;

Welcome, Guest. Please login or register.
Did you miss your activation email?

Username: Password:
Pages: [1] 2 3 4 5 ... 76   Go Down

Author Topic: Kisah-kisah inspirasional..........  (Read 78379 times)

komikkuwid

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 19
  • Offline Offline
  • Posts: 382
  • menanti pesanan dan teman ngobrol
Kisah-kisah inspirasional..........
« on: November 09, 2007, 02:56:37 PM »

Aku Menangis untuk Adikku 6 Kali

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil.
Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan
punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik,
tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis
di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen
dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku
dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di
tangannya.
"Siapa yang mencuri uang itu?"
Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah
tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah,
kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"

Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.
Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku
yang melakukannya!"
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah
begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai
Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang
batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah
sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa
mendatang? ... Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak
tahu malu!"

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya
penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun.
Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis
meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan
berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah
terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup
keberanian untuk maju mengaku.
Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan
seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku
ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun.
Aku berusia 11.
Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk
masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima
untuk masuk ke sebuah universitas propinsi.
Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya,
bungkus demi bungkus.
Saya mendengarnya memberengut,
"Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang
begitu baik..."
Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa
gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"
Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata,
"Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca
banyak buku."
Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya.
"Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan
jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan
kamu berdua sampai selesai!"
Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk
meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke
muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki
harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah
meninggalkan jurang kemiskinan ini."
Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke
universitas.
Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku
meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit
kacang yang sudah mengering.
Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas
bantalku:
"Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari
kerja dan mengirimu uang."
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis
dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku
berusia 17 tahun. Aku 20.
Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang
adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi
konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).
Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku
masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di
luar sana!"
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku?
Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya
kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa
kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?"
Dia menjawab, tersenyum,
"Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika
mereka tahu saya adalah adikmu?
Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"
Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu
debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam
kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah
adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun
penampilanmu..."
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk
kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya
melihat semua gadis kota memakainya.
Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu."
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi.
Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis.
Tahun itu, ia berusia 20, Aku 23.
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah
telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku
pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.
"Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk
membersihkan rumah kita!"
Tetapi katanya, sambil tersenyum,
"Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini.
Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika
memasang kaca jendela baru itu.."
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus,
seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada
lukanya dan mebalut lukanya.
"Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya.
"Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi
konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan
itu tidak menghentikanku bekerja dan..."
Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku
memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun
itu, adikku 23, Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota.
Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan
tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka
mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus
mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah
mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."
Suamiku menjadi direktur pabriknya.
Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada
departemen pemeliharaan.
Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.
Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.
Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah
kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.
Suamiku dan aku pergi menjenguknya.
Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu
menolak menjadi manajer?
Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya
seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa
kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya.
"Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir
tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita
seperti apa yang akan dikirimkan?"
Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang
sepatah-sepatah:
"Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"
"Mengapa membicarakan masa lalu?"
Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.
Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani
dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan
itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?"
Tanpa bahkan berpikir ia menjawab,
"Kakakku."
Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan
tidak dapat kuingat.
"Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda.
Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke
sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari
sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya
memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di
rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin
sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya
bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan
baik kepadanya."

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan
perhatiannya kepadaku.
Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku,
orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku."
Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan
perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

« Last Edit: March 18, 2008, 09:45:16 AM by komikkuwid »
Logged
sedang Belajar berkomunikasi dengan baik

Yuusha Reborn

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 211
  • Lets Volt In!!!
Kisah-kisah inspirasional..........
« Reply #1 on: November 09, 2007, 04:34:42 PM »

Surat Untuk Bapak

Semenjak kepergian bapaknya, ponakanku Alif Ardezir Zidane (6 tahun) jadi lebih dewasa. Banyak hal hal baru yang dia bisa lakukan. Masuk SD kelas satu. Dia mulai lancar baca, semua bacaan di pinggir jalan dibaca. Mulai bisa naik sepeda, malam malam jam 11 pun cari cari kesempatan pager rumah terbuka dan dia segera tancap sepeda BMX nya. Mulai bisa berenang, sampe item banget. Mulai bisa nulis, walaupun tulisannya masih susah dibaca.


