yang ada di benaknya   Isn't that right? Jawab aja sendiri, hehehe,....


Candi Murca (thanks koreksinya jun Grin), malah kurang di aspek WOW, gaya bahasa dilabel kuno, berarti plot & karakterisasinya bisa dianggap mumpuni donk? heheheh.. sebetulnya ada gak sih fantasi lokal yang kuat dan sejajar baik di setting, imajinasi, gaya bahasa, plot, karakterisasi? well kita tunggu tanggal mainnya. Smiley


Quote
Pada generasi pendahulu negeri kita (let's say saat jaman Majapahit atau Mataram), literasi fantasy datang dari tanah India melalui dua epos terkenalnya Mahabarata dan Ramayana, yang melahirkan kisah-kisah Pewayangan lokal yang khas dengan lakon-lakon non-pakem ciptaan dalang-dalang lokal.

Tapi, seperti sering gue bilang, kita kan memang sudah putus hubungan dengan budaya leluhur. jadi ga heran bila kita lebih menjiwai fantasy ala Barat atau Jepang. Dan apa yang kita hasilkan, tentu saja mencerminkan apa yang kita jiwai,... 


Lho? Shocked

berarti pada prinsipnya, indo emang gak pernah punya literasi orisinil kan? (maksudnya, kebudayaan/mitologi aseli.) kalo 'budaya leluhur' itu sendiri originnya dari tanah india, kenapa kita generasi hari ini jadi punya kewajiban buat melestarikan? toh literasi orang-orang majapahit jadul jaman dulu itu juga kena influence dari masuknya kebudayaan asing (india) di nusantara.

di sinetron-sinetron silat indo contohnya, pada pake setting jawa kuno & agama Islam (persis PG-nya om Pur), kalo dipikir-pikir kan Islam masuk indo dari saudagar-saudagar Arab, coba elu bayangin kalo seandainya saudagar-Saudagar Arab itu gak pernah dateng ke indonesia, indonesia bakal masih didominasi sama pengaruh hindu & Buddha. Atau mungkin Nasrani yg dateng dari Belanda & Portugis.

hari gini, giliran literasi barat & jepang yang masuk indo. dan banyak pengarang fantasi yg terpengaruh. kalo ngeliat kronologis di atas, seharusnya ini emang bisa diwajarkan, dan gak sepatutnya ada orang yang mencela generasi sekarang ini udah lupa sama akar budayanya dengan menulis fantasi bersetting barat. (gyahahahah ketauan banged gw lagi membela diri sendiri di sini Grin)

karena itu emang udah jadi 'budaya' kita sejak jaman primitif! menyerap, dan beradaptasi terhadap segala perubahan. sesungguhnya kita gak pernah ada niat buat sok kebarat-baratan kok.

(well lagipula yang gw liat terjadi di PG, dengan setting 'lokal'nya yg kental, malah jadi banyak pembaca yang kurang berkenan dan gak masuk selera, si hege dan si serpent aja udah ngomong terang-terangan, daku pun menyatakan hal yg sama waktu awal-awal baca PG Tongue--jadi selain urusan beradaptasi, ini emang masuk urusan selera juga sih, dan selera gak pernah bisa dibohongin)
Logged
BloodSin
Chingu
**
Offline Offline

Posts: 1440



« Reply #2263 on: July 21, 2008, 12:24:11 am »

Quote
Oh,ya bloodsin yang kukenal sangat membenci gay ternyata tahu boyband Fahrenheit!!! gosip baru nih...

ahhh, siapa bilang eke benci ama gay? eke mah, ama siapapun hayo-hayo aja kalo udah kepepet mah Embarrassed

Quote
terus bagi sebagian orang indo, fantasi lokal itu terlalu ajaib! Secara gue aja ga suka nonton Star Wars!Mendingan gue nonton Xena, beneran deh!

bukannya Xena masuk fantasi jugak? Cheesy


Quote
Legenda Naga?Hiro sama Masyumi itu bukan sih?Bayangin! dari gue SMA sampe kapan tuh nggak tamat-tamat kaya komik Topeng kaca yang ga pernah punya ending itu.Untung gue baca Legenda Naga pinjem temen kalo ga bisa bangkrut n ketergantungan kaya nonton sinetron stripping.

