;

Welcome, Guest. Please login or register.
Did you miss your activation email?

Username: Password:
Pages: 1 ... 7 8 9 10 [11] 12 13 14 15   Go Down

Author Topic: [22 DES 2011] HAFALAN SHALAT DELISA THE MOVIE (Nirina, Reza R, Chantiq, Fathir)  (Read 14435 times)

Oncomoncom

  • Penyelam Unggul
  • *****
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 6678

PREMIER hari ini, ada beritanya ga ya?!
Yang udah nonton, review ya.
Gue ga bisa nonton dalam waktu dekat.
Tapi penasaran abis...  [worried] [worried] :'(
Logged
Marshanda (dulu) :Kalo ortu saya pernah ngelakuin hal yg melakui saya, disaat yg sama mreka pikir mreka sdg usaha melakukan yg terbaik. #respectparents

Kini kalimat bijak itu menjadi sebuah ironi drama kehidupan Marshanda.... Ckckckc

Oncomoncom

  • Penyelam Unggul
  • *****
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 6678

Hari ini pemain & sutradara Hafalan Shalat DELISA akan ada di Mega Bekasi XXI dari jam 12:00 s/d selesai. Bisa nonton filmnya sekalian ketemu langsung sama pemainnya :) Buat yang beruntung juga bisa dapat kalung ‘D untuk Delisa’ & novel Hafalan Shalat DELISA :) DAAANNNNN ada 1 kabar baik lagi : buat 25 pemenang quiz yang kemarin ini tiket sudah sudah bisa diambil mulai hari ini, jangan lupa bawa foto copy KTP nya ya...
Logged
Marshanda (dulu) :Kalo ortu saya pernah ngelakuin hal yg melakui saya, disaat yg sama mreka pikir mreka sdg usaha melakukan yg terbaik. #respectparents

Kini kalimat bijak itu menjadi sebuah ironi drama kehidupan Marshanda.... Ckckckc

Musafira

  • Chingu
  • **
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 1607

Pengen bgt nonton film ini .....

ngeliat cuplikannya aja da  :'( :'( :'(
Logged

BIDADARI 2

  • Senior Sailor
  • ******
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 18654
  • cheonnaaa

kirain tere liye ini cewek. heheh pernah baca novelnya yg semoga bunda disayang allah (berdasar film bollywood black) nangis gue bacanya. jd pengen baca nov HSD
Logged


setelah bertahun tahun gak bisa move on dari dong yi. kini jang ok jung mampu menyihirku sedemikian rupa. hahaha

za_87

  • Senior Sailor
  • ******
  • Keong: 1
  • Offline Offline
  • Posts: 11572

nangis baca novel HSD... memasuki halaman ke 67, sampe seterusnya gw gk brenti nangis... sehari sebelum gempa n tsunami melanda, delisa bilang ke uminya kalau dia cinta uminya karena Allah... gempa n tsunami itu terjadi saat delisa lagi praktek sholat, saat dia akan sujud, ia disambar tsunami, sekujur tubuhnya penuh luka, semua keluarnya meninggal, uminya gak ditemukan, delisa baru ditemukan beberapa hari kemudian oleh seorang prajurit bernama smith.. smith terpengarah kala melihat tubuh delisa bercahaya.. gak lama setelah nemuin delisa, smith akhirnya masuk islam n berganti nama menjadi salam... baca novelnya aja gw nangis parah,, gk kebayang kalo nonton filmnya...
Logged

Musafira

  • Chingu
  • **
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 1607

Baca novelnya sediiih bgt..........air mata netes mulu  :'( :'( :'( :'(
banjir aur mata deh baca novelnya

menyentuh mengharrukan penuh pesan moral, nilai2 agama ............
Logged

Oncomoncom

  • Penyelam Unggul
  • *****
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 6678

Review dari www.boleh.com

Tsunami Aceh yang terjadi pada akhir tahun 2004 memang masih meninggalkan duka mendalam, khususnya bagi keluarga Korban dan penduduk di negeri serambi Mekah terebut. Hal ini pula yang membuat 'tema' ini menjadi sangat sensitif untuk diperbincangkan, dan bahkan untuk sekedar diangkat kedalam sebuah bentuk media seperti film.

