SANG PENANDAI(Tere-Liye; Serambi; Cetakan I, Desember 2006; 365 hlm.)Sebelum mulai, gw kasih sinopsis singkat dulu ya, khususnya buat yang belum baca, berhubung di cover belakang bukunya emang gak ada sinopsisnya, dan malah diisi sama endorsement2.
Sebenernya kalau gak ada endorsement konyol dari Pak Faisal Basri justru bakalan ngejual banget deh back cover itu. Lagian bikin keki sih, koq bisa-bisanya orang yang gak pernah baca satu pun novel sampe selesai endorsement-nya malah dimuat?! Ngerti apaan dia tentang novel kalau satu pun gak ada yang selesai dibaca?

Jadi, apa isi novel Sang Penandai sebenarnya?

Ceritanya, Jim si tokoh utama ditinggal mati kekasihnya, Nayla, dengan tiba-tiba. Dia lalu dikunjungi oleh seorang tua misterius nan kekal bernama Sang Penandai. Sang Penandai “menantang” Jim untuk merajut/menyelesaikan dongeng cintanya sendiri dengan cara menjadi seorang “pencinta sejati” (whatever that means

). Akhirnya, Jim ikut bersama Armada Kota Terapung pergi menjelajahi samudra nan luas, meniti petualangan demi petualangan, untuk menemukan Tanah Harapan.
Suatu kisah adventure/journey yang kedengarannya sangat menarik dan indah, kan?
Benar banget! Kebayang gak jadinya gimana kalau Alchemist-nya Paulo Coelho digabung sama Voyage of the Dawn Treader (Narnia 5)-nya C.S. Lewis? Pasti bagus banget!

Apalagi Tere-Liye memulai dongengnya dengan menggunakan kalimat2 yang ciamik.

Paragraf pertama model Sang Penandai emang sering dipakai oleh novel2 non-fantasi (misalnya di buku2-nya Nicholas Sparks) atau paling gak di novel fantasi luar, tapi belum pernah gw temukan di novel fantasi lokal yang udah terbit dan udah pernah gw baca. Bener2 menarik deh, kalau gak mau dibilang menggugah!
Namun, jangan pada ketipu!

Karena kenyataannya, bagian paling bagus dari seluruh novel Sang Penandai itu emang cuma di paragraf pertamanya aja!
Perlahan-lahan, tapi pasti, seluruh isi buku itu menjadi semakin aneh, mengada-ada, membosankan, bahkan sampai ke taraf bikin ilpil, apalagi sejak munculnya karakter Sang Penandai itu sendiri!
Alhasil, mencapai setengahnya Alchemist atau Dawn Treader aja kagak!

Hmm... Separah itukah?

Gw coba jabarin alasan gw satu2 ya:
(Btw, komen kali ini cenderung subyektif karena emang agak susah kalau mau obyektif...

)
Pertama, tentang karakter Sang Penandai.
Gayanya sangat annoying.

Gak tau deh Tere-Liye pake template tokoh apa buat karakter ini. Tapi yang jelas, boro-boro berperan sebagai karakter yang bijak, malah berkesan sotoy, ngeyel, dan kalau ngomong bertele-tele, terus ujung2nya gak ngejawab pertanyaan!
Yang ada di bayangan gw pertama kali tentang Sang Penandai ini adalah Dumbledore (yang juga emang agak jail), tapi setelah si Sang Penandai cuap-cuap lebih banyak lagi, yang kebayang malahan jadi si kakek kura-kura porno yang ada di Dragon Ball! (gw lupa siapa namanya)
Dan mungkin karena desperate (gak ada calon korban yang lain?

), Sang Penandai juga kerasa agak memaksakan kehendaknya ke Jim, yakni supaya Jim pergi merajut dongeng cintanya.
Akhirnya, si kakek sotoy bukannya membuat Jim mengubah takdirnya sendiri, malahan mengubah takdir Jim sesuai dengan versi keinginannya.

