;

Welcome, Guest. Please login or register.
Did you miss your activation email?

Username: Password:
Pages: [1]   Go Down

Author Topic: Kumpulan Tips & Tricks Kamera Digital  (Read 34620 times)

xugari

  • Penyelam Unggul
  • *****
  • Keong: 1
  • Offline Offline
  • Posts: 6136
Kumpulan Tips & Tricks Kamera Digital
« on: May 26, 2008, 07:12:07 AM »

TIPS MERAWAT KAMERA

Berikut adalah beberapa tips kami untuk perawatan kamera Anda:

 
Menempatkan kamera pada ruangan tertutup (dalam tas) dapat membantu menurunkan intensitas dan kuantitas masuknya debu, kotoran dan helai bulu yang dapat masuk atau menempel pada unit kamera. Perlu ekstra hati-hati ketika foto pada lingkungan yang berdebu dan perpasir (pantai).
Gunakan alat perawatan kamera yang tepat dan benar. Hindari penggunaan tissue biasa, kaos baju, alcohol dan bahan lainnya yang tidak dikhususkan untuk perawatan kamera. (silakan periksa item barang kami pada ‘tools untuk merawat kamera’)
Bersihkan kamera dan lensa secara teratur, khususnya setelah digunakan pada ruang terbuka atau setelah hunting. Simpan kamera pada tas dan selipkan silica gel pada ruang tas untuk membantu merawat tas dari jamur.
Gunakan filter yang tepat dan sesuai untuk kamera, beberapa kamera sangat sensitif terhadap sinar ultraviolet dari matahari.
Bila terdapat cukup banyak asesoris kamera, maka sebaiknya ditempatkan pada 1 tas secara bersamaan untuk memudahkan pengawasan kamera kesayangan Anda.
Jangan membawa kamera SLR dengan flash yang menempel apabila melakukan perjalanan yang jauh karena ‘shoe base’ flash atau ‘flash rail’ akan rawan terhadap kerusakan.
Matikan kamera secara manual umumnya lebih baik daripada kamera mati secara otomatis, karena memperpanjang umur baterai.
Lepaskan baterai dari kamera apabila sedang tidak digunakan pada waktu yang lama.
Bersihkan tangan Anda dari kotoran sebelum mulai memfoto.
Jika kamera terkena air, segera bersihkan dan keringkan secara seksama. Dapat menggunakan hairdryer dengan panas secukupnya untuk mengeringkan kamera dari air.

----------------------------

Tips Merawat Camera Digital


• Jauhkan dari Kapur Barus

Kapur barus termasuk benda perusak yang sangat 'ampuh' terhadap kamera, yang dapat menyekat-nyekat kamera dan bagian kamera yang lain, yang berbahan dasar karet. Pada kamera elektronik, kapur barus bisa merusak jalur pada PCB (Printed Circuit Board), yaitu tempat chip-chip kamera terpasang dan beberapa elemen chip itu sendiri. Bahka uap kapur barus itu juga dapat menodai dan membuat 'flek' pada lensa.

Sebaiknya, simpanlah kamera di tempat yang kedap udara, sejuk dan kering. Jika harga lemari khusus untuk penyimpanan kamera terlalu mahal bagi anda, anda bisa mencari media penyimpanan alternatif sebagai penggantinya. Seperti misalnya, anda dapat menyimpan kamera dalam stoples yang tertutup rapat dan di dalamnya diberi silica gel, untuk menyerap kelembabannya.

Atau, anda bisa juga menyimpannya dalam lemari yang telah diatur sirkulasi udara dan kelembabannya. Caranya, dengan memasang lampu berkekuatan 5 watt dan diletakkan pada jarak kurang lebih 40 cm di atas kamera dan perlengkapan yang lainnya. Jangan lupa untuk membuka pembungkus kamera dan membersihkannya dari debu sebelum menyimpannya.

Ingat, kerusakan kamera yang diakibatkan oleh kapur barus biasanya tak bisa diperbaiki lagi. Maka, jangan sekali-kali menyimpan kamera di dalam lemari apapun yang telah diisi kapur barus atau kamper pengharum pakaian.

• Hindari Kontak Langsung dengan Sinar Matahari

Jagalah kamera agar jangan sampai terjemur atau terkena cahaya matahari secara langsung dan berlebihan. Panas yang tinggi dapat merusak bagian-bagian kamera yang terbuat dari plastik dan karet, serta komponen elektronik yang lainnya.