Sekitar 7 tahun setelah bencana memilukan yang 'menelan' ribuan korban jiwa tersebut, tema tsunami ini kemudian berani diangkat dalam sebuah film. Adalah Starvision bersama Sutradara Sony Gaokasak (Tentang Cinta) yang kemudian menggarap film layar lebar Indonesia pertama yang mengangkat tentang kejadian Tsunami ini lewat film berjudul Hafalan Shalat Delisa.

Diadaptasi dari Novel best seller berjudul sama karya Tere Liye, Hafalan Shalat Delisa mengisahkan tentang Delisa seorang gadis cilik yang harus kehilangan Ibunya (Ummi Salamah, diperankan oleh Nirina Zubir), dan ketiga kakaknya yaitu Fatimah, Aisyah dan Zahra, pasca bencana tsunami yang melanda Aceh.

Delisa yang selamat dalam bencana tersebut, akhirnya hidup bersama sang Ayah (Abi Usman diperankan oleh Reza Rahadian) ditengah situasi Aceh yang yang masih memprihatinkan pasca bencana. Namun di situasi sesulit itupun, dengan sebelah kakinya yang telah diamputasi, Delisa tetaplah menjadi anak yang optimistik dan menginspirasi orang-orang disekitarnya. Delisa masih memilki mimpi dan obsesi untuk menyelesaikan hafalan bacaan Shalatnya seperti yang pernah Ia janjikan ke Ummi nya sebelum kejadian Tsunami dulu.

Sebagai sebuah film yang sejak awal ditujukan menjadi sajian visual yang menyentuh yang bisa 'meguras air mata' penontonnya, Hafalan Shalat Delisa sebenarnya sudah memilki materi yang sempurna untuk hal itu. Karakter yang tengah dilanda cobaan, bencana, kematian, dan hubungan keluarga semuanya terangkum dalam jalinan kisah film ini.

Tetapi menggarap film tear-jerker memanglah susah-susah-gampang, karena jika gagal, hasilnya bukannya mengharukan penonton malah tampil 'menyedihkan' dalam hal kualitas. Sayangnya, sang Sutradara Sony Gaokasak kurang mampu menggali emosi dari 'materi sempurna tear-jerker movie' ini, sehingga hasilnya Hafalan Shalat Delisa ini masih kurang berhasil 'menyentuh' penonton filmnya.

Akting Chantiq Schagerl sebagai seorang debutan di layar lebar cukup menarik perhatian. Walaupun sebagai karakter Delisa, Chantiq masih kurang mampu menampilkan aura optimistik yang seharusnya dimiliki oleh karakternya, sehingga 'semangat' dan 'pesan' yang ingin disampaikan melalui karakter Delisa kurang mampu tersampaikan dengan baik ke penonton.

Beberapa detail seperti penggunaan bahasa dan logat Aceh juga sayangnya tidak mendapat perhatian di film ini. Aktor-Aktrisnya masih berdialog layaknya peran mereka di film lainnya. Begitupun dengan detail mengenai kondisi geografis Aceh yang ditampilkan di filmnya masih jauh dari gambaran Aceh yang sebenarnya. Untungnya nuansa Aceh masih 'tertolong' lewat lantunan scoring musik gubahan Tya Subiakto yang terasa 'menghentak' dan sesuai dengan mood khas lantunan lagu Aceh.   

Satu hal yang mendapat highlight dari film ini adalah penggunaan CGI (Computer Generated Imagery) yang tergolong baru untuk sebuah film Indonesia. Adegan yang memvisualisasikan gempa, helikopter, kapal-kapal besar dan tentu saja tsunami yang dibuat melalui CGI dari Gapetto Animation Indonesia harus diakui memang hasilnya belum maksimal.