Selalu ceria dan nakal selayaknya anak kecil. Sepintas anak ini seperti tidak memahami arti meninggal dunia. Tapi sebenernya jauh didalam hatinya dia ngerti. Cuma dia tidak menunjukanya seperti orang dewasa. Pernah dia kepergok ngomong berdua sama adiknya Rani (3 tahun) bilang: “Kita begini kan karena Bapak sudah tidak ada”. Gak jelas maksudnya begini itu apa.

Yang bikin Ibunya kaget dia pernah tanya gimana caranya kalo mau ketemu bapak. Apakah bunuh diri saja yah.. sambil cengar cengir.. Ibuanya cuma bilang hush…

Pernah lagi dia tanya apakah Ibunya gak pengin punya bapak baru (suami baru maksudnya). Ibunya cuma bilang: “trus bapak Hendry di Surga gimana?”.. dia cuma cengar cengir. Tiap hari selalu diajar untuk mendoakan Bapaknya di Surga. Rupanya tertanam konsep bahwa kematian itu suatu kehidupan yang lain.

Suatu waktu kelinci piaraanya mati kemudian ia menulis surat di secarik kertas yang terhempas disudut ruangan. Ketika menyapu lantai Ibunya memungut lalu membacanya. Rupanya itu surat untuk bapaknya. Lihat foto dibawah:


Memang susah dibaca, berikut terjemahannya:
Quote
selasa 2 oktober 2007
makam bapak hendriyanto yang sudah meninggal dunia
pak tolong jaga kelinci Alif
pak dapet salam dari ibu peluk cium sayang untuk bapak
salam juga dari ade Rani
ade dan kakak kangen sama bapak
bapak seneng ya disurga semoga bahagia selamanya
pa tungguin ya kaka ibu dan ade rani ya pa di surga

Ibunya membaca dengan berlinang linang air mata. Anaknya yang selalu tampil cuek dan jahil itu ternyata punya kesan yang amat mendalam dengan kematian.

Buat Alifku, ini doamu Om pasang disini biar dibaca semua orang ya nak, semoga semua orang ikut mendoakan Bapak di Surga. Amien ya Allah amien, besok jadi buka puasa bareng si Ntong di TPI? yuk Om anter…..
----------------

Disclaimer: Artikel ini ditulis oleh Wibisono Sastrodiwiryo. Selengkapnya bisa dilihat di sini: http://dendemang.wordpress.com/2007/10/06/surat-untuk-bapak/

« Last Edit: December 12, 2007, 09:10:33 AM by KaptenKecil »
Logged
A Friend in Need is a Friend to AVOID!!!!
*KapAs --> Maaf siggy kamu lebih dari 25 KB
*Gue---> Kumaha maneh we lah.... ^_^

komikkuwid

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 19
  • Offline Offline
  • Posts: 382
  • menanti pesanan dan teman ngobrol
cerita cinta kupu-kupu
« Reply #2 on: November 12, 2007, 03:15:33 PM »

Kisah Seekor Kupu Kupu (love story)
 
Di sebuah kota kecil yang tenang &  indah, ada sepasang pria & wanita
yang saling mencintai. Mereka selalu bersama memandang matahari terbit
di puncak gunung, bersama di pesisir pantai menghantar matahari senja.
Setiap orang yang bertemu dengan mereka tdk bisa tidak akan menghantar
dengan pandangan kagum & doa bahagia. Mereka saling mengasihi satu sama lain
Namun pd suatu hari, malang sang lelaki mengalami luka berat akibat sebuah
kecelakaan. Ia berbaring di atas ranjang pasien beberapa malam tdk sadarkan
diri di rumah sakit. Siang hari sang wanita menjaga di depan ranjang & dgn
tiada  henti memanggil2 kekasih yg tdk sadar sedikitpun.