• Jagalah dari Goncangan yang Berlebihan

Jangan lupa untuk menaruhnya di dalam tas khusus kamera, guna menghindari guncangan yang berlebihan dengan lingkungan luar maupun benturan antar peralatan. Taruhlah kamera di tempat yang aman dan tahan terhadap guncangan.

• Bersihkan Kamera dan Lensa

Sebaiknya kamera dibersihkan seminggu sekali atau secara teratur dan berkala. Untuk bagian luar fisik kamera, gunakan lap kering yang bersih dan tak kasar. Sedangkan untuk bagian dalam dan elemen-elemen kecilnya, gunakan blower atau peniup yang banyak dijual di toko kamera. Selain blower, juga bisa digunakan kuas berserabut halus, yang belum pernah dipergunakan pada benda yang lain.

Untuk membersihkan lensa yang terkena noda, misalnya terkena jari yang berminyak atau air keringat dari pemakai, pakailah tissue khusus yang banyak dijual di toko

• Hindari Goresan pada Lensa

Untuk menghindari goresan, sebaiknya lensa mempunyai filter ulir yang terpasang permanen di bagian depannya. Filter yang umum menjadi pelindung adalah jenis filter UV (Ultra Violet) atau filter skylight. Sedangkan untuk menghindari goresan di bagian belakang lensa, usahakan selalu memasang 'bodycup' penutup saat lensa dilepas dari badan kamera.

• Hindari Air Laut

Jika anda menggunakan kamera di pantai, jagalah agar kamera tak terkena air laut atau bahkan jatuh ke dalamnya. Air laut sangat jahat dan penyebab karat yang potensial terhadap kamera ataupun perangkat elektronik yang lainnya. kecuali yang memang dirancang untuk bisa beradaptasi dengannya.

Sehabis digunakan di daerah pantai, pembersihan kamera wajib dilakukan sesegera mungkin. Uap air laut seringkali meninggalkan butir-butir garam yang menyebabkan karat pada kamera. Jika suatu saat, tanpa sengaja kamera anda tercebur ke dalam air laut, langsung rendam kamera anda ke dalam air tawar, kemudian bilaslah berkali-kali untuk menghilangkan bekas-bekas air laut.

Proses pengrusakan oleh air laut berlangsung sangat cepat dan dalam hitungan menit setelah tercebur, sehingga bila pembilasan air ini tidak dilakukan sesegera mungkin, kamera yang tercebur ke dalam air laut tak akan bisa diselamatkan. Setelah dibilas hingga bersih dari air laut, bawa segera ke ahli servis kamera untuk membersihkannya dan mengeringkan kamera tersebut.

• Service di Tempat Terpercaya atau Resmi

Secara berkala, dalam kurun waktu tertentu, sebaiknya kamera digital diservis ke tempat khusus, terpercaya dan malah lebih bagus yang resmi. Jangan tunggu kamera rusak kemudian baru diservis. Servis yang dimaksud adalah 'servis besar', yang meliputi pembersihan bagian dalam kamera, seperti pembersihan lensa dari jamur yang menempel atau juga penyesuaian setelan-setelan utama kamera.

Jangan terlampau sering mencuci lensa atau membersihkan bagian dalamnya bila berjamur. Kaca lensa begitu peka. Makin sering dibersihkan, dapat mengakibatkan mutu gambar akan menurun. Untuk menjaga dan merawatnya, sebaiknya jangan disimpan di lemari pakaian anda, karena hal itu akan berpotensi mengundang jamur yang menempel di lensa bagian dalam kamera.

sumber: delta84.multiply

--------------------

TIPS MERAWAT HANDYCAM

Handycam Tips:
Tapes should not be left in camcorders when they are not in use. The tape may develop creases because of the way it is wrapped around the drum that reads the tape. These creases may cause recording and playback problems. The tape may also stick to the drum.
Do not put a really cold video tape into your camcorder.  Moisture from the warmer air tends to condense on the tape (just like it fogs your glasses when you come inside in winter), and that moisture can cause the tape to stick to the spinning drum.  The tape will get wrapped around the drum, destroying the tape and possibly damaging the video heads.  
Batteries should not be left on camcorders that are not in use.  Some cameras draw a small, but constant, current even when turned off.  
Purchase "memory free" camcorder batteries when replacing old batteries. This style battery allows you to use the battery for short periods of time, and recharge it without developing a situation in which the battery will only charge for short term use.  
Do not leave camcorder tapes in a hot car.  
Do not put labels on camcorder tapes where they may interfere with the opening of the tape door. This may cause the tape to jam in the camera.  
We recommend that a technician clean the tape heads when they get dirty. This will help preserve the life of the heads.