Legenda Naga itu seinget gw tokoh jagoannya 'Anak Naga' sama 'Puteri Naga', nama aseli dua karakter itu gw malah lupa Cheesy

oh my, jangan bandingin Legenda Naga ama sinetron stripping >__<

Legenda Naga, makin jauh plotnya makin kompleks dan seru,
Sinetron Stripping, makin jauh plotnya makin absurd, konyol dan tolol. Thumbs Down
Logged
juunishi master
Chingu
**
Offline Offline

Posts: 1713


« Reply #2264 on: July 21, 2008, 08:08:29 am »

Legenda Naga itu seinget gw tokoh jagoannya 'Anak Naga' sama 'Puteri Naga', nama aseli dua karakter itu gw malah lupa Cheesy
Thumbs Down

Dewi Naga. Namanya tu Shiro ama Masumi ato siapa lah gitu. Gw jg lupa. Dulu baca tapi lama2 kok agak gak berhasil ngikutin cerita itu.

Fantasi lokal terlalu ajaib? Maksudnya yg settingnya semacam Majapahit gitu? Kalo yg skrg2 ini keluar mnrt gw sih gak seajaib itu jg.

Hehe.
Logged

"Boku wa... koko ni iru!"
MakMak
Chingu
**
Offline Offline

Posts: 1219


Choooo Denji.... Yo-Yooo!!!!


« Reply #2265 on: July 21, 2008, 08:25:33 am »


Quote
Pada generasi pendahulu negeri kita (let's say saat jaman Majapahit atau Mataram), literasi fantasy datang dari tanah India melalui dua epos terkenalnya Mahabarata dan Ramayana, yang melahirkan kisah-kisah Pewayangan lokal yang khas dengan lakon-lakon non-pakem ciptaan dalang-dalang lokal.

Tapi, seperti sering gue bilang, kita kan memang sudah putus hubungan dengan budaya leluhur. jadi ga heran bila kita lebih menjiwai fantasy ala Barat atau Jepang. Dan apa yang kita hasilkan, tentu saja mencerminkan apa yang kita jiwai,... 

Lho? Shocked

berarti pada prinsipnya, indo emang gak pernah punya literasi orisinil kan? (maksudnya, kebudayaan/mitologi aseli.) kalo 'budaya leluhur' itu sendiri originnya dari tanah india, kenapa kita generasi hari ini jadi punya kewajiban buat melestarikan? toh literasi orang-orang majapahit jadul jaman dulu itu juga kena influence dari masuknya kebudayaan asing (india) di nusantara.


ini dikarenakan Indonesia tidak memiliki tulisan asli. ingat Indonesia berpindah dari jaman pra-sejarah menjadi jaman sejarah karena tulisan dan huruf Sansekerta yang masuk dari India (pada jaman hindu-budha). setelah itu, baru Aji Saka membuat huruf jawa.

artinya, klo kmu nyari literatur indonesia sebelum bahasa sansekerta masuk, tidak bakal ada........
Literatur-2 pada jaman hindu budha kebanyakan adalah cerita perwayangan, dan kitab suci. karena ada beberapa hal pada wayang india yang tidak sesuai dengan adat lokal, para Mpu, mengedit cerita tersebut dan disesuaikan dengan adat setempat.

misal mahabarata India mengatakan kalau Drupadi poliandri dengan kelima pandawa. sedang kan di sini, drupadi itu istri dari Yudhistira (Puntadewa-Java Version-). Pusaka Yudhistira di Mahabarata India adalah tombak. Sedangkan disini, tombak bagi yudhistira hanyalah sebuah senjata. pusakanya adalah kitab Kalimasada yang isinya adalah kebenaran semesta. Dalam lakon Petruk dadi ratu (Petruk jadi raja), Petruk berhasil mengalahkan sebuah kerajaan seorang diri karena meminjam Kitab Kalimasada dari Yudhistira.