Malamnya ia ke gereja kecil di  kota tsb & tak lupa berdoa kepada Tuhan agar
kekasihnya selamat. Air matanya sendiri hampir kering krn menangis
sepanjang hari.
 
Seminggu telah  berlalu, sang lelaki tetap pingsan tertidur spt dulu,
sedangkan si wanita telah berubah menjadi pucat pasi & lesu tdk terkira,
namun ia tetap dgn susah payah bertahan & akhirnya
pd suatu hari Tuhan terharu oleh keadaan wanita yg setia  & teguh itu,
lalu Ia memutuskan memberikan kpd wanita itu sebuah pengecualian kpd
dirinya. Tuhan bertanya kpdnya "Apakah kamu benar2 bersedia
menggunakan nyawamu sendiri utk menukarnya?" . Si  wanita tanpa
ragu sedikitpun menjawab "Ya".
 
Tuhan berkata "Baiklah, Aku bisa  segera membuat kekasihmu sembuh kembali,
namun kamu hrs berjanji menjelma menjadi kupu2 selama 3 thn. Pertukaran spt
ini apakah kamu juga bersedia?". Siwanita  terharu setelah mendengarnya &
dgn jawaban yg pasti menjawab "saya bersedia!".
 
Hari telah terang. Si wanita telah mjd seekor kupu2 yg indah. Ia  mohon diri
pd Tuhan lalu segera kembali ke rumah sakit. Hasilnya, lelaki itu benar2
telah siuman bahkan ia sedang berbicara dgn seorg dokter.
Namun sayang,  ia tdk dpt mendengarnya sebab ia tak bisa masuk ke ruang itu.

Dgn di sekati oleh  kaca, ia hanya bisa memandang dr jauh kekasihnya sendiri
Bbrp hari kemudian,  sang lelaki telah sembuh. Namun ia sama sekali tdk bahagia.
Ia mencari keberadaan sang wanita pd setiap org yg lewat, namun tdk ada yg
tahu sebenarnya  sang wanita telah pergi kemana.
Sang lelaki sepanjang hari tdk makan & istirahat terus mencari. Ia begitu
rindu kpdnya, begitu inginnya bertemu dgn sang kekasih, namun sang wanita yg
telah berubah mjd kupu2 bukankah setiap saat selalu berputar di sampingnya ?
hanya saja ia tdk bisa berteriak, tdk bisa memeluk. Ia hanya bisa
memandangnya secara diam2. Musim panas telah berakhir,  angin musim gugur yg
sejuk meniup jatuh daun pepohonan. Kupu2 mau tdk mau hrs meninggalkan tempat
tsb lalu terakhir kali ia terbang & hinggap di atas bahu  sang lelaki.

Ia bermaksud menggunakan sayapnya yg  kecil halus membelai wajahnya,
menggunakan mulutnya yg kecil lembut mencium keningnya.
Namun tubuhnya yg kecil & lemah benar2 tdk boleh di ketahui olehnya,
sebuah gelombang suara tangisan yg sedih hanya dpt di dengar oleh kupu2 itu sendiri &
mau tdk mau dgn berat hati ia meninggalkan kekasihnya, terbang  ke arah yg jauh
dgn membawa harapan.
 
Dlm sekejap telah tiba musim semi yg kedua, sang kupu2 dgn tdk sabarnya
segera terbang kembali mencari kekasihnya yg lama di tinggalkannya.

Namun di samping bayangan yg tak asing lagi ternyata telah berdiri seorg
wanita cantik. Dlm sekilas itu sang kupu2 nyaris jatuh dr angkasa.
Ia benar2 tdk percaya dgn pemandangan di depan matanya sendiri.
Lebih tdk percaya lagi dgn omongan yg di bicarakan banyak org. Orang2 selalu
menceritakan  ketika hari natal, betapa parah sakit sang lelaki. Melukiskan
betapa baik dan manisnya dokter wanita itu.
Bahkan melukiskan betapa sudah sewajarnya percintaan mereka
& tentu saja juga melukiskan bahwa sang lelaki sudah bahagia spt dulu kala .
 