-----------------------------

Tips membeli kamera digital

 1.Belilah produk bermutu.
 Sebaiknya anda membeli produk kamera digital yang bermutu atau berkualitas, baik fitur, desain ataupun hasil foto kamera digital itu sendiri, banyak sekali kamera digital yang harganya sangat murah tetapi sebaiknya anda berfikir dua kali apabila ingin membelinya karena apabila produk tersebut tidak seperti yang anda harapkan terutama hasil foto dari kamera digital tersebut nantinya akan sangat mengecewakan anda.
 
2. Sesuai budget
Belilah kamera digital sesuai dengan budget yang anda miliki, ini merupakan salah satu tips yang manjur agar anda tidak dipusingkan atau dibuat bingung oleh beragam tipe, jenis dan merk kamera digital yang ditawarkan.  
  
3. Mencoba kamera digital
Usahakan agar Anda dapat mencoba kamera digital yang hendak anda beli, kunjungi konter kamera digital dan anda dapat menggunakan unit DEMO, cobalah fitur, fasilitas dan jangan lupa untuk melihat kualitas hasil foto  kamera digital tersebut.

4. Belilah kamera digital bergaransi resmi
Sebaiknya anda membeli kamera digital yang bergaransi resmi, sekarang banyak sekali produk kamera digital yang tidak bergaransi resmi atau parahnya lagi banyak juga yang tidak disertai garansi, akibatnya apabila kamera tersebut mengalami kerusakan customer tidak dapat meng-klaim per- baikan dan penggantian suku cadang secara gratis di tahun pertama dan kedua berlakunya masa garansi.

Sumber    :    www.nikon.co.id

----------------

Tips Memilih Kamera Digital
 

Kamera Digital mempunyai jenis yang bermacam-macam dan fitur yang terkadang membuat kita bingung untuk memilih sesuai dengan kebutuhan kita. Memilih kamera sebenarnya gampang-gampang susah terutama bagi pengguna yang masuk kategori pemula atau amatir. Oleh karena itu, tips ini sangat berguna bagi calon pengguna kamera sebelum memilih kamera digital yang diinginkan. Berikut beberapa tips sebelum berburu kamera digital.

Resolusi
Gambar digital dibuat oleh titik-titik yang disebut piksel. Resolusi ini merujuk pada banyaknya piksel yang bekerja sama membuat suatu foto. Biasanya ditunjukkan oleh horizontal x vertikal. Resolusi 1280x960 memiliki total 1,2 Megapiksel. Semakin besar resolusi akan memproduksi foto yang juga lebih baik.

Sesuaikan resolusi yang ditawarkan dengan pilihan Anda. Biasanya dalam satu kamera tersedia pilihan resolusi yang berbeda. Jika hanya ingin mengirim foto melalui e-mail, resolusi 640x480 sudah memadai. Tapi jika ingin mencetak sebaiknya pilih resolusi yang lebih besar, agar gambar tidak pecah dan buram.

Pastikan fitur pendukung lainnya
Sebelum membeli, pastikan kamera digital pilihan Anda memilih beberapa fitur pendukung seperti kemampuan memori tambahan. Ini untuk memperbesar gudang penyimpanan foto Anda.

Jika sesekali menginginkan gambar bergerak, pilih kamera yang mendukung video karena beberapa kamera digital ada yang hanya berkemampuan audio saja. Sesuaikan dengan kebutuhan Anda. Video atau audio?

Selain itu perhatikan kemampuan zoom yang ditawarkan. Optical zoom menjadi pusat perhatian ketimbang digital zoom, si peranti kunak yang menyediakan fasilitas croppping dan memperbesar gambar.

Lampu kilat (flash)
Rata-rata produk kamera digital dilengkapi dengan lampu kilat yang terintegrasi. Ada yang otomatis atau perlu menekan tombol on untuk menjalankannya. Flash berguna sebagai pendukung cahaya.

Gambar yang diambil dalam kondisi agak gelap dapat tetap tampil maksimal dengan bantuan lampu menyilaukan.

Perhatikan juga apakah si ramping memiliki fitur tambahan seperti pengurang efek mata merah. Beberapa produk juga datang dengan pilihan foto untuk pengambilan gambar di malam hari atau night scene.

