;

Welcome, Guest. Please login or register.
Did you miss your activation email?

Username: Password:
Pages: 1 ... 72 73 74 75 [76] 77   Go Down

Author Topic: Kisah-kisah inspirasional..........  (Read 106760 times)

aan_mdlovers

  • Senior Sailor
  • ******
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 10.157
Re: Kisah-kisah inspirasional..........
« Reply #750 on: July 17, 2014, 05:06:48 pm »

kisah om Arlan kayak kisah2 di FTV ya ,
Logged

pulsasrihastuti

  • Kelasi
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 1
    • harga pulsa murah
Re: Kisah-kisah inspirasional..........
« Reply #751 on: October 07, 2014, 04:39:29 pm »

ceritanya keren gan, menyentuh banget,,, hehe
Logged

matlexaw

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 7
    • Rumah dijual
Re: Kisah-kisah inspirasional..........
« Reply #752 on: October 09, 2014, 10:09:39 am »

Ayahanda sedang sakit dan dokter memvonis Ayahanda gagal ginjal. Sehingga dokter menyarankan untuk cuci darah.
Ayah menolak dan kami sekeluarga juga tak mengiyakan saran dari Dokter.
Kami kini memilih pengobatan dengan Berhijamah atau bekam dan menggunakan obat herbal.
Semoga Allah memudahkan usaha kami dalam mengobati Ayahanda kami tercinta. Sehingga Allah menyembuhkan penyakit yang di derita Ayahanda. Amin Amin Amin Ya Robbal alamin

metmet_auon

  • Tomodachi
  • ****
  • Keong: 4
  • Offline Offline
  • Posts: 4.553
  • BERSYUKURLAH DALAM SEGALA HAL
Re: Kisah-kisah inspirasional..........
« Reply #753 on: October 09, 2014, 01:56:58 pm »

@matlewax, yg sakit ayahmu ya? Semoga cepet sembuh ya, diberi umur panjang. Aminn!
Logged

BIDADARI 2

  • Senior Sailor
  • ******
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 21.392
Re: Kisah-kisah inspirasional..........
« Reply #754 on: November 07, 2014, 02:41:08 pm »

Semangat matlew. Aku doakan mudah2an cepet sembuh.

Sekedar cerita tetanggaku gagal ginjal. Suka cuci darah. Seminggu yg lalu meninggal. Bertahan 7tahun. Salutlah buat keluarganya banting tulang agar ayah dan suaminya tetap hidup.

Semangat yah.
Logged

forsaFX

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 55
    • Partner Trading Online Forex
Re: Kisah-kisah inspirasional..........
« Reply #755 on: November 10, 2014, 04:19:52 pm »

BAGAIMANA CARA BERBISNIS ONLINE?
Hati-hati loch dengan bisnis online itu. Beberapa bisnis online yang banyak diiklan di internet menjanjikan keuntungan besar dan berlipat yang sangat mudah diraih dalam waktu singkat. Memilih bisnis online yang terpercaya itu gampang-gampang susah. Lalu bagaimana memilih bisnis online terpercaya dan tidak merugikan pebisnis pemula?
TIPs BERBISNIS ONLINE
Pilih produk yang berkualitas. Perhatikan juga reputasi si produsen produk yang hendak anda jual lagi. Tentukan juga harga yang bersaing. Binis online yang terpercaya, walaupun prinsipnya usaha online itu aktivitasnya dilakukan melalui internet, harus tetap punya kantor yang jelas dan resmi. Ingin Tahu Lebih Banyak tentang Bisnis Online VSI yaitu bisnis online
http://klikvsi-yusufmansur.com/?reg=vp1883212

AjangCica

  • Kelasi
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 2
Re: Kisah-kisah inspirasional..........
« Reply #756 on: November 14, 2014, 12:18:21 pm »

Postingan diatas keren banget
sambil baca numpang cari rezeki iyaa :)

Hanya di Agen Bola, Bandar Bola Online, Situs Taruhan Bola, 7meter
anda akan menemukan promosi dan hadiah unik serta lain daripada yang lain.
Agen Bola ini selalu menyediakan promosi setiap periode sehingga sangat menyenangkan anggotanya.
Langsung saja kunjungi situs kami dijamin para member akan nyaman dengan Agen bola terbaik dan terpercaya.
Agen Bola, Bandar Bola Online, Situs Taruhan Bola, 7meter
Logged

refadaditya

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 13
Re: Kisah-kisah inspirasional..........
« Reply #757 on: March 21, 2015, 09:44:33 am »

sundul up gan kunjungi juga  http://produk-herbal.net/produk-green-world/vig-power-capsule/ vig
power :sup:

Vig Power
   

Aku Menangis untuk Adikku 6 Kali

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil.
Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan
punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik,
tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis
di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen
dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku
dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di
tangannya.
"Siapa yang mencuri uang itu?"
Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah
tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah,
kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"

Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.
Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku
yang melakukannya!"
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah
begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai
Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang
batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah
sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa
mendatang? ... Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak
tahu malu!"

