;

Welcome, Guest. Please login or register.
Did you miss your activation email?

Username: Password:
Pages: [1] 2   Go Down

Author Topic: Penyandang Ajisaka -- proyek novel Fantasi-Nasionalis, revolusi kepenulisan.  (Read 2646 times)

sa_ter

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 12
  • Aku hanyalah pemuda yang ingin merubah dunia!

Halo, salam kenal semuanya. Saya member baru di sini, otomatis saya belum menguasai segala peraturan. Jadi, jika ada kesalahan jangan segan-segan menegur saya.

Sebelumnya, saya ingin menceritakan keinginan saya untuk membuat novel dengan latar indonesia. Selama ini kan novel fantasi yang ada kebanyakan menggunakan nama-nama asing. Nah, dari sinilah saya ingin memulai perubahan.

Silahkan kalian komentar. Setiap masukan akan sangat berarti bagi saya. Menurut kalian, seperti apakah cerita saya berikut? Bagaimana deskripsinya? Bagaimana suasananya, terasa atauu tidak? Bagaimana penulisannya? Bagaimana dari segi logika dan fakta? Dan terakhir, bagaimana kesimpulan kalian, jelek atau bagus?


======***======


Penyandang Ajisaka


Prolog



ADIPATI CANCARAKA mengerjap beberapa kali. Keningnya serasa terbakar, tersayat, mengeluarkan cairan merah kental yang memedihkan mata kanannya. Belum selesai otaknya membebaskan diri dari rasa sakit yang tiba-tiba, sebuah tendangan penghancur menghujam dadanya, membuatnya merasa remuk hingga tidak lagi memiliki tulang-tulang. Kesakitan, ia terjatuh ke lantai kayu.

Ia mencoba mempererat kelima jemarinya, yang ternyata hanya menggenggam udara kosong. Sang adipati bersusah payah melirik, dan seketika harapannya pupus ; badik miliknya telah terlepas, tergeletak di samping kaki sang pembunuh.

“Di mana tempatnya?” Suara dingin pembunuh itu bergema di seluruh penjuru ruangan. Di luar, samar-samar denting pertarungan menyelusup terbawa angin malam.

Adipati Cancaraka mencoba berdiri, tapi hanya sebatas mengangkat kepala gerakannya terhenti. Kepalanya dimiringkan tepat pada waktunya, secara spontan, tepat ketika bilah tajam mandau merobek udara yang berbatasan dengan pipi kirinya. Gelombang dingin serasa menjalar, membekukan denyut nadi dan detak rapuh di jantung tuanya.

Ia berkata, ingin tertawa, tapi justu batuk darah yang keluar. “Kau tidak bisa mendapatkannya! Pasukanku akan memilih membakar semua lembaran itu daripada memberikannya padamu!”

Seakan diaba-aba oleh perkataannya, mandau yang menancap di papan kayu berayun miring dengan desingan yang menyayat. Adipati Cancaraka masih sempat melihat codet luka mengerikan yang menghiasi ruang renggang di antara mata tajam pembunuhnya, dan sadar bahwa itu adalah pemandangan terakhir yang ia lihat.*
« Last Edit: June 08, 2011, 07:29:43 pm by sa_ter »
Logged
I Write, Therefore I am.

cheppy70

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 930

Hehe, sorry boss, ente ga bisa mengklaim revolusi, soalnya ente bukan yang pertama, udah gue duluin, hehehe. Baca aja Garuda 5: Utusan Iblis terbitan tiga Kelana.

But anyway, yang ambil jalur seperti kita emang masih jarang, bro! So kuucapkan selamat, dan majulah terus.

Untuk prolog ini, udah menarik.  Diterusin aja. Catatan si adipati pakainya senjata badik, berarti nih orang bugis ya?  :-\

Salam,

FAPur
Logged

sa_ter

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 12
  • Aku hanyalah pemuda yang ingin merubah dunia!

Hehe, sorry boss, ente ga bisa mengklaim revolusi, soalnya ente bukan yang pertama, udah gue duluin, hehehe. Baca aja Garuda 5: Utusan Iblis terbitan tiga Kelana.

But anyway, yang ambil jalur seperti kita emang masih jarang, bro! So kuucapkan selamat, dan majulah terus.