Layar LCD
Layar LCD di bagian belakang kamera digital memudahkan Anda melihat obyek. Di sini Anda juga bisa melihat dan menghapus gambar yang tidak diinginkan. Pilih layar LCD dengan kandungan resolusi yang cukup besar sehingga warna yang tampil lebih natural. Ukuran layar juga berbeda-beda. Pastikan layar tidak terlalu kecil, sehingga gambar bisa tampil maksimal.

Self-timer
Self timer biasanya bisa mencapai 10 detik. Selain memudahkan memotret gambar diri, fitur ini juga berguna untuk mengambil gambar dalam keadaan cahaya yang kurang karena bisa mengurangi guncangan akibat tekanan pada tombol pengambilan gambar.

Daya tahan baterai
Kalau tak ingin kesenangan terputus gara-gara baterai loyo, Anda perlu memperhatikan berapa lama sumber listrik ini bisa bertahan. Memilih baterai yang bisa diisi ulang (rechargeable) adalah tindakan bijaksana dan lebih hemat.

Koneksi
Perhatikan apakah kamera digital Anda bisa berhubungan dengan perangkat digital lainnya seperti televisi, printer, PC atau Mac. Anda akan tertolong dengan adanya USB kabel.

Anda juga bisa mencetak gambar dengan bantuan kabel USB. Beberapa kamera digital sudah mendukung PictBridge yang membuat Anda leluasa mencetak gambar langsung dari kamera digital meski mereknya berbeda.

Adapun keenam vendor yang mempelopori standar terbuka itu adalah Canon, Hewleet-Packard, Seiko Epson Corporation, Olympus Optical Company, Fuji Photo Film Corporation dan Sony Corporation.

Kalkulasi harga
Jangan lupa untuk mengkalkulasi harga perangkat pendukung lainnya seperti baterai isi ulang dan adapter AC.

Waktu operasi
Pilih kamera digital yang tidak butuh waktu terlalu banyak setelah jeda pengambilan gambar. Selisih waktu 4 hingga 6 detik saja mungkin membuat Anda kurang puas dengan kinerja si ramping.

Bandingkan harga dan garansi
Jangan hanya terpikat pada sati toko saja. Kalau ada waktu luang tidak ada salahnya Anda melakukan riset kecil-kecilan sebelum membeli.

Margin keuntungan yang berbeda menjadi sumber mengapa harga yang Anda temui di toko yang satu tidak sama dengan yang lain. Perhatikan juga garansi.


Akhirnya jangan hanya terpikat pada bentuk tubuh yang menggoda tapi perhatikan isi atau fitur yang ada di dalam suatu produk.

http://www.kamera-digital.com

------------------------

Memotret Foto Berkualitas dengan Kamera Digital

 

Memotret dengan menggunakan kamera analog ataupun digital secara prinsip fotografi tidak berbeda. Bedanya, dengan kamera analog ada penggantian film, sementara kamera digital tidak ada penggantian film tapi dengan sensor digital.

 Namun kamera digital akhir-akhir ini lebih banyak disukai konsumen karena hasil akhirnya bisa langsung dilihat, dan diulang jika hasil fotonya kurang memuaskan. Bagaimana cara menghasilkan foto yang berkualitas lewat kamera digital? Simak beberapa tips berikut ini:

1. Atur kamera dengan mode ukuran gambar paling besar.

 Keuntungan dari mode ini adalah memungkinkan Anda dapat mencetaknya dalam ukuran terbesar tanpa ancaman warna foto pecah. Selain itu Anda juga dapat memotong bagian yang tidak dikehendaki pada foto tersebut. Tidak ada gunanya jika Anda membeli kamera dengan resolusi 5, 6, atau 8 megapiksel, tapi Anda tetap memasang mode ukuran gambar standar, dan bukan maksimum.

 2. Gunakan pengaturan kualitas dengan level maksimal.

 Banyak gambar hasil kamera digital memakai format JPEG. JPEG menghasilkan gambar yang buruk jika dikompresi berlebihan. Agar gambar Anda tampak seperti aslinya, gunakan pengaturan kualitas dengan level maksimal.

 3. Pakai tipe gambar JPEG.

 JPEG, meskipun bersifat lossy (kurang jelas), bisa jadi merupakan pilihan terbaik. Pasalnya, ketika Anda mengambil gambar dengan format JPEG, keuntungan yang diperoleh juga berlipat karena Anda bisa mengolahnya lagi dengan Adobe Photoshop.