Sang kupu2 sangat sedih. Bbrp hari berikutnya ia seringkali melihat
kekasihnya sendiri membawa wanita itu ke gunung memandang matahari terbit, 
menghantar matahari senja di pesisir pantai.
Segala yg pernah di milikinya dahulu dlm sekejap tokoh utamanya telah
berganti seorg wanita lain sedangkan ia sendiri selain kadangkala bisa
hinggap di atas bahunya, namun tdk dpt berbuat apa2.

Musim panas tahun ini sgt panjang, sang kupu2 setiap hari terbang rendah
dgn tersiksa & ia sudah tdk memiliki keberanian lagi utk mendekati
kekasihnya sendiri. Bisikan suara antara ia dgn wanita itu,ia & suara tawa
bahagianya sudah cukup membuat hembusan napas dirinya berakhir,
karenanya sebelum musim panas berakhir, sang kupu2 telah terbang berlalu.
Bunga bersemi & layu. Bunga layu & bersemi lagi. Bagi seekor kupu2 waktu seolah2
hanya menandakan semua ini.
 
Musim panas pd tahun ketiga, sang kupu2 sudah tdk sering lagi pergi
mengunjungi kekasihnya sendiri. Sang lelaki bekas kekasihnya itu mendekap
perlahan bahu si wanita, mencium lembut wajah wanitanya sendiri.
Sama sekali tdk punya waktu memperhatikan seekor  kupu2 yg
hancur hatinya apalagi mengingat masa lalu.

Tiga tahun perjanjian Tuhan dgn sang kupu2 sudah akan segera
berakhir & pd saat hari yg terakhir, kekasih si kupu2
melaksanakan pernikahan dgn wanita itu.
 
Dlm kapel kecil telah dipenuhi org2. Sang kupu2 secara  diam2
masuk ke  dalam & hinggap perlahan di atas pundak Tuhan.
Ia mendengarkan sang  kekasih yg berada dibawah berikrar di hadapan Tuhan
dgn mengatakan "saya bersedia menikah dengannya!".
Ia memandangi sang kekasih memakaikan cincin ke
tangan wanita itu, kemudian memandangi mereka berciuman dgn
mesranya lalu  mengalirlah air mata sedih sang kupu2.

Dengan pedih hati Tuhan menarik  napas "Apakah kamu menyesal?".
Sang kupu2 mengeringkan air matanya "Tidak".
Tuhan lalu berkata di sertai seberkas kegembiraan "Besok kamu
sudah dpt kembali mjd dirimu sendiri".
Sang kupu2 menggeleng-gelengkan kepalanya "Biarkanlah aku menjadi kupu2 seumur  hidup".
 
ADA BEBERAPA KEHILANGAN MERUPAKAN  TAKDIR.
ADA BEBERAPA PERTEMUAN ADALAH YANG TIDAK AKAN BERAKHIR SELAMANYA.
MENCINTAI SESEORANG TIDAK MESTI HARUS MEMILIKI,NAMUN MEMILIKI SESEORANG
MAKA HARUS BAIK-BAIK MENCINTAINYA..
Logged
sedang Belajar berkomunikasi dengan baik

komikkuwid

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 19
  • Offline Offline
  • Posts: 382
  • menanti pesanan dan teman ngobrol
Re: cerita cinta kupu-kupu
« Reply #3 on: November 13, 2007, 09:58:37 AM »

crita aapaan c ? ?