(Kok aku malah cerita wayang gini Question Question Question)
« Last Edit: July 21, 2008, 08:27:47 am by MakMak » Logged

lagi baca Hourou Musuko.
manga tentang lika-liku kehidupan cross dresser. sangat menarik.

visit: http://visnovtranslation.blogspot.com - for unofficial visual novel translation

visit: http://ninou-maxmax.blogspot.com/ - for my stories documentation so far
fr3d
Kelasi
*
Offline Offline

Posts: 702



« Reply #2266 on: July 21, 2008, 09:49:53 am »

What a long weekend!? Gw sampe ketinggalan 3 halaman! Shocked

Bingung mau mulai reply dari mana... Cheesy

Quote
Menurut gw bisa!!! Eragon itu hrsnya gak jd terkenal karena penulisnya masih muda! Ceritanya terlalu mirip Star Wars, konsep penunggang naga gak baru2 amat...
Konsepnya memang engga baru, tapi dia berhasil 'bercerita' dengan baik. Orang sini pandai mengkonsep, tapi soal bercerita gw rasa masi setingkat dibawah Eragon sekali pun. Pasti ada orang sini yang jago, tp secara mayoritas masih dikit jumlahnya, apalagi di bidang fantasy. Penerbit dan pembaca udah ga mendukung lagi karena mereka udah kapok nyoba2 beli karya lokal, karena pendahulu kita udah terlanjur mengecewakan.  Sad

Paolini dan Eragon-nya ya?
Udah jelas banget, super duper terang2an deh nyontek dari banyak karya orang lain. Roll Eyes
Tapi yang gw suka dari si Paolini adalah dia tertantang untuk menulis lebih baik lagi di buku berikutnya (Eldest) dan meminimalisir faktor contek2an itu. Coba aja kalau dia tetep ignorant! Hammer


ada yang punya story hebat, tapi lemah dalam storytelling. ada yang pintar dalam storytelling, tapi storynya lemah.

Aaah... itulah sebabnya proyek gw ditulis 2 orang. Mudah2an sukses menanggulangi kedua aspek itu... Big Grin


Kesimpulannya, kecuali orang2 iseng sesama komunitas penulis yang pengen 'ngecek' dah sejauh mana kemampuan saingan sesama penulis lokal, udah nyaris ga ada orang yang punya pikiran untuk membeli fantasi lokal.

Koq itu gw banget yah?!? Jadi malu... Embarrassed


Kata siapa JK Rowling kagak belajar menulis?

Rowling pernah kuliah sastra perancis bukan? Huh?


Btw, mana nih review2 buku yang ramai dijanjikan 2 minggu lalu? Smiley

Gw udah selesai baca Sang Penandai. Akhirnya... Cheesy
Komen resminya besok atau lusa baru di-post, ok!


Quote
Oh,ya bloodsin yang kukenal sangat membenci gay ternyata tahu boyband Fahrenheit!!! gosip baru nih...

ahhh, siapa bilang eke benci ama gay? eke mah, ama siapapun hayo-hayo aja kalo udah kepepet mah Embarrassed

LOL LOL LOL


baru dateng lagi setelah keseleo di pergelangan kaki seminggu Cry

@all
e-book tuh ilegal nggak sih?

Wah, mudah2an sekarang udah sembuh... Thumbs Up

Piet, ya jelas lah, e-book itu ilegal, kecuali orang itu beli/pesen langsung ke penerbit atau toko buku online, dan yang melakukan ini palingan cuma 10% pembaca totalnya.