 Kamera SLR biasanya memberikan pilihan apakah Anda ingin menggunakan format JPEG, TIF atau Raw. TIF biasa digunakan untuk reproduksi grafis yang berbau seni, misalnya pada majalah dan koran. Sementara Raw, menyimpan apa adanya tanpa pemrosesan gambar lebih lanjut.

 Dibanding dengan TIF dan Raw, format JPEG lebih mudah dikelola dengan Photoshop. Kedua format tersebut (TIF dan Raw-red) hanya akan menambah pekerjaan Anda sewaktu akan diproses pada Photoshop.

 4. Camkan bahwa Whitte Balance itu penting.

 Untuk kebanyakan pengambilan gambar, dianjurkan agar dimulai dengan mode Auto white balance. Fungsinya agar kamera Anda bisa membaca pewarnaan dari cahaya yang ada disekitarnya dan secara otomatis mengatur dirinya sendiri untuk mengoptimalkan white balance.

 Mode Daylight cocok untuk hari terang, sementara jika hari berawan, dianjurkan agar Anda memakai mode Cloudy. Untuk mengevaluasi pewarnaan dan pencahayaan, jangan lupa mengetesnya dengan mengambil satu atau dua gambar.

 5. Jangan lupa mengatur "Low ISO Number" atau "Use Auto ISO".

 Hasil gambar akan lebih jernih jika Anda menggunakan ISO rendah, namun sensitivitas kamera dalam menangkap cahaya menjadi lebih rendah. Sementara jika memakai ISO terlalu tinggi, seperti dilansir Dale laboratories, hanya akan menimbulkan noise pada gambar.

 6. Optimalkan penggunaan Histogram.

 Dengan menggunakan histogram Anda dapat melihat seberapa optimal sensitivitas sensor kamera dalam menangkap gambar.

 7. Hindari menggunakan zoom secara digital.

 Sebaiknya jangan menggunakan zoom secara digital karena hanya akan membuat kinerja chip yang mengatur tingkat resolusi (piksel) pada kamera menjadi boros. Coba gunakan zoom dari lensa saja, agar bisa menghemat penggunaan chip. Selain itu hasil bidikan, jika menggunakan zoom secara digital, tidak sebagus jika menggunakan zoom lensa.

 8. Belilah kartu Memori berkualitas profesional.

 Kecepatan rekam pengambilan gambar dengan memakai memori yang berkualitas tinggi dapat mengimbangi teknologi kamera Anda. Misalnya dengan kartu memori berkecepatan 40x, dapat merekam 3 dari 10 jepretan berturut-turut dalam 1 detik. Sementara dengan memori 4x, Anda hanya bisa merekam 1 gambar dalam 3 detik. Keuntungannya, dengan memori berkualitas tinggi Anda tidak perlu mengkhawatirkan terjadinya pergeseran warna dalam foto.

 9. Backup hasil foto dalam CD atau DVD.

 Menyiapkan payung sebelum hujan adalah lebih baik. Pastikan backup seluruh kreasi foto-foto Anda dalam CD atau DVD, sebagai antisipasi jika hard drive Anda rusak.


Sumber    :     www.kameradigital.com

---------------------------


The 10 Most Frequently-Asked Questions About
Digital Photography



Welcome to the world of digital photography. Now that you've got a camera, these answers will give you all the basic information you need to know before you click. This article covers the following topics:


1. Memory card capacity    
6. Digital camera care

2. Saving photo files    
7. Batteries

3. E-mailing photos    
8. PC memory issues

4. Optical versus digital zoom    
9. Software drivers

5. AC adapters    
10. Archiving photos




MEMORY CARD CAPACITY

1. I saw an advertisement that said a 16MB memory card (like a Secure Digital or CompactFlash card) can store up to 110 images. So why doesn't mine store that many? And exactly how many images can be stored on a 16MB memory card anyway?

That advertising statement is misleading. You may be able to store up to 110 images if you use the camera in its lowest resolution mode. In high resolution, you might get only two dozen. We wish we could tell you for sure, but it depends on the exact size of the file created by a given camera, as well as the resolution that you select.

Keep in mind that CompactFlash and SmartMedia memory cards are competing products and are not interchangeable. You'll find a few cameras that can take both, but generally when you buy a digital camera today, you'll be making a commitment to working with one type of memory card.

 



SAVING PHOTO FILES

2. In what format should I save my digital photos in order to store them?

The building blocks of your image warehouse are the actual file formats in which you save your images. There are two major formats: compressed and uncompressed.
The advantage of uncompressed storage is that you can save a maximal amount of image-forming information.
Compressed file formats get rid of some information to shrink the file size (thereby increasing a disk's storage capacity).