Untuk prolog ini, udah menarik.  Diterusin aja. Catatan si adipati pakainya senjata badik, berarti nih orang bugis ya?  :-\

Salam,

FAPur

Wah, brarti aku penerus perjuanganmu. Jangan khawatir, aku kenal dua penulis lain yg berada di pihak kita.
Sebenarnya, ini bukan tentang suku. Ini nanti murni fantasi. Terima kasih komentarnya. Salam kenal.
Logged
I Write, Therefore I am.

sa_ter

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 12
  • Aku hanyalah pemuda yang ingin merubah dunia!

Ini dia, saya post lanjutannya. Bagi yang sudah membuka page ini, jangan asal membuka, berilah komentar. Setiap kata yang kalian tulis disini merupakan sumbangsih yang tak ternilai bagi saya. Bagi yang sudah berkomentar, saya ucapkan terima kasih dan jangan sungkan untuk mengajak member lain kesini.

Penyandang Ajisaka

BAB 1

Hari memasuki waktu sirep. Penjaga itu mengamati Kotaraja Anila yang telah sempurna dalam bayang-bayang malam. Rumah-rumah kayu yang masih menyorotkan sinar dian—lampu minyak—hanya tinggal beberapa, sebagian besar dari rumah joglo milik para bangsawan ataupun golongan pedagang yang tengah merencanakan esok hari. Jalan panjang yang membelah kotaraja, yang menghubungkan gerbang kotaraja dengan gerbang keraton, juga penuh dengan dian di sepanjang sisinya. Api kecil menari-nari menyimbolkan kedamaian yang sedang berlangsung saat ini.

Kotaraja ini tak ubahnya sebuah benteng. Tempat di mana pusat pemerintahan berada. Terletak di atas bukit, dikelilingi dinding-dinding batu dan bata yang sangat tebal. Aktifitas perdagangan tidak pernah mati, baik di dalam benteng maupun di sekeliling bukit Anila yang dipenuhi desa-desa makmur.

Penjaga tersebut duduk di kursi kayunya, membuka tutup tabung bambu di meja, lalu meneguk minuman pahit di dalamnya. Ia pun tahu rasa itu, tapi tetap meminumnya karena dapat memberinya kekuatan untuk terjaga sepanjang malam. Kabarnya, minuman seperti ini diramu dari tanaman yang hanya tumbuh di Anila. Orang-orang desa menyebutnya kopi. Penjaga tersebut mendengar desas-desus bahwa Syahbandar Surapati bermaksud menjadikannya dagangan utama karena kepopulerannya yang cepat menyebar.

Benar-benar masa yang damai, pikirnya, menyadari banyak sekali temuan-temuan baru semenjak Perang Keris berakhir ; mulai dari pengembangan kain menjadi baju siap pakai, daun lontar dan kemiri untuk menulis, dan juga berbagai ramuan masakan yang muncul di berbagai pedesaan. Ia heran kenapa masih ada pihak-pihak yang membenci kedamaian ini, terutama golongan Ksatriya miskin yang mengaku menganggur tanpa pekerjaan. Mereka, kabarnya, membentuk sebuah arena tanding di suatu daerah di Kerajaan Wilis, di sana para Ksatriya dari berbagai penjuru Pulau Selatan berdatangan untuk bertarung dan mempertaruhkan emas.

Lamunan penjaga itu terbuyarkan oleh rentetan derap kaki yang semakin mendekat ; ia menoleh ke bawah melewati ujung runcing dinding benteng, ke arah punggung bukit yang dipenuhi goyangan rumput. Menara setinggi lima belas tombak yang ia duduki sekarang memiliki pemandangan tak terbatas ke segala penjuru Arum Kenongo.

Samar-samar, di balik keremangan waktu sirep, ia melihat bentuk gelap bergerak meniti jalan raya. Sosok itu terlalu besar untuk ukuran manusia, semakin mendekat dan terlihat seseorang terengah-engah menaiki kuda. Sosok itu masuk dalam jangkauan lampu minyak di depan gerbang kotaraja, tapi ia tidak berhenti sampai kudanya hampir menabrak gerbang.

Meskipun masa damai, gerbang kayu itu selalu tertutup pada malam hari. Dengan tinggi kisaran tiga belas tombak, setengah tombak lebih tinggi dari tembok batu yang mengapitnya. Sang penjaga sudah turun dari menara penjagaan ketika gerbang digedor-gedor. Dipanggilnya tiga orang rekan penjaga yang tampak kebingungan. Mengabaikan pertanyaan mereka, ia memberi isyarat untuk mengangkat batangan besi yang menyelarak gerbang dari dalam. Tepat saat pintu gerbang berderak membuka sebesar badan, seekor kuda menerjang masuk dengan kacau hingga menjatuhkan penunggangnya sendiri. Seorang pemuda mendesah-desah di tanah, ditinggalkan kudanya yang meringkik di samping pos jaga.