cerita cinta
yang intinya
ADA BEBERAPA KEHILANGAN MERUPAKAN  TAKDIR.
ADA BEBERAPA PERTEMUAN ADALAH YANG TIDAK AKAN BERAKHIR SELAMANYA.
MENCINTAI SESEORANG TIDAK MESTI HARUS MEMILIKI,NAMUN MEMILIKI SESEORANG
MAKA HARUS BAIK-BAIK MENCINTAINYA..
crita sedih nih..hikss... ;D
suka baca berulang-ulang yah
oke deh
tunggu cerita selanjutnya hehehehe
Logged
sedang Belajar berkomunikasi dengan baik

mrs_mr_ius

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 6
  • Offline Offline
  • Posts: 804
  • aih........luthunyaaaaaaaaa >.<
Re: cerita cinta kupu-kupu
« Reply #4 on: November 15, 2007, 08:00:54 PM »

sedih bnr critanyaaaa .....
pengorbanan sang wanita demi laki2 yg dicintai nya...
ini ni namanya cintaaa
Logged

komikkuwid

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 19
  • Offline Offline
  • Posts: 382
  • menanti pesanan dan teman ngobrol
ceritayang ketiga hehehehe
« Reply #5 on: November 19, 2007, 01:15:45 PM »

Seorang lelaki berumur 92 tahun yang mempunyai

selera tinggi,percaya diri, dan bangga akan dirinya sendiri,

yang selalu berpakaian rapi setiap hari sejak jam 8 pagi,

dengan rambutnya yang teratur rapi meskipun dia buta,

masuk ke panti jompo hari ini.

Istrinya yang berumur 70 tahun baru-baru ini meninggal,

sehingga dia harus masuk ke panti jompo.

Setelah menunggu dengan sabar selama beberapa jam di lobi,

Dia tersenyum manis ketika diberi tahu bahwa kamarnya telah siap.

Ketika dia berjalan mengikuti penunjuk jalan ke elevator,

aku menggambarkan keadaan kamarnya yang kecil,

termasuk gorden yang ada di jendela kamarnya.

Saya menyukainya, katanya dengan antusias seperti seorang

anak kecil berumur 8 tahun yang baru saja mendapatkan seekor anjing.

Pak, Anda belum melihat kamarnya, tahan dulu perkataan tersebut.

Hal itu tidak ada hubungannya, dia menjawab.

Kebahagiaan adalah sesuatu yang kamu putuskan di awal.

Apakah aku akan menyukai kamarku atau tidak,

tidak tergantung dari bagaimana perabotannya diatur

tapi bagaimana aku mengatur pikiranku.

Aku sudah memutuskan menyukainya. Itu adalah keputusan yang kubuat

setiap pagi ketika aku bangun tidur.

Aku punya sebuah pilihan; aku bisa menghabiskan waktu

di tempat tidur menceritakan kesulitan-kesulitan yang terjadi

padaku karena ada bagian tubuhnya yang tidak bisa berfungsi lagi,

atau turun dari tempat tidur dan berterima kasih atas bagian-bagian yang masih berfungsi.

Setiap hari adalah hadiah, dan selama mataku terbuka,

aku akan memusatkan perhatian pada hari yang baru dan

semua kenangan indah dan bahagia yang pernah kualami dan kusimpan.

Hanya untuk kali ini dalam hidupku.

Umur yang sudah tua adalah seperti simpanan dibank.

Kita akan mengambil dari yang telah kita simpan.

Jadi, nasehatku padamu adalah untuk menyimpan sebanyak-banyaknya

kebahagiaan di bank kenangan kita.

Terima kasih padamu yang telah mengisi bank kenanganku.

Aku sedang menyimpannya.

*/Ingat-ingatlah lima aturan sederhana untuk menjadi bahagia:/*

*/ 1. Bebaskan hatimu dari rasa benci./*

*/ 2. Bebaskan pikiranmu dari segala kekuatiran./*

*/ 3. Hiduplah dengan sederhana./*

*/ 4. Berikan lebih banyak (give more)/*

*/ 5. Jangan terlalu banyak mengharap (expect less)/*


so mari kita simpan di bank kenangan kita hal yang indah untuk mensyukuri kebahagianan yang diberikan
ditunggu saran dan kritiknya
Logged
sedang Belajar berkomunikasi dengan baik

topi SD

  • Senior Sailor
  • ******
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 10888
  • it's me and you
kisah2 inspirasional..
« Reply #6 on: November 21, 2007, 08:36:18 AM »

tret yang kemaren ude kebawa kapal karaaammm... :'(
padal ceritanya bagus2
waduhh..
topi masi gak punya stok ceita..
ada yang mau nyumbang...
Logged