Efeknya masih terasa kasar dan tidak real, tetapi untunglah masih belum dalam taraf visual efek yang 'memprihatinkan' seperti sinetron laga di salah satu stasiun televisi swasta nasional. Tetapi untuk sebuah langkah baru dalam terobosan efek untuk film Indonesia, CGI nya patut untuk diapesiasi dan pastinya sangat tidak adil rasanya jika kita membandingkannya dengan CGI yang dihasilkan oleh Perfilman maju seperti Hollywood.

Secara keseluruhan, sebagai sebuah film yang mengangkat sebuah persitiwa bencana besar yang pernah terjadi di negara ini, Hafalan Shalat Delisa memang masih belum mampu men-capture kesedihan dan optimisme yang ingin disampaikan melalui filmnya.

Tetapi setidaknya, film ini masih mampu menghadirkan beberapa momen menyentuh terutama dari Akting Reza Rahadian yang seperti biasa tampil dengan apik.

Saat Penonton bertanya-tanya dalam hati setelah selesai menonton filmnya dengan pertanyaan "Apakah Saya sendiri sudah hafal bacaan Shalat?" (mungkin saja itu) berarti pesan film ini sudah tersampaikan dengan baik. Ya, Mungkin saja...

Hafalan Shalat Delisa akan dirilis mulai Tanggal 22 Desember 2011. Disutradarai oleh Sony Gaokasak dan dibintangi oleh Reza Rahadian, Nirina Zubir, Fathir Muchtar, Mike Lewis dan aktris cilik pendatang baru Chantiq Schagerl sebagai Delisa.

Selamat menonton!

Belum nonton, ada sedikit kecewa sih kalo emang baca reviewnya.
Tapi gue masih punya asa, karena belum nonton langsung.
Please, yang udah nonton kasih review ya... Hehehe..
Thanks before. [thumbsup]
Logged
Marshanda (dulu) :Kalo ortu saya pernah ngelakuin hal yg melakui saya, disaat yg sama mreka pikir mreka sdg usaha melakukan yg terbaik. #respectparents

Kini kalimat bijak itu menjadi sebuah ironi drama kehidupan Marshanda.... Ckckckc

Oncomoncom

  • Penyelam Unggul
  • *****
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 6678

Reza Rahadian Putar Ulang Kejadian Tsunami
Reza juga sempat menahan airmata lantaran cerita film yang begitu menyentuh.


Finalia Kodrati, Gestina Rachmawati
(VIVAnews/ Muhamad Solihin)
BERITA TERKAIT


VIVAnews - Ada berbagai cara yang ditempuh seorang aktor untuk dapat memainkan peranannya dengan baik. Begitu juga dengan aktor Reza Rahadian.

Dalam film terbarunya 'Hafalan Shalat Delisa', Reza berperan sebagai Abi Usman, seorang ayah dari empat anak perempuan. Film ini diangkat dari sebuah novel berjudul sama, yang ditulis oleh Tere Liye. Sesuai dengan isi novelnya, 'Hafalan Shalat Delisa' dilatarbelakangi kejadian tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 silam.

"Yang sulit adalah bagaimana referensi batin seorang ayah dalam keadaan seperti itu. Mau nggak mau akhirnya saya menonton (rekaman) kejadian itu lagi," kata Reza saat ditemui di Planet Hollywood, Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

Reza mengaku keterlibatannya dalam film tersebut sempat membuatnya menahan airmata lantaran ceritanya begitu menyentuh. "Ada satu adegan yang membuat tangisan saya berlanjut. Selesai 'cut' saya ke belakang tempat sutradara dan menangis lagi," ujar pria yang pernah menyutradarai film pendek tersebut.

Bintang yang pernah menyabet piala FFI (Festival Film Indonesia) tahun 2010 itu melakukan proses syuting selama 20 hari di daerah Ujung Genteng dan Bogor. Lokasi pengambilan gambar sengaja tidak dilakukan di Aceh. Menurut sang sutradara Sony Gaokasak, mereka punya alasan tersendiri.

"Kalau kita bikin di situ, kita perlu pertimbangkan perasaan saudara-saudara yang ada di sana lagipula kondisinya sudah tidak sama lagi seperti sebelum terjadi tsunami. Biar bagaimanapun, Lhok Nga tidak akan tergantikan dan selalu ada di hati," ujarnya di tempat yang sama.