Kok aku malah cerita wayang gini Question Question Question

Mak, gw suka cerita wayang, khususnya yang mahabarata itu.
Tapi, berhubung belum pernah menyentuh naskah cerita lengkapnya, selama ini sumber infonya cuma dari wiki atau encarta... Grin
« Last Edit: July 21, 2008, 09:54:24 am by fr3d » Logged
juunishi master
Chingu
**
Offline Offline

Posts: 1713


« Reply #2267 on: July 21, 2008, 10:21:25 am »

Yg sastra Perancis itu bukannya Andrea Hirata? J.K. Rowling mah setahu gw dulu sekretaris.

CMIIW.

Hehe.
Logged

"Boku wa... koko ni iru!"
cheppy70
Kelasi
*
Offline Offline

Posts: 879


« Reply #2268 on: July 21, 2008, 10:30:13 am »


Quote
Mungkin semacam aspek WOW hanya terhadap dunia Fantasy yang diciptakannya. Aspek seperti itu kurang ada di dalam Candi Murca.

justru fantasi-fantasi lokal yg udah beredar itu kebanyakan pada ngandelin aspek WOW di bukunya, yang ane liat sih. malah payah di plot & karakterisasi. kebanyakan penulis fantasi indo itu punya pikiran kolot: yang namanya genre fantasi cuma penting di imajinasi. plot, gaya bahasa, karakterisasi, gak terlalu dipeduliin. elu punya imajinasi tentang sebuah dunia alternatif, elu terjemahkan dengan kata-kata ber-POV orang pertama/ketiga, dan jreng! Congratulation you're a fantasy writer already. Thumbs Up

Dan, aspek WOW itu ternyata gagal, atau kurang WOW, semata-mata karena bangunan settingnya goyang Smiley . Dan memang harus dibedain antara aspek WOW ini dengan plot & karakterisasi. Aspek WOW cuma bicara masalah setting, kayak lo bangun rumah dengan arsitektur keren, dengan segala isinya yg hi-tech yang bikin elo terkagum-kagum selama satu jam dua jam pertama (tergantung besarnya rumah,... hehehe).

Tapi Plot dan Karakterisasi adalah apa yg bisa elo kerjain di rumah itu, yang dapat membuat elo betah berhari-hari, bertahun-tahun di dalamnya, dengan sejumlah alasan 'kenapa'.

Quote
Candi Murca (thanks koreksinya jun Grin), malah kurang di aspek WOW, gaya bahasa dilabel kuno, berarti plot & karakterisasinya bisa dianggap mumpuni donk? heheheh.. sebetulnya ada gak sih fantasi lokal yang kuat dan sejajar baik di setting, imajinasi, gaya bahasa, plot, karakterisasi? well kita tunggu tanggal mainnya. Smiley

Bener sih, plot dan karakterisasi memang mumpuni, koq. Hiya ya, saat ini belum ada the ultimate Fantasy, mari kita tunggu Smiley

Quote
Quote
Pada generasi pendahulu negeri kita (let's say saat jaman Majapahit atau Mataram), literasi fantasy datang dari tanah India melalui dua epos terkenalnya Mahabarata dan Ramayana, yang melahirkan kisah-kisah Pewayangan lokal yang khas dengan lakon-lakon non-pakem ciptaan dalang-dalang lokal.

Tapi, seperti sering gue bilang, kita kan memang sudah putus hubungan dengan budaya leluhur. jadi ga heran bila kita lebih menjiwai fantasy ala Barat atau Jepang. Dan apa yang kita hasilkan, tentu saja mencerminkan apa yang kita jiwai,... 