“Siapa kau?” Penjaga tersebut menyiagakan tangannya pada tombak di punggungnya. Di belakangnya, kuda semakin meringkik nyaring menyusul penjaga lain yang terbangun dan lampu dian yang semakin banyak menyala. Langkah-langkah kaki prajurit berjalan mendekat.

“Kla...ar...p...dis..e...ang...” rintih pemuda itu. Kedua tangannya mencengkram perutnya sendiri, sedangkan matanya yang lebar melotot ke arah langit seolah memohon sesuatu.

Tatapan penjaga tersebut beralih ; ia melihat perut yang kurus itu terbuka, seragam coklatnya robek, menampakkan darah merah yang terus merembes dari daging segarnya yang merah. Sang penjaga berdesir, menahan keterkejutannya. Ia menunduk, melihat jelas pada pembebat lengan pemuda yang menahan darah itu ternyata adalah ikat kepala dengan gambar bunga kenanga—ciri khas prajurit Arum Kenongo—yang beralih fungsi dan telah ia lihat sekilas dari menara. Pemuda ini adalah prajurit. Mata sosok pemuda di bawah sang penjaga masih melotot, seakan ingin mengucapkan kata-kata yang lebih banyak.

“Ada apa? Bicaralah!”

“Kla...rap...” Lalu mulutnya hanya terbuka tanpa mengucapkan sepatah kata pun, seakan-akan arwahnya keluar dari sana. Suasana sunyi, ringkik kuda masih terdengar dari belakang.

Penjaga tersebut menutup kedua mata yang masih melotot itu, wajah pemuda di bawahnya penuh dengan luka yang masih baru. Klarap. Kadipaten itu berjarak setengah hari perjalanan tanpa kuda dari Arum Kenongo.

“Haritala? Apa yang terjadi?” Dua rekannya yang berusaha menenangkan kuda memanggil namanya, tapi ia sudah menunggangi kuda prajurit yang berbaris di dinding dalam benteng dan melesat menuju Keraton Arum Kenongo.

***

Putra Mahkota Arum Kenongo, Yuda Handaka, berdiri seorang diri di tepi kolam yang berkecipuk karena gerakan ikan mas di dalamnya. Bunga-bunga kenanga kecil berguguran menimpa rambut hitam lebatnya, menebarkan semerbak harum di selingkar taman. Sambil memutar badan, ia meresapi desahan lembut sang pohon. Bernyanyi. Seakan-akan ada melodi di baliknya, seperti tiupan halus seruling yang biasa dimainkan dayang-dayangnya. Naik turun membentuk irama yang membawa hati.

Yuda Handaka mendongak ke arah langit yang bertaburkan jutaan permata, karya alam yang tidak ternilai. Jika ada sesuatu yang tidak dimiliki kerajaannya, Kerajaan Arum Kenongo, maka ialah bintang-bintang di langit.
 
Sang Raden kini duduk di beranda, membelakangi pintu masuk menuju kedaton, menghadap ke arah dinding di seberang taman. Salah satu dinding yang memisahkannya dari dunia luar. Selama ini, Yuda Handaka berkali-kali mendengar nama-nama besar seperti Danu, Wilis, Hemas, Hengkara, dan lain sebagainya. Tapi tidak pernah sekalipun menjamahnya karena dipisahkan dinding-dinding itu. Apakah tempat itu seindah Arum Kenongo? Apakah di sana ada pendekar yang bisa mengalahkanku? Masa damai yang lama berlangsung sebelum ia lahir telah mematahkan harapannya untuk dapat berperang demi bangsanya.

Arum Kenongo adalah kerajaan terbesar yang terletak di tengah-tengah Pulau Selatan, dengan bala tentara paling ditakuti di seantero jagat. Anila sebagai ibukota Arum Kenongo terletak di tengah-tengah kerajaan, dikelilingi empat kadipaten lain ; Kadipaten Indra di utara, Kadipaten Jajar di timur, Kadipaten Kacaya di selatan, dan Kadipaten Klarap di barat. Masing-masing kadipaten memiliki bala tentara sendiri. Anila pun terletak di atas bukit, dengan lingkaran dinding-dinding bata yang kokoh. Selama ini, hanya ada satu kerajaan yang digadang-gadang mampu mengimbangi kekuatan Arum Kenongo, yaitu Kerajaan Danu. Kerajaan yang memiliki banyak shaman—dukun.