Dalam film ini Reza beradu akting dengan Nirina Zubir, Mike Lewis dan beberapa pemain cilik. 'Hafalan Shalat Delisa' rencananya akan dirilis pada 22 Desember 2011. (eh)

Asli, Reza niat banget. Acung jempol buat keseriusan & profesionalitasnya...  [thumbsup]
Logged
Marshanda (dulu) :Kalo ortu saya pernah ngelakuin hal yg melakui saya, disaat yg sama mreka pikir mreka sdg usaha melakukan yg terbaik. #respectparents

Kini kalimat bijak itu menjadi sebuah ironi drama kehidupan Marshanda.... Ckckckc

Oncomoncom

  • Penyelam Unggul
  • *****
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 6678


Diambil dari http://trendygalih.com

Gue baru ngeh kalo yang jadi Smith adalah Mike Lewis.
Pas di trailer, gue ga tau itu tentara asing adalah ML...  [hmpfh] [hmpfh]
#EfekfokusliatabahUsmandanDelisa..  [hmpfh] [hmpfh]
Logged
Marshanda (dulu) :Kalo ortu saya pernah ngelakuin hal yg melakui saya, disaat yg sama mreka pikir mreka sdg usaha melakukan yg terbaik. #respectparents

Kini kalimat bijak itu menjadi sebuah ironi drama kehidupan Marshanda.... Ckckckc

Oncomoncom

  • Penyelam Unggul
  • *****
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 6678

Review : HAFALAN SHALAT DELISA (2011)
HAFALAN SHALAT DELISA : KESALAHAN BAKU ALA SINEMA KITA
Sutradara : Sony Gaokasak
Produksi : Kharisma Starvision Plus, 2011

Kisah-kisah sejati itu, baik nyata, fiktif, maupun percampurannya, memang merupakan senjata ampuh untuk jadi tema sebuah film. Dari sana mungkin ada seribu bahkan sejuta pesan yang bisa disempalkan ke dalamnya, termasuk, oh ya, balutan akhirnya jadi film relijius dalam lingkup Islami yang masih jadi trend tematik di sinema kita. Tapi khusus di sinema Indonesia, tema-tema seperti ini bisa punya dua sisi koin. Yang pertama memang hadir menyentuh seperti film-film melodrama produksi luar, namun satunya yang sering jadi bandrol negatif adalah aji mumpung-aji mumpung yang memanfaatkannya untuk jadi sekedar jualan bagi selera tipikal penonton kita. Oke, however, mari tak mengolok-olok satu sejarah paling memilukan dari bencana Tsunami Aceh tahun 2004 silam. ‘Hafalan Shalat Delisa’ yang diangkat dari novel karya ‘Tere Liye’ (those who usually watched or listen to Hindi movie or songs pasti tahu artinya, ‘For You’) penulis yang lebih suka tampil dengan nama pena-nya itu, memang menggunakan peristiwa ini sebagai latar kisahnya. Saya yakin tak ada yang salah dengan novel yang katanya memang sangat menyentuh itu. Pesan tentang keteguhan seorang anak perempuan dibalik persepsi reliji kepada bencana yang menimpa keluarganya, dengan interaksi-interaksi tambahan pada berbagai karakter yang hadir mulai dari orang-orang di lingkungan sekitar dan anak seumurnya sampai prajurit relawan, memang serba linear tapi bukan berarti salah. Itu dalam lingkup novel yang memang menggunakan bahasa buku.