Lho? Shocked

berarti pada prinsipnya, indo emang gak pernah punya literasi orisinil kan? (maksudnya, kebudayaan/mitologi aseli.) kalo 'budaya leluhur' itu sendiri originnya dari tanah india,

He he, kenapa pukul rata, gitu? Namanya kebudayaan, pastilah merupakan suatu kulminasi dari berbagai pengaruh. Literasi orisinil, rasanya banyak. Budaya bertutur Indonesia melahirkan banyak sekali kisah legenda yang bersumber dari peristiwa-peristiwa di tanah air yang diolah menurut kadar kemampuan fantasi rakyat saat itu. Contohnya legenda Tangkuban Perahu (Sangkuriang), Candi Prambanan, La Galigo.

Kemampuan kita menyerap cerita epos dari India dan merevitalisasi kembali sehingga muncul berbagai format (wayang kulit, wayang golek, wayang tari), yang bahkan menjadikan seolah-olah kejadian Bharata Yudha itu berlangsung di tanah Jawa sendiri  Tongue, itu justru merupakan hasil karya budaya yang levelnya tinggi. Bayangin dari cerita, muncul tarian yang format dan filosofinya jauh lebih dalem & rumit. Di India sendiri malah gak terbentuk sejauh itu.

Quote
kenapa kita generasi hari ini jadi punya kewajiban buat melestarikan? toh literasi orang-orang majapahit jadul jaman dulu itu juga kena influence dari masuknya kebudayaan asing (india) di nusantara.

Ini dua masalah yang jawabannya berbeda Smiley

Dalam hal influence dari India, yang sudah terbukti adalah terjadinya transformasi cerita asal menjadi bentuk kreativitas baru, baik berupa seni, maupun fiksi-fiksi baru berupa lakon carangan yang tidak ada dalam naskah aslinya. Transformasi ini sangat jauh berbeda sifatnya dengan apa yang kita lakukan sekarang. Pada jaman dulu, mah, istilah kata budaya kita nggak 'ngalah' sama budaya luar, melainkan terjadi proses penyerapan, budaya asli kita jadi diperkaya, dan diperkuat. Ciri khasnya, ada nilai tambah dari penyerapan itu, misalnya menyusupnya nilai-nilai kehidupan tradisi lokal dalam fiksi yang diciptakan. Salah satu contoh yang terkenal, kalau terkait pewayangan adalah terciptanya tokoh-tokoh Punakawan (Semar, Petruk, Gareng, Bagong), yang di versi Indianya aja gak ada, tapi begitu diciptakan oleh orang-orang kita, mereka mampu menjadi tokoh dalam Mahabarata versi lokal yang abadi menembus jaman. Atau lakon-lakon yang melibatkan Jimat "Kalimasada", yang jelas-jelas merupakan pengaruh dari ajaran Islam, yang diintrodusir oleh Sunan Kalijaga dalam seni pewayangan.

Nah, Soal yg katanya warisan budaya, kenapa kita wajib melestarikan? Pertama-tama musti dijabarkan dulu APANYA yg wajib dilestarikan?

Kalo menurut gue sih, kita udah meninggalkan semua aspek budaya lokal kita secara hakiki, sehingga ga ada lagi alasan yang mewajibkan kita melestarikannya. Hehehehe,.... Practically, bangsa Indonesia saat ini adalah sebuah bangsa yang sedang mentrasformasikan dirinya menjadi bangsa Hollywood (bukan otomatis jadi bangsa Amerika), alias bangsa global sesuai yang disefinisikan di media-media dunia.

Ini situasi yang sangat jauh berbeda dengan masa lalu, dimana budaya asinglah yang terserap untuk memperkaya budaya lokal. Situasi kita sekarang, kitalah yang mencair (disolve) untuk bergabung dalam budaya global. Kenapa? Karena kita 'kalah' budaya. Kenapa kalah budaya? Karena kita semua sudah meninggalkan budaya lokal kita, tumbuh menjadi bangsa yang 'a-kultural' alias gak memiliki budaya lagi (so jangan heran bila dalam aspek kehidupan sehari-hari, kita menemukan banyak sekali anomali dalam masyarakat!)