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya
penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun.
Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis
meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan
berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah
terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup
keberanian untuk maju mengaku.
Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan
seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku
ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun.
Aku berusia 11.
Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk
masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima
untuk masuk ke sebuah universitas propinsi.
Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya,
bungkus demi bungkus.
Saya mendengarnya memberengut,
"Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang
begitu baik..."
Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa
gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"
Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata,
"Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca
banyak buku."
Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya.
"Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan
jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan
kamu berdua sampai selesai!"
Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk
meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke
muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki
harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah
meninggalkan jurang kemiskinan ini."
Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke
universitas.
Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku
meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit
kacang yang sudah mengering.
Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas
bantalku:
"Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari
kerja dan mengirimu uang."
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis
dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku
berusia 17 tahun. Aku 20.
Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang
adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi
konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).
Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku
masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di
luar sana!"
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku?
Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya
kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa
kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?"
Dia menjawab, tersenyum,
"Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika
mereka tahu saya adalah adikmu?
Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"
Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu
debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam
kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah
adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun
penampilanmu..."
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk
kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya
melihat semua gadis kota memakainya.
Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu."
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi.
Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis.
Tahun itu, ia berusia 20, Aku 23.
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah
telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku
pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.
"Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk
membersihkan rumah kita!"
Tetapi katanya, sambil tersenyum,
"Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini.
Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika
memasang kaca jendela baru itu.."
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus,
seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada
lukanya dan mebalut lukanya.
"Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya.
"Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi
konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan
itu tidak menghentikanku bekerja dan..."
Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku
memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun
itu, adikku 23, Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota.
Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan
tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka
mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus
mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah
mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."
Suamiku menjadi direktur pabriknya.
Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada
departemen pemeliharaan.
Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.
Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.
Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah
kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.
Suamiku dan aku pergi menjenguknya.
Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu
menolak menjadi manajer?
Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya
seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa
kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya.
"Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir
tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita
seperti apa yang akan dikirimkan?"
Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang
sepatah-sepatah:
"Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"
"Mengapa membicarakan masa lalu?"
Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.
Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani
dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan
itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?"
Tanpa bahkan berpikir ia menjawab,
"Kakakku."
Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan
tidak dapat kuingat.
"Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda.
Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke
sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari
sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya
memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di
rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin
sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya
bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan
baik kepadanya."

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan
perhatiannya kepadaku.
Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku,
orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku."
Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan
perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.
Logged

Srikandiz_19

  • Chingu
  • **
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 1.315
  • Cinta Nusantara ~*ANTIMAINSTREAM*~
Re: Kisah-kisah inspirasional..........
« Reply #758 on: July 07, 2015, 09:54:21 am »

Sblm dia bertemu dgnku, sifat introvertnya menonjol. Lbh byk diam dan bicara seperlunya, kita dipertemukan di satu kost dan satu kerjaan. Misterius, itu penilainku sementara, blm pernah kulihat menampakan rona kesedihan menghampirinya. Wlo tak terasa setahun ku selalu bersamanya, kesehariannya aku amati betul, dikerjaaan byk teman dan atasan mengejek dia dgn sebutan "aneh", dimarahi/ ditegur krn keliru dlm kerja, dia hy tersenyum, tak da rasa bersalah/takut, malah dia jd bahan bullyan teman sepekerjaannya. Aku teman satu2nya yg selalu berusaha da buat dia, aku pikir, dia akan curhat dgnku, stlh dibully tmn2. Tp tidak, dia hy diam, tersenyum, aku malah dibuatnya penasaran, dan akhrnya bertanya, "kenapa kau tdk membalas bullyan mereka?". Lagi2 sblm menjawab dia tersenyum, "sudahlah, mereka blm mengerti aku, klo mereka sdh ngerti tentu mereka gak akan bully aku." Kecewa dgn jwbnnya, kupikir dia aja nyantai aj, knp aku yg susah. Semenjak itu aku hy bs mendukung semua yg dia lakukan, wlo kelihatannya "aneh" bagi org kebanyakan, dingin.
Tapi selama 3 tahun aku kost dgnnya, dgn tak kenal lelah,.aku berusaha mencari tahu penyebab dia sedingin itu, apatis terhadap semua hal yg tjd disekitarnya, seolah disekitarnya ada ruang kosong. Sesama tetangga kost hy bertegur seperlunya, stlh itu diam, ngobrol basa-basi. Tidak, dingin. Lama2 gemes ma dia, aku berusaha menghngatkan kedinginan itu. Berusaha ngobrol dr hal yg remeh-temeh ku tanyakan, ku ajak dia refreshing bersama teman2ku, pas hr lbr/plg kerja sebisa mgkn ku ajak dia keluar kost, menikmati dunia nyata, dunia yg penuh warna, bkn lg dunianya yg tertutup dan py dunia sendiri, terisolasi dr pergaulan. Kukenalkan temen2 cwok/cwek padanya, syukurlah, dia tak menolak. Bisa disimpulkan, dia baru respons klo kita yg memulai. Shg pada suatu ketika, dia akhirnya menceritakan masalah yg dia alami, masalah di masa lalu, yg sgt membekas diingatannya, dia yg terlahir sbg anak yg tak diinginkan ortunya, dia yg pendiam sejak kecil, minder dgn keadaannya, penyendiri, jarang curhat meskipun pd org terdekatnya, masalah yg berat sekalipun dia hadapi dgn diam dan dingin, pelariannya hy baca buku dan kitab suci sesuai kepercayaannya. Kalimat yg susah kulupakan sampai skg, saat dia blg, "Hidup ini sudah ada yg ngatur, penderitaan dan kebahagiaan itu satu pasang, krn diujung bahagia ada derita yg menanti, begitupun sebaliknya, santai saja menghadapinya, krn Tuhan tdk akan pernah menguji manusia diluar batas kemampuannya." kurang lbhnya gtu klmtnya, kepanjangan susah ngingatnya. Usahaku tak sia2, dan masa 3 tahun bersamanya, byk hal yg ku petik dr kisah hidup temanku, begitupun dirinya, dia yg pertama kali dingin, telah menguap rasa dingin itu menjadi hangat. Dia sdh jarang di bully, sdh bs berbaur dgn tetangga dan lingkungannya. Terimakasih teman kehadiranmu pernah jd warna tersendiri dlm hidupku, aku akan selalu merindukan kehadiranmu.
Logged
Jujurlah pada dirimu sendiri, jujur apa adanya. Jujur dengan fakta yang ada, walau dunia memusuhimu tetaplah jujur adanya.