Dari kelima Kadipaten, yang paling sering Yuda kunjungi adalah Kadipaten Klarap. Kadipaten itu memiliki ruang khusus untuk menyimpan catatan-catatan sejarah Arum Kenongo. Dipandu Adipati Cancaraka, Yuda sering membaca dan belajar di sana. Beliaulah yang pertama kali mengenalkan daun lontar dan kemiri padanya, ia juga yang menceritakan padanya awal mula Perang Keris yang tidak tercantum secara detail di buku. Bagi Yuda, Adipati Cancaraka adalah pria dengan pengetahuan luas, jendela darimana ia melihat dunia baru.

Yuda Handaka masih duduk melamun di beranda kedaton ketika gerbang diketuk berkali-kali. Untuk sesaat, Yuda hanya memandang gerbang kayu besar itu. Ia merasa heran ada yang mendatangi kediaman raja pada waktu sirep seperti ini.

Gerbang itu dibuka beberapa lama kemudian oleh penjaga. Yuda mendengar suara seorang pria berbicara dengan cepat. Si penjaga mencoba menyuruh mereka pergi, tapi pria itu mendesak.

“Ah! Pangeran Yuda!” Seru pria itu ketika Yuda melangkah mendekat.

Lampu-lampu minyak menyoroti wajah Mahapatih Astama yang penuh dengan kerutan. Bola matanya yang kelabu menatap cemas, sementara tangannya yang besar dan kecoklatan menahan daun gerbang agar tidak segera ditutup oleh si penjaga.

Yuda melangkah maju begitu penjaganya mundur sambil menunduk. Ia baru sadar bahwa Astama tidak sendiri, ia bersama seorang prajurit di belakangnya. Mereka berdua bergegas maju setengah membungkuk dan menyalami Yuda dengan kedua tangan.

“Ada apa, Mahapatih?”

“Hamba ingin bertemu maharaja, Pangeran.” Astama memandang melewati bahu Yuda. Pria ini memang sangat akrab dengan keluarga keraton, dan kunjungannya ke kedaton kali ini bukanlah yang pertama.

“Aku tidak tahu. Kulihat tadi ayah sedang membaca laporan dari syahbandar.” Yuda terdiam sejenak, lalu melirik pada prajurit yang masih menunduk memandang tanah. Adat yang umum di kalangan Arum Kenongo. “Ada masalah apa, Mahapatih? Kenapa kau membawa prajurit?”

Patih Astama dan prajuritnya saling berpandangan ; Yuda mencoba membaca isyarat mata mereka. Cemas? Mendesak?

“Baru saja ada prajurit datang ke Anila,” tutur sang patih sembari membenarkan baju luriknya yang sebenarnya tidak apa-apa. “dia terluka parah dan....meninggal setelah mamasuki gerbang.”

“Prajurit?” Yuda memandang prajurit di samping Patih Astama. Jelas bukan prajurit yang segar bugar itu.

“Haritala,” sang prajurit muda mendongak mendengar namanya dipanggil. Rambutnya yang pendek berantakan, sama seperti sorot matanya yang sulit untuk dilukiskan. Penuh dengan aksara yang akan ia utarakan. “coba kau ceritakan.”

***

Sosok itu sudah lama berdiri dalam gelap. Angin yang berhembus kuat malam ini tidak hanya membuat bibir jubah hitamnya melambai-lambai mistis, tapi juga memperbesar kobaran api di kadipaten di kejauhan. Sosok itu sudah tidak sabar untuk membaca lagi gulungan kering kulit binatang dan daun lontar di genggamannya, tapi ia sadar masih ada satu kejutan lagi yang harus ia berikan.

Akhirnya, setelah cukup lama menanti, anak buahnya yang juga berpenampilan sama seperti dirinya datang dengan gerakan berkelebat yang sukar dilihat mata biasa. Satu-satunya yang membedakan ia dan anak buahnya adalah ada tidaknya kain penutup kepala. Sebenarnya, mereka semua mengenakan penutup wajah, tapi sang pimpinan kehilangan miliknya dalam pertarungan singkat.