Buktinya, di cerita ada kejadian Jim lagi dikejar para pembunuh bayaran. Pada saat itu, Jim belum punya keinginan untuk pergi merajut dongeng seperti yang diminta Sang Penandai. Nah, si Jim seharusnya mati pada adegan itu, tapi tiba-tiba Sang Penandai muncul. Alih-alih berusaha mendorong Jim mengusahakan keselamatannya sendiri, Sang Penandai malah membunuhi para pembunuh bayaran itu untuk Jim!
Contoh lain (di hal 69), Sang Penandai bilang gini: “Ketahuilah, aku hanya muncul tiga kali untuk setiap manusia yang terpilih menjalani dongengnya, Jim.... Sayang, sikap keras kepalamu membuat tiga pertemuan itu terbuang hanya untuk penjelasan... dst.”
Jadi, sesuai SOP-nya Sang Penandai, Jim harusnya udah gak punya kesempatan lagi.
Tapi, di halaman 70, Sang Penandai malah bilang gini: “.... Maka aku akan membuat penyesuaian kecil untukmu. Kuberikan kau kesempatan keempat untuk bertemu denganku.... Kapan pun kau membutuhkan aku, panggillah!”
Tuh! Tokoh "demigod" yang seneng ikut campur takdir orang lain banget gak sih!?!

Tentang tokoh Sang Penandai ini, pada akhirnya yang bagus cuma cara munculnya doang, yaitu pake bawa2 ribuan capung. Pun begitu, cara itu gak ada maksud ataupun penjelasannya sama sekali, atau dengan kata lain, keliatannya emang cuma buat keren2 aja.
Kedua, tentang gaya bahasa, gaya narasi, teknik penulisan, dan kerabat2nya.
Agak tricky nih kalau mau menilai ini, karena penulis bisa aja selalu berdalil kalau dia sedang bereksperimental dengan gaya bahasa tulisannya (yang niatnya nyastra kali yee?

).
Tapi, karena gw sangat mencintai faktor gaya bahasa, gw harus protes keras!

Hal2 terkait gaya bahasa yang terpaksa harus gw permasalahkan, a.l.:
a. Tentang kalimat2 pendek
Tere-Liye keliatannya emang suka banget sama kalimat pendek (kalimat gak berstruktur lengkap).
Gak ada masalah!
Lagian ini ternyata dipake pula sebagai media untuk mempermainkan emosi pembaca.
Tapi sayangnya, penggunaan kalimat2 pendek ini (yang ada di 90% bagian novelnya) hampir setengahnya kerasa kurang pas dan gagal. Gak dapet deh maksudnya apaan.
Contoh dari novel:
# Jim menatap Pate lamat-lamat. Tidak mengerti, apa masalahnya kalau muka dan fisik Pate tidak seperti orang-orang benua utara lainnya? Kembali menatap guratan tersebut. Lantas memegang lengan Pate, “Maukah kau mengajariku?” (hal 93) #
Bingung kan!
b. Tentang kalimat pengandaian/kiasan yang gak pas atau aneh
Contoh 1: # Jim mencicit seperti tikus dalam perangkap. (hal 62) #
Apa coba bagusnya kalimat itu?

Jim mencicit aja udah jelek, apalagi mencicit seperti tikus dalam perangkap!
Kebayang gak kayak apaan?
Contoh 2: # Jim patah-patah mendekat. (hal 147) #
Model gerakan robot gitu?

Contoh 3: # Jim terdiam melihat siluet pandangan di hadapannya. .... Gadis itu menatap ke gemerincik beningnya air sungai. Mukanya terlihat separuh. Dan hati Jim seketika
bergemerincik separuhnya. (hal 178) #
Please deh ah!

Contoh 4: # Ajaib! Badai terdahsyat yang pernah ada di lautan itu juga mereda begitu saja.
Seperti seorang anak yang diberi permen. (hal 240) #
Kalau ada guru Bahasa Indonesia yang bilang pengandaian itu bener, pasti deh bakalan gw kasih permen!

Contoh 5: # Matanya berdenting air mata! (hal 272) #
Maksudnya apa ya?

c. (Yang ini subyektif) Tentang kalimat2 narasi (bukan dialog) yang menyuruh2 pembaca
Gw ngerasa keganggu banget sama kalimat2 narasi macam itu!
Contohnya model begini:
#
Lihatlah dia sekarang kehilangan harta paling berharga yang pernah dimilikinya. # (hal 37)
Terus masih di halaman yang sama ada juga kalimat narasi sok tau kayak gini:
#
Bukankah sudah dikatakan di awal kisah ini? Hari itu adalah hari teraneh yang pernah ada di kota tersebut. #
Jadi sebenernya mau bercerita apa ngasih2 instruksi sih?!?