"Aww DRAGGY!!!"

topi SD

  • Senior Sailor
  • ******
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 10888
  • it's me and you
Re: kisah2 inspirasional..
« Reply #7 on: November 21, 2007, 09:05:16 AM »


topi posting lagi biar pada inget tret yang dolo


Berikut ada kisah menarik dari tulisan George W Burns (psikoterapist) yang saya forward dan mudah2an bisa jadi perenungan dan pencerahan bagi kita semua
 
Pada suatu ketika, ada sebuah pulau yang dihuni oleh semua sifat manusia. Ini berlangsung lama sebelum mereka menghuni tubuh manusia, dan lama sekali sebelum kita mengotak-ngotakkannya kedalam istilah baik atau buruk. Pokoknya mereka ada, dengan ciri-cirinya sendiri.
 
Bahkan sifat-sifat tersebut berdiri sendiri sebagaimana manusia.
Mungkin itu sebabnya pada akhirnya mereka bersatu.
Dipulau tersebut hiduplah Optimisme, Pesimisme, Pengetahuan, Kemakmuran, Kesombongan, dan Kasih Sayang.
 
Sudah barang tentu sifat-sifat yang lain hidup disana juga. Pada suatu hari dimaklumatkan bahwa pulau tersebut pelan-pelan tenggelam. Ketika sifat-sifat tersebut mendengar berita ini, mereka dilanda kepanikan.
Mereka berlarian kesana kemari seperti semut yang rumahnya diinjak sampai hancur.
 
Setelah beberapa saat mereka mulai tenang dan merencanakan tindakan positif.
Karena hidup di pulau, kebanyakan dari mereka punya perahu, jadi mereka semua memperbaiki perahu mereka dan mengatur pemberangkatan dari pulau.
 
Kasih Sayang belum siap. Dia tidak memiliki perahu sendiri. Mungkin dia telah meminjamkannya kepada seseorang bertahun-tahun yang lalu.
Dia menunda keberangkatannya hingga saat-saat terakhir agar dia bisa membantu orang lain bersiap-siap. Pada akhirnya Kasih Sayang memutuskan bahwa dia harus meminta bantuan.
 
Kemakmuran baru saja berangkat dari dermaga didepan rumahnya yang besar.
Perahunya besar sekali, lengkap dengan semua teknologi paling mutakhir dan perangkat navigasi. Jika bepergian dengannya sudah pasti perjalanan mereka akan menyenangkan.
"Kemakmuran," panggil Kasih Sayang, "bolehlah aku ikut bersamamu?"
"Tidak bisa," jawab Kemakmuran. "Perahuku sudah penuh.
Berhari-hari kuhabiskan untuk memenuhinya dengan seluruh emas dan perak milikku.
Bahkan hanya tersisa sedikit ruang untuk perabotan antik dan koleksi seni. Tidak ada ruang untukmu disini."
 
Kasih Sayang memutuskan untuk minta tolong kepada Kesombongan yang sedang lewat didepannya menaiki perahu yang unik dan indah.
 
"Kesombongan, sudikah engkau menolongku?"
"Maaf, " kata kesombongan. "Aku tidak bisa menolongmu.
Tidakkah kau lihat sendiri? Kamu basah kuyup dan kotor. Coba bayangkan, betapa kotornya dek perahuku yang mengilat ini nanti jika kamu naik."
 
Lalu Kasih Sayang melihat Pesimisme yang sedang berusaha sekuat tenaga mendorong perahunya ke air.
Kasih Sayang meletakkan tangannya ke buritan kapal dan membantu Pesimisme mendorong perahunya.
 