Nah, penerjemahannya ke film, pastinya masalah lain. Apalagi ini adalah Aceh. Sebuah bagian dari negara ini dimana adat dan budayanya sangat mendominasi. Tak perduli Anda suku apa, jika tinggal lama disana, dialek, adalah salah satu yang akan merubah cara Anda berbicara. Ini termasuk karakter orang Cina yang digambarkan pula secara old-fashioned ber-owe-owe dengan suara sengau seperti film-film ‘Si Pitung’. Entah apa tujuannya, semua ini kurang lebih sama seperti kasus Ranah Minang dalam ‘Di Bawah Lindungan Ka’bah (DLBK)’, yang dihancurleburkan oleh seorang penulis skenario yang sama. Entahlah memang atas desakan produser se-etnis dengan ‘DBLK’ yang mau hasil serba instan, Armantono lagi-lagi memilih menghilangkan dialek dan menggantinya dengan senjata pamungkas bahasa baku atau buku dalam dialognya. Entah memang mereka tak tahu apa akibatnya bahasa-bahasa serba kaku ini ke bangunan emosi yang ingin mereka capai di tema-tema seperti ini, atau menganggap semua penonton adalah orang-orang tak terdidik yang tak tahu kebiasaan seputar bangsanya, tak mengapa. Saya akan memberi saran sekali lagi, baik perlu atau kalian rasa tidak. Bahwa dalam lingkup fantasi sebagai latar setnya, seperti ‘Love Story’ yang juga ditulis Armantono ini, silahkan. Mau memakai bahasa Timbuktu sekalipun, tak mengapa. Tapi saat Anda-Anda bicara dengan realitas, cobalah berusaha sedikit seperti sebagian film kita yang mau-maunya menggunakan dialek hingga bahasa daerah, kadang malah di film-film komedi ringan. Saya percaya nama-nama terkenal yang kalian gunakan pun pasti bisa tampil dengan dialek itu. Kenyataan juga bahwa sebagian dari mereka kelihatan canggung dan masih mencoba berdialog dengan wajar sehingga yang muncul jadi seperti orang kebingungan mengucapkan dialog serba tak sinkron. Sekali lagi, tampilan dialek dalam film yang menyangkut latar tertentu itu banyak gunanya. Tapi lagi, bila kalian-kalian menganggap ini bukan hal krusial, dan nyaman-nyaman saja dengan itu, ya sudahlah. Mungkin memang, maaf saja, taraf otak dan pemikiran kita yang berbeda.

Ini adalah sebuah kisah tentang Delisa (Chantiq Schagerl), gadis kecil dari Lhok Nga, Aceh, yang kehilangan keluarganya akibat Tsunami Aceh 2004. Tragedi ini terjadi tepat ketika Delisa tengah disaksikan Ummi-nya (Nirina Zubir) mencoba menyelesaikan ujian shalatnya di depan Ustadz Rahmad (Fathir Muchtar, credited with Al) di sekolah. Delisa yang selamat namun kehilangan sebelah kaki, Ummi berikut tiga saudarinya, Fatimah (Ghina Salsabila) dan kembar Aisyah-Zahra (Reska/Riska Tania Apriadi) kemudian ditemukan oleh tentara relawan Amerika, Smith (Mike Lewis) tanpa menyadari kalau Abi-nya, Usman (Reza Rahadian) yang bekerja di sebuah kapal tanker sudah menyusul untuk mencarinya. Di bawah bimbingan Smith dan suster relawan Sophie (Loide Christina Teixeira), Delisa mencoba tetap tegar menerima keadaannya hingga bertemu lagi dengan Usman. Mereka terus mencari keberadaan Ummi sambil perlahan memahami arti keikhlasan atas cobaan-cobaan yang diberikan.

Saya tak akan menampik kalau niat mengadaptasi ‘Hafalan Shalat Delisa’ punya segudang potensi untuk jadi sebuah drama kisah sejati yang sangat menyentuh. Walaupun membawa memori itu pada orang-orang yang langsung mengalami tragedi atau keluarga-keluarga mereka, penyampaiannya yang dibalut pesan relijius yang cukup solid juga pasti bakal jadi sangat berharga. Tapi itulah. Sinema kita agaknya masih berat sekali membangun emosinya lewat hal-hal yang baik. Jauh dibalik tujuan yang sebenarnya serba luhur itu, sasarannya seringkali tetap ke ember-emberan untuk memancing airmata penonton, baik dari dialog dan bangunan karakternya. Itupun tak terlaksana dengan baik, dan malah masih ditambah lagi dengan klise-klise lain untuk tujuan jualan. Coba lihat bagaimana ‘Aftershock’ bisa berkomunikasi sedekat itu walaupun bicara tentang bencana yang tak langsung dialami penonton luar Cina. Film itu mungkin memang membanggakan hasil kerja efek spesial untuk merekonstruksi kejadian aslinya, tapi setelah menyaksikannya, kita semua tahu, bahwa jauh dibalik pameran tadi ada sesuatu yang lain yang dijadikan fokus oleh sutradaranya. Sony Gaokasak (‘Tentang Cinta’) dengan tim produksinya mungkin sudah cukup baik mengatur detil setting rekonstruksi tadi meskipun efek Tsunaminya terlihat sangat tidak layak untuk ukuran sinematis, tapi mereka melupakan satu hal. Komunikasi dan karakterisasi. Entah memang mereka menganggap belajar dialek akan menghambat tendensi peredarannya tepat di akhir Desember untuk memperingati tragedi itu, dengan bahasa baku serba kaku dan canggung itu, emosi yang hendak dibangun mereka melayang entah kemana.