dimengertiaja

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 125
Re: Kisah-kisah inspirasional..........
« Reply #759 on: August 27, 2015, 04:01:35 pm »

Surat Untuk Bapak

Semenjak kepergian bapaknya, ponakanku Alif Ardezir Zidane (6 tahun) jadi lebih dewasa. Banyak hal hal baru yang dia bisa lakukan. Masuk SD kelas satu. Dia mulai lancar baca, semua bacaan di pinggir jalan dibaca. Mulai bisa naik sepeda, malam malam jam 11 pun cari cari kesempatan pager rumah terbuka dan dia segera tancap sepeda BMX nya. Mulai bisa berenang, sampe item banget. Mulai bisa nulis, walaupun tulisannya masih susah dibaca.


Selalu ceria dan nakal selayaknya anak kecil. Sepintas anak ini seperti tidak memahami arti meninggal dunia. Tapi sebenernya jauh didalam hatinya dia ngerti. Cuma dia tidak menunjukanya seperti orang dewasa. Pernah dia kepergok ngomong berdua sama adiknya Rani (3 tahun) bilang: “Kita begini kan karena Bapak sudah tidak ada”. Gak jelas maksudnya begini itu apa.

Yang bikin Ibunya kaget dia pernah tanya gimana caranya kalo mau ketemu bapak. Apakah bunuh diri saja yah.. sambil cengar cengir.. Ibuanya cuma bilang hush…

Pernah lagi dia tanya apakah Ibunya gak pengin punya bapak baru (suami baru maksudnya). Ibunya cuma bilang: “trus bapak Hendry di Surga gimana?”.. dia cuma cengar cengir. Tiap hari selalu diajar untuk mendoakan Bapaknya di Surga. Rupanya tertanam konsep bahwa kematian itu suatu kehidupan yang lain.

Suatu waktu kelinci piaraanya mati kemudian ia menulis surat di secarik kertas yang terhempas disudut ruangan. Ketika menyapu lantai Ibunya memungut lalu membacanya. Rupanya itu surat untuk bapaknya. Lihat foto dibawah:


Memang susah dibaca, berikut terjemahannya:
Quote
selasa 2 oktober 2007
makam bapak hendriyanto yang sudah meninggal dunia
pak tolong jaga kelinci Alif
pak dapet salam dari ibu peluk cium sayang untuk bapak
salam juga dari ade Rani
ade dan kakak kangen sama bapak
bapak seneng ya disurga semoga bahagia selamanya
pa tungguin ya kaka ibu dan ade rani ya pa di surga

Ibunya membaca dengan berlinang linang air mata. Anaknya yang selalu tampil cuek dan jahil itu ternyata punya kesan yang amat mendalam dengan kematian.

Buat Alifku, ini doamu Om pasang disini biar dibaca semua orang ya nak, semoga semua orang ikut mendoakan Bapak di Surga. Amien ya Allah amien, besok jadi buka puasa bareng si Ntong di TPI? yuk Om anter…..
----------------

Disclaimer: Artikel ini ditulis oleh Wibisono Sastrodiwiryo. Selengkapnya bisa dilihat di sini: http://dendemang.wordpress.com/2007/10/06/surat-untuk-bapak/


ceritanya menyentuh hatii bangett ...
kasiaaaann ...


Logged
Berita Teknologi  --> Bacait.net :)
Pages: 1 ... 72 73 74 75 [76] 77   Go Up