Kalau cuma satu dua kali sih bisa ditolerir, tapi ini berkali-kali! Lebih dari dua puluh kali ada mungkin!
(*geram!*)
d. Penggunaan font italic juga terlalu sering, terkadang bahkan for no good reason.
Ketiga, tentang plot.
Plot2 di dalam cerita, seperti kunjungan ke Puncak Adam, bertemu kura-kura raksasa, dan keberadaan barikade perawan, hampir gak ada gunanya sama sekali dalam keseluruhan bangunan plot utama. Jelas sekali dibuat-buat entah demi memperpanjang cerita atau mencari alasan guna menutupi lubang plot lain...

Terus, ada juga sejumlah hal berkaitan plot yang patut dipertanyakan, misalnya:
a. Kenapa Yang Zhuyi menyerang Armada Kota Terapung? Alasannya apa? Apa armada itu bawa banyak barang berharga yang worth it untuk dirampok dengan cara sekolosal itu?
Kalau iya, gak ada penjelasannya tuh!
Yang Zhuyi malah cuma keliatan kayak bajak laut yang kurang kerjaan aja, iseng-iseng berhadiah menghancurkan armada kerajaan benua utara. Kepengen nambah experience dan jadi tenar kali yee?

b. Lagian juga, tujuan Armada Kota Terapung menemukan Tanah Harapan apa pula?
Gak jelas.
Kalau cuma ekspedisi penjelajahan untuk mencari daerah baru (seperti yang akhirnya terjadi di ending, yakni cuma mampir terus langsung pulang lagi), mah gak perlu serame-rame itu, sampai bawa 40 kapal berisi 25.000 orang lebih! Kecuali niatnya emang buat perang atau kolonisasi, barulah wajar bawa banyak2 pasukan.
c. Laksamana Ramirez (salah satu tokoh pendukung yang penting di dalam cerita) diceritakan dulunya kriminal yang membunuh 5 orang. Setelah bebas, dia pergi ibukota. Anehnya, dia tiba-tiba bisa jadi seorang laksamana di ibukota, malahan sampe bisa disuruh memimpin Armada Kota Terapung segala!
Penjelasannya apaan nih?
Keempat, tentang setting.
Kalau dari aspek sejarah, geografis, kelogisan setting, cerita Sang Penandai ini jelas2 gak terjadi di bumi.
Misalnya aja dari perang lautnya yang masif dan cenderung gak logis, atau juga dari posisi benua2 yang sesuka-sukanya penulis.
Nah, yang jadi pertanyaan, kenapa nama2 istilah "berbau" bumi masih dipake juga seenaknya tanpa ada penjelasan apa pun? (Arab, Buddha, dll.)
Jadi niatnya itu cerita di bumi atau bukan?
Kelima, tentang ending.
Gw harus menyatakan kalau seluruh petualangan sepanjang novel itu serasa gak ada artinya sama sekali di ending karena Jim (si tokoh utama kita) gak berhasil atau gagal menemukan jawaban atas pertanyaannya, dan jawaban yang dia butuhkan itu justru malah dikasih tau dalam bentuk kuliah oleh si pemberi pertanyaan itu sendiri!
BYAAAR PET!

Sia-sia.
Sang Penandai dan sang penulis boleh jadi mengatakan kalau Jim berhasil berdamai dengan masa lalunya, tapi kenyataannya, Jim sebenernya tidak berhasil, karena dia justru
dipaksa berdamai dan
dinyatakan berdamai oleh Sang Penandai...
Payah.
Lah, masak sih novel ini gak ada bagus2nya?

Ada koq. Selain yang udah gw sebut di atas, Tere-Liye ternyata juga seneng menggunakan kata-kata yang kurang umum, misalnya jerih (digunakan tanpa akhiran payah), mengkal, dll. Dan ini sebenernya bagus.
Terus jangan lupa juga, novel yang rada anti-Romeo & Juliet ini ternyata punya kalimat terakhir yang bagus. Kalimat itu intinya mengajak pembaca untuk melangkah ke depan dengan tegar. Very nice!

Phew...
Dan, untuk menutup sekaligus menyimpulkan komen ini, gw hanya akan meminjam kalimat dari halaman 292 dan mengucapkannya dengan lantang, “Cerita itu terlalu dibesar-besarkan.”