Jadi salah aja, jika para tetua meminta generasi muda melestarikan warisan budaya Indonesia. Warisan yang mana? Saat ini yg disebut sebagai budaya lokal, practically cuman 'bahasa daerah', dan sedikit adat istiadat yang masih dijalankan oleh keluarga (saat kawinan, misalnya Smiley. Tapi nilai-nilainya udah nggak diyakini dan dipercayai lagi sebagai sesuatu yang perlu dilestarikan Sad. So, kehilangan budaya, memang sudah menjadi nasib kita, mo cepat atau lambat. Mungkin kalo mau contoh Indonesia di masa depan, mirip kayak warga Singapura sekarang ini, yang gak punya budaya jelas (karena udah pada ninggalin budaya lokal China, India dan Melayu-nya), kemudian sibuk menganggap diri berbudaya Barat.

Nah, yang menjadi pertanyaan buat kita sekarang ini, kita (Indonesia) mau yang mana?

Saya melihatnya bukan lagi pilihan-pilihan harga mati dari para tetua, yang kalo gak kita laksanakan akan bikin kita kuwalat. Saya ngeliatnya semata aspek strategis buat masa depan kita aja.

Di saat batas antar bangsa menyatu, kita nggak akan punya nilai kalau kita ngga punya keunikan yang bisa kita tawarkan. Apa anehnya ngeliat orang Indonesia 'meniru' performance hip-hop sepersis-persisnya? Soalnya remaja Iran, remaja Bangladesh, ato remaja India, semua bisa melakukan peniruan yang sama. Dan kita gak akan mampu masuk status sebagai 'creator', paling 'impersonator', kenapa? Karena jaringan bisnisnya (blood-nya) akan tetap dikuasai oleh mereka (Ini juga yang ngebedain perluasan Budaya era dulu dengan sekarang).

Nah, pada saat kita menguasai sesuatu yang unik, yg ngga dikuasai oleh bangsa lain (istilahnya, Local Genius, atau Local Ingenuity), kita punya daya jual dan daya tawar yang lebih tinggi. Apa yang unik itu? Ya budaya lokal yang dulu kita punyai. Semakin tinggi penguasaan kita atas budaya lokal, semakin kuat daya saing kita dalam kancah global. 

Saat ini kita kan bisa mikir, bila novel-novel Fantasy kita diterjemahkan ke dalam bahasa asing, apakah akan punya appeal yang sama dengan novel asing yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia? Apa menariknya setting yang kita tawarkan di mata pembaca asing? Kalo kita cuma 'niru', rasanya ngga ada yg menarik sebab semuanya udah pernah ada di sana (been there, done that  Roll Eyes). Dan lagi, gue rasakan sih dalam setiap peniruan, selalu ketara ada 'soul' yang gak dapet.

Tapi kalo kita padukan kreativitas dengan setting yang 'beyond' their knowledge, kita akan muncul sebagai kekuatan yang diperhitungkan dalam khasanah Fantasy global (keren gak pidato gue? heheh)

Kira-kira gitu deh pendapat gue atas topik 'berat' ini,... Smiley

Yg penting sekarang, mah: ayo, belajar menulis lagi terus!

Salam,


FA Purawan
Logged

Alpha_Serpentwitch
Kelasi
*
Offline Offline

Posts: 612


Serpent Pro


WWW
« Reply #2269 on: July 21, 2008, 12:12:23 pm »

Busettt !!! Ban Kok tiba2 udah sebanyak ini?Huh?

Quote
ih payah kenapa diubah postingannya? gw belom baca! T______T

padahal dari kemaren2 gw udah sengaja mancing2 elu (dengan harapan kita bisa 'diskusi' bersama lagi ), keknya gw kudu ganti umpan nih

Udeh tau ^^; Setelah posting makian emosional baru gw tersadar, wah, gw udah masuk jebakannya Bloodsin neh. Nyaris aja komentar gw jadi ledakan hot topic minggu ini. Bisa2 Bloodsin tertawa sementara gw menerima segudang amplop merah howler Cheesy

Quote
Kata siapa JK Rowling kagak belajar menulis?
Quote
Rowling pernah kuliah sastra perancis bukan?