We recommend saving all your work in progress images (equivalent to the negatives in film cameras) as TIF files. This way they will remain at maximal quality so you can create other versions for printing or e-mailing, and can save them in smaller, compressed files like JPGs. The advantage is that you'll always be able to recreate an effect or enhancement by starting with the original TIF file without losing image integrity.

 



E-MAILING PHOTOS

3. In what format should I save my digital photos in order to e-mail them or post them to the Web?

JPG storage is ideal for posting your photos to the Internet, for e-mailing them to friends, or for archiving when you're finished working on them and need to save storage space. The compressed images still look good onscreen and contain a relatively large amount of information in the shrunken file.

JPG storage is great for maximizing space but not for maintaining image quality. If you want to get smaller files for archiving, use minimal JPG compression (high quality/low compression). The ideal compression is lossless, which means there's no discernible drop in image quality even though the file size has decreased.



OPTICAL VERSUS DIGITAL ZOOM

4. What's the difference between optical and digital zoom?

It's important to understand this difference, as you could be disappointed with the results if you get one rather than the other. Optical zoom works like the zoom on a traditional film camera. When you push the button to zoom in or out, physical lens elements move inside the camera, reducing the field of view and making the object you're shooting appear closer. Digital zoom, on the other hand, has no moving parts. The camera interpolates a small portion of an image to artificially restore the file to its original size. Using its electronic brain, the digital camera analyzes what it sees and digitally zooms in, usually two or three times closer.

Unfortunately, digital zoom also reduces the resolution of an image, so your picture will tend to be more pixilated than the same image taken with an optical zoom camera. If you're just snapping an image to e-mail to a friend, this loss of resolution won't be so noticeable. But in situations where the highest quality counts, skip the digital zoom and use your PC's cropping tools to zero in on your subject.



AC ADAPTERS

5. My camera didn't come with an AC adapter. Do I need to buy one?

You will definitely want an AC adapter for your camera. You won't want to be tethered to an electrical cord while taking pictures, but when it comes time to edit the pictures stored on your memory cards or to download your photos onto a computer, you'll find the job much easier if you're running the camera via an AC adapter. Without the continuous power of an adapter, you'll burn through your batteries.



DIGITAL CAMERA CARE

6. What precautions should I take to care for and protect my camera?

Use these camera care tips:
Store everything together in a case for easy transport. Use a good padded case and strap. Not only do cases protect the camera, they often have built-in pockets for batteries and memory cards.
Use lens caps to protect lenses when you're not using your camera. No exceptions.
Clean your camera and lenses often with a soft cloth. The autofocus, exposure, and viewfinder windows need to be clean for correct operation.

Your camera likes the weather to be not too hot and not too cold. Weatherproof your camera with these ideas:
Let your camera kick back under a light-colored towel when you're under the hot sun.
Keep your camera warm under your coat when it's chilly outside.
Bad weather and stormy seas can make for inspiring photographs.
But if you don't take precautions, you'll have a wet digital camera with sand in every crevice. To protect your camera from water, cover it with a plastic bag. Just make a hole for the lens to poke out from, and secure it with a rubber band. Voila: a little rain jacket!



BATTERIES

7. What's the best battery to use in my digital camera? Is it OK to use regular alkaline batteries?

Popular alkaline batteries are inexpensive and can be found anywhere, but their power is consumed at a rapid rate. If you're using all of your camera's features, you can deplete a set of alkaline batteries in about 30 minutes! So you should consider spending a little more up front for a battery charger and some rechargeable batteries. Many cameras work with popular, rechargeable NiMH batteries. NiMH batteries are inexpensive and environmentally friendly, and they give you more pictures per charge than any other battery type, except for lithium ion batteries. Pretty impressive.



PC MEMORY ISSUES

8. My PC currently has 128MB of RAM. When working with large photo files in Photoshop and other applications, it's still slow. Will adding another 128MB of RAM help me handle larger picture files?

If you're working with photo files, there's probably no piece of hardware that will speed up the process like lots of RAM. Anything beyond 128MB will dramatically streamline your workflow. Image-processing programs like Photoshop in particular need much RAM to work efficiently with large files. But the slow speed may be due to another culprit: fragmented hard drive files. If you have problems with speed when opening or closing a file, perhaps your image data is scattered all over your drive. The result? Your hard drive is spending all its time and energy gathering the data to feed to Photoshop. Defragmenting the drive is the simple solution, making all your files nice and tidy. If the files aren't fragmented and more RAM doesn't do the trick, your hard drive may just be slow. Consider replacing it, or adding a second, faster one to your system.