Pesimisme mengeluh terus menerus. Perahunya terlalu berat, pasirnya terlalu lembut, dan airnya terlalu dingin. Sungguh hari yang tidak tepat untuk melaut.
 
Peringatan yang diberikan mendadak sekali, dan pulau ini tidak seharusnya tenggelam.
Mengapa semua kesialan ini terjadi padanya? Mungkin dia bukan teman seperjalanan yang menyenangkan.
 
Situasi Kasih Sayang sudah sangat kepepet.
"Pesimisme, bolehkah aku menumpang perahumu?"
"Oh, Kasih Sayang, engkau terlalu baik untuk berlayar denganku. Sikapmu yang penuh perhatian bahkan menjadikanku merasa lebih bersalah dan tidak keruan.
 
Bayangkan, seandainya ada ombak besar yang menghantam perahu kita dan engkau tenggelam. Bagaimana menurutmu perasaanku jika itu terjadi? Tidak, aku tidak bisa mengajakmu."
 
Salah satu perahu yang dilihat terakhir kali meninggalkan pulau adalah Optimisme. Dia tidak percaya dengan segala omong kosong tentang bencana dan hal-hal buruk, yaitu bahwa pulau ini akan tenggelam. Seseorang akan mampu berbuat sesuatu dan sebelum pulau ini benar-benar tenggelam.
 
Kasih Sayang berteriak memanggilnya, tetapi Optimisme terlalu sibuk menatap kedepan dan memikirkan tujuan berikutnya sehingga dia tidak mendengar.
 
Kasih Sayang berteriak memanggilnya sekali lagi, tetapi bagi Optimisme tidak ada istilah menoleh kebelakang. Dia sudah meninggalkan masa lalu dibelakang, dan berlayar menuju masa depan.
 
Pada saat Kasih Sayang sudah nyaris putus asa, dia mendengar sebuah suara, "Ayo, naiklah keperahuku."
Kasih Sayang merasa begitu lelah dan letih sehingga dia meringkuk diatas perahu dan langsung tertidur.
 
Dia tertidur sepanjang perjalanan sampai nakhkoda kapal mengumumkan bahwa mereka telah sampai ditanah kering dan dia bisa turun.
Dia begitu berterimakasih dan gembira karena perjalanannya berjalan aman sehingga dia berterimakasih kepada sang nakhoda dengan hangat, kemudian meloncat kepantai.
 
Dia melambaikan tangannya ketika pelaut itu meneruskan perjalanannya. Baru pada saat itulah dia sadar kalau lupa menanyakan nama nakhoda itu.
 
Ketika dipantai dia bertemu dengan Pengetahuan dan bertanya,"Siapa tadi yang menolongku?"
 
"Itu tadi Waktu"jawab Pengetahuan.
 
"Waktu?" tanya Kasih Sayang,
"Mengapa hanya Waktu yang mau menolongku ketika semua orang tidak mau mengulurkan tangan?"
 
Pengetahuan tersenyum dan menjawab,"Sebab hanya Waktu yang mampu mengerti betapa hebatnya Kasih Sayang."
« Last Edit: December 05, 2007, 10:42:06 AM by topi SD »
Logged

"Aww DRAGGY!!!"

guramorusukai

  • Forum Machi
  • ***
  • Keong: 1
  • Offline Offline
  • Posts: 2902
  • Sore wa dono yō ni hito o korosu to kanjita?
Re: kisah2 inspirasional..
« Reply #8 on: November 21, 2007, 10:29:47 AM »

baa... ba.. basa inggeriiss...  :D

topi SD

  • Senior Sailor
  • ******
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 10888
  • it's me and you
Re: kisah2 inspirasional..
« Reply #9 on: November 21, 2007, 12:27:19 PM »

dulu banyak banget yang ngasi cerita...
kerna ikut hanyut sayang jadinya...mudah2an dibalikin lagi sama kapiten
Logged

"Aww DRAGGY!!!"
Pages: [1] 2 3 4 5 ... 76   Go Up