Belajar menulis disini yang dimaksud gw rasa belajar plotting, membangun kerangka cerita, belajar berimajinasi, dan belajar menyampaikan imajinasi itu dengan luwes dan enak dibaca (secara khusus). Belajar sastra emangnya langsung otomatis bisa bercerita dengan ajaib?

Quote
Quote
@all
e-book tuh ilegal nggak sih?

Piet, ya jelas lah, e-book itu ilegal, kecuali orang itu beli/pesen langsung ke penerbit atau toko buku online, dan yang melakukan ini palingan cuma 10% pembaca totalnya.

Orang2 yang menjual tulisannya sendiri di internet, bayar lewat Paypal untuk bisa baca, termasuk e-book juga toh? Kl yang ky gitu legal kan? Soalnya arah kemajuan teknologi mulai bergerak ke arah itu. Irit soalnya, ga perlu modal cetak, hanya modal kompie dan internet bisa berjualan.

Quote
Kok aku malah cerita wayang gini   


Kl aku sih baca novel Ramayana karya orang Bali. Jujur sih terpaksa gara2 tema tugas akhir gw ngangkat cerita ramayana. Bagian depannya bagai baca silsilah keluarga -__- gile, mulai setengah buku ke atas baru mulai berasa bagus. Bab2 awal ngantuk abis bacanya.  refuse

Quote
Tapi kalo kita padukan kreativitas dengan setting yang 'beyond' their knowledge, kita akan muncul sebagai kekuatan yang diperhitungkan dalam khasanah Fantasy global (keren gak pidato gue? heheh)

Gila terlalu berat konteksnya, ga sanggup ngikutin  Question

Emm, sekalian ngungkit dikit, masalah keterbelakangan fantasy indonesia yang sering gw bicarakan.

Ga seluruhnya karena pembaca ga mau baca sih, juga bukan karena penulis sini sepenuhnya engga kompeten. Wong para pembaca aja ga dikasi kesempatan untuk membaca karya lokal. Karena buku lokal, khususnya fantasi, di toko buku itu dianak tirikan, diselipin di tempet yang engga keliatan dalam jumlah yang sangat sedikit. Serius, bulan ini gw dah bolak balik di gramed dan TGA di 3 mal di Jakarta,khusus utk nyari,(yang artinya radar ON) tapi ga melihat satu pun judul buku yang di review disini -__- Coba, yang emang niat nyari aja ga ketemu, gmn yang cuma lewat?? Main area di bookstore di penuhi buku luar semua. Coba kalau ada satu main area toko buku yang mencolok, berisi kumpulan buku lokal seperti Zauri, D.O.Utopia, dan lain2. Gw optimis penjualan akan meningkat jauh seiring dengan awareness pembaca yang meningkat.

Tak kenal maka tak sayang. Ini boro2 di kenal, terlihat ujung bukunya aja kaga >.< gimana orang mau suka? Jadi bukan karena pembaca ga mau membeli, tapi pembaca bahkan ga dikasi kesempatan untuk membeli. Awareness tentang keberadaan buku lokal hanya ada di sesama komunitas penulis aja. Selama pembaca ga dikasi kesempatan untuk 'aware', selamanya mereka akan jadi orang yang 'awam' terhadap buku lokal.
Logged

Pages:  1 ... 223 224 225 226 [227] 228 229 230 231 ... 944   Go Up
  Print  
 
Jump to:  

Powered by MySQL Powered by PHP Powered by SMF 1.1.11 | SMF © 2006-2009, Simple Machines LLC Valid XHTML 1.0! Valid CSS!
Page created in 0.292 seconds with 22 queries. (Pretty URLs adds 0.001s, 1q)