SOFTWARE DRIVERS

9. What exactly is a software driver, and how often do I need to upgrade my Windows® driver for my digital camera?

A driver is a piece of software used by your computer to communicate with a particular peripheral. If your driver isn't updated or properly connected, it may stop your camera from communicating with your PC. This could lead to an abundance of error messages.

Drivers are regularly updated, and new versions can help fix problems and bring significant improvement in performance. There are two main reasons to upgrade drivers: Incompatibility is the most frequent problem solved by a new driver release. And new drivers optimize the communication speed and task sharing between a processor and a peripheral. A new driver can increase performance as much as 50 percent. You can sign up for driver updates from HP.



ARCHIVING PHOTOS

10. What is the best way to archive my digital photo files?

Archiving your images on a DVD is just about the best, most cost-effective way to organize and care for your pictures. Getting started making your own DVDs is easy and doesn't require much investment.

Saving your photos to a rewriteable DVD is quick and easy. And a DVD can hold up to seven times more than a CD: That adds up to about 15,000 photo-quality pictures per DVD! The best part? DVDs make storing and sharing photos a snap.

--------------------------------


Tips Menggunakan Pelindung Kedap Air
 

Salah satu perbedaan antara kamera digital dan kamera film adalah bodi kamera digital cenderung memanas. Akibatnya, bisa terjadi kondensasi atau pengembunan di dalam pelindung kedap air atau pada lensa kamera jika kelembaban di dalam pelindung tinggi.

Oleh sebab itu, anda harus menghindari membuka pelindung di tempat yang lembab, seperti di atas kapal atau di pantai yang basah.

Tidak kalah pentingnya, anda perlu mengganti baterei pada setiap penyelaman jika tidak ingin mengambil risiko kehabisan baterei. Penyelam yang melakukan lebih dari sekali penyelaman dalam sehari perlu menyiapkan beberapa baterei cadangan.

Ketika keluar dari air setelah menyelam, siram dan kocok-kocok pelindung kamera dengan air bersih untuk menghilangkan pasir atau unsur garam yang melekat pada pelindung. Kemudian keringkan seluruh permukaan pelindung dengan lap kering.

Sekalah seluruh permukaan pelindung dan sela-sela tombol dengan handuk. Jika masih terdapat pasir atau benda asing, kocok pelindung dengan air dan seka kembali sampai hilang dan kering. Letakkan pelindung tersebut di atas meja atau kursi dan seka handuk ke seluruh kepala anda untuk mencegah air atau rambut dari kepala jatuh ke dalam pelindung saat dibuka. Tapi jangan lakukan ini persis di atas pelindung yang terbuka.

Ketika anda membuka pelindung kedap air, lakukan dengan cepat. Ganti baterei dengan cepat, perhatikan O-ring, lubangnya dan sisi belakang pelindung itu dari benda asing, masukkan satu atau dua paket gel silika, dan tutup kembali.

Matikan power kamera kalau model kamera digital anda bisa dimatikan saat berada dalam pelindung kedap air. Kalau tanpa fitur ini, atur kamera ke mode pemotretan, matikan monitor LCD dan tunggu sampai sampai kamera masuk ke mode sleep secara otomatis. Lakukan prosedur ini secepat mungkin dan sebaik mungkin sebelum penyelaman berikutnya, supaya paket gel silika mendapat cukup waktu untuk menyerap uap air di dalam pelindung.

Sebelum anda menyelam kembali, lakukan pengujian terhadap pelindung itu, periksa untuk beberapa detik pertama kali dan untuk lebih lama kedua kali. Hati-hati menyimpan pelindung kedap air di bawah sinar matahari langsung. Pelindung dan kamera digital anda akan memanas dan menyebabkan pengembunan saat berada di atas kapal atau menyelam.

http://www.kamera-digital.com

-----------------

TIPS Pengguna Pocket-Consumer Digicam - Mencegah Under Exposure    
Kamera-Digital.com (Chandra R)


Umumnya pengguna kamera saku, mengeluh hasil foto yg mereka dapatkan cenderung kurang terang (under exposure), terutama flash photography (indoor), ini terutama karena pada kamera jenis ini hanya mengandalkan built-in flash yg rendah intensitas cahayanya, sehingga jangkauan / coverage areanya terbatas, ditambah kebiasaan memotret pada jarak maximum jangkauan flash.