Karakter-karakternya berdialog secara tak sinkron dengan kebingungan yang juga sama dalam menerjemahkan intonasi dan ekspresinya, tapi sebagian dari mereka memang seolah berjalan terus mengikutinya tanpa hati. Padahal sosok Chantiq sebagai pemeran Delisa sebenarnya sudah menampilkan kepolosan anak-anak walaupun kadang seperti dituntut sutradara untuk selalu sok wise, ketimbang berproses dengan sempurna. Saya tak tahu perasaan sebenarnya, namun penampilan Reza yang memang tak pernah mengecewakan itu kelihatan sekali gelisah dengan hal ini. Dialog-dialog kaku itu selalu ditanggapinya dengan usaha untuk kelihatan terlihat wajar namun efeknya jadi tak sinkron dengan lawan-lawan mainnya. Joe P Project yang tampil sesantai biasanya pun tak punya salah dalam kemampuan aktingnya, namun ditimpa kesalahan atas karakter yang diberikan kepadanya dengan logat Cina ‘owe-owe’ bersuara sengau yang, terus terang, konyol. Sama seperti Fathir yang dituntut. lagi-lagi, skenario, untuk menerjemahkan karakter ustadz dengan seratus kali mengucapkan ‘Astaghfirullah’ atau ‘Alhamdulillah’ dengan dangkal sekali. Bagaimana bisa ada jalinan komunikasi yang baik kala kita melihat sekumpulan penduduk dan anak-anak Aceh tidak berdialek tapi malah penuh dengan bahasa ala sinetron ditimpali ‘dong’ atau ‘deh’. Dan apakah membantu hanya dengan menyelipkan lagu-lagu Asli Aceh di dalamnya? I don’t think so. Yang paling parah adalah penampilan Loide sebagai Suster Sophie. Oke, wajah bulenya memang cantik, namun ketimbang mencoba memberi aura penuh kasih terhadap Delisa, tampilannya kerap terasa bak kapstok berjalan, penuh polesan diantara para pasien sekarat yang sebenarnya memerlukan bantuan intensif. Percayalah, sama seperti beratnya rasa untuk mengkritik hasil film ini, sebenarnya sangat tak bijak untuk mengolok-olok sebuah peristiwa tragedi yang menorehkan banyak luka di hati yang mengalaminya kecuali kita hanya melihat dengan dangkal. Tapi apa yang kalian lakukan terhadap niat baik penuh pesan tadi demi sebuah jualan, itu juga kelewatan. (dan)

danieldokter.wordpress.com

Baca review-nya jadi agak nyesek.
Mudah2an ga mengurangi niat yang mau nonton film ini.
Salah satu film yang gue tunggu2 dari tahun kemarin malah...  [worried] :'(
Logged
Marshanda (dulu) :Kalo ortu saya pernah ngelakuin hal yg melakui saya, disaat yg sama mreka pikir mreka sdg usaha melakukan yg terbaik. #respectparents

Kini kalimat bijak itu menjadi sebuah ironi drama kehidupan Marshanda.... Ckckckc
Pages: 1 ... 7 8 9 10 [11] 12 13 14 15   Go Up