“Bagaimana? Apa yang kau dapatkan?” tanyanya, pada anak buah yang membungkuk hormat di depannya.

Anak buah itu lalu mengucapkan laporannya dengan pasti, membuat sosok di depannya mengulas senyum licik.*
« Last Edit: June 10, 2011, 06:32:27 pm by sa_ter »
Logged
I Write, Therefore I am.

sa_ter

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 12
  • Aku hanyalah pemuda yang ingin merubah dunia!

untuk tag <i>...</i>, itu sebenarnya tag untuk membuat huruf yang diapit menjadi cetak miring. Tapi karena fasilitas itu tidak tersedia disini, ya apa boleh buat.
Logged
I Write, Therefore I am.

cheppy70

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 930

untuk tag <i>...</i>, itu sebenarnya tag untuk membuat huruf yang diapit menjadi cetak miring. Tapi karena fasilitas itu tidak tersedia disini, ya apa boleh buat.

Kalo di sini tagnya pakai tanda kurung kotak, bro.  ;D

Logged

fireCyclops

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 165
  • I Play - I Inspired - I Create
    • IKU

btw, Sater, ada baiknya u search di google untuk mencari nama2 Hindu atau sansekerta sebagai referensi nama buat cerita lu.
ini cuma saran. diterima, thx, ga diterima, gw percaya lu ada kebijakan sendiri untuk itu.

sa_ter

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 12
  • Aku hanyalah pemuda yang ingin merubah dunia!

untuk tag <i>...</i>, itu sebenarnya tag untuk membuat huruf yang diapit menjadi cetak miring. Tapi karena fasilitas itu tidak tersedia disini, ya apa boleh buat.

Kalo di sini tagnya pakai tanda kurung kotak, bro.  ;D


wah! terima kasih. Salam kenal ya1 Btw, bagaimana ceritaku?
Logged
I Write, Therefore I am.

sa_ter

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 12
  • Aku hanyalah pemuda yang ingin merubah dunia!

btw, Sater, ada baiknya u search di google untuk mencari nama2 Hindu atau sansekerta sebagai referensi nama buat cerita lu.
ini cuma saran. diterima, thx, ga diterima, gw percaya lu ada kebijakan sendiri untuk itu.


Memang nama-namaku kenapa bro? Mkasih sarannya, tapi, btw, lain kali kalo ngasih saran saya minta alasannya juga.

Kalo memakai nama Hindu-sansekerta, itu berarti melibatkan universe asing bro. Padahal saya maunya yang dalam negeri saja (Hidup cinta Nusantara!). Ini saya pakai nama-nama bahasa kawi kuno.
Logged
I Write, Therefore I am.

ewingerwin

  • Cabin Crew
  • *
  • Keong: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 495
    • Rahim Setan

Oke, gw coba komen ya  :) .


Pertama, prolognya terkesan derivatif. Nggak bagus, nggak jelek, cuma prolog Da Vinci Code bangeeeettzzzz  [hmpfh]


Diksi lu banyak yang bikin feel klasiknya lepas. "Ekspor" bikin gw kebayang kapal barang, peti kemas, truk gandeng. Jelas nggak cocok sama setting cerita lu. "Shaman" juga nggak perlu, toh lu udah nulis dukun di situ.  ;)



Quote
Bunga-bunga kenanga kecil berguguran menimpa rambut hitam lebatnya, menebarkan semerbak harum yang sama sekali tidak ia risaukan.

Kalimat terakhirnya nggak perlu dan terasa boros. Kenapa juga dia harus risau sama wangi kenanga? Itu sama aja presiden direktur laporan ke pemegang saham bahwa laba bersih perusahaan naik 120%, tapi pemegang saham nggak perlu risau. (Lha, kenapa juga mereka harus risau?  ??? )

 
Terus bagian awal bab 1 dan bagian awal Putra Mahkota Arum Kenongo, agak terlalu banyak info yang nggak perlu dan bikin males bacanya.  :P



Selain itu, gw akui, penulisannya cukup baik. Terus terang, ini bisa menjadi cerita yang bagus.


Revolusioner? Berdasarkan yang gw baca sejauh ini, sayangnya tidak.


Segitu aja. Semoga bermanfaat, dan lanjut terus nulisnya  :)
Pages: [1] 2   Go Up