Yang sering terjadi adalah:
pada wide angle lens (zoom out max), hanya daerah tengah saja yg cukup cerah, sementara pada bagian tepi / pojok, cenderung lebih gelap, ini dikarenakan keterbatasan coverage area flash (terlepas masalah design lensa, vignetting).
pada lensa tele (zoom in max), cenderung keseluruhan kurang cerah (under), ini disebabkan pada posisi zoom in, bukaan aperture mengecil, sehingga lebih banyak dibutuhkan cahaya, akibatnya jangkauan flash memendek.

Untuk menghindari problem tersebut, kita perlu tahu kemampuan flash kamera, umumnya pada kamera saku hanya diberikan data jangkauan max flashnya, misalnya: wide angle: 3 m, tele: 2 m, pd ISO 100.

Setiap peningkatan 1 stop / double (ISO 200), jarak tersebut meningkat 1,4 kali, 2 stop / quadruple (ISO 400) meningkat 2 kalinya, sebaliknya bila ISO turun ½ nya (ISO 50) menurun 0,7 kali.

Untuk mencegah under exposure, usahakan memotret dalam jarak sebelum / di bawah jangkauan max flash.

Ada beberapa hal yg harus diperhatikan:

1.Gunakan ISO tertinggi utk kondisi cahaya kurang (low light) dan atau utk obyek bergerak (foto sport / action), agar obyek cukup tercahayai, sekaligus “membekukan” gerak.

Kelemahan dgn penggunaan ISO tinggi, terutama pada kamera bersensor kecil ini, adalah peningkatan noise (dlm kamera analog / film, grainy), akibat peningkatan sensitifitas sensor terhadap cahaya dengan cara menaikkan gain amplifier sensornya. Tapi tingkat noise ini (umumnya consumer digicam max ISO 400), masih layak cetak utk ukuran kecil (3-4R), bila anda “alergi” dengan noise / grainy, hindari ISO 400, gunakan max ISO 200.

2.Gunakan flash dgn speed rendah (slow synch flash) agar obyek + backgroundnya cukup tercahayai dengan baik.

Ini terutama berguna untuknight shoot / scene, di mana BG yg gelap, akan cukup tercahayai (cerah), hanya yg perlu diingat, walau menggunakan blitz, krn pada speed rendah, usahakan menjaga kamera + subyek fotonya tetap steady (disarankan meng-gunakan tripod / alternatifnya). Keuntungan lainnya, semakin rendah speednya, semakin lebih natural warna cahaya asli yang terekam (misalnya: warna lampu pijar yg lebih warm).

3.Gunakan nilai (+) EV (exposure compensation) utk “mencerahkan” hasil foto kita.

Keuntungan dengan cara ini, adalah: peningkatan kecerahan tidak dibarengi dengan peningkatan noise, karena cara kerjanya adalah dengan menurunkan speed sampai batas “aman”, di mana speed masih cukup tinggi untuk handheld, bila ini masih belum cukup, maka aperturenya yang akan diperbesar; terkait dengan cara kerjanya, kita harus memperhitungkan akibatnya:
semakin besar nilai (+) EV-nya, semakin rendah speednya, ini tidak cocok untuk “membekukan” gerak obyek, lebih cocok untuk still foto.
bila sampai aperturenya diperbesar, maka DoF-nya akan memendek, tapi hal ini jarang, apalagi mengingat kamera saku digital mempunyai DoF yang “sangat” panjang, kecuali untuk foto macro.
karena kecerahan ini sengaja kita “tambahkan”, maka hindari penggunaannya utk foto dalam jarak dekat / close-up (1 m atau kurang), untuk menghindari over exposure; lebih berguna untuk foto yang mendekati jangkauan max flashnya, agar tidak under  exposure hasilnya.

Seberapa besar nilai (+) EV-nya (exposure value) ? tergantung berapa cerah foto yg kita inginkan, kondisi penerangan di lokasi pemotretan, dan jangan lupa sesuaikan dengan ISO setting yg kita gunakan, utk itu lakukan percobaan dulu utk menentukan nilainya.

Umumnya nilai +2/3 - 1 (+0,7 - 1,0) pd ISO 100-200 sudah cukup, pada kondisi tertentu yg membutuhkan tingkat kecerahan tinggi, mungkin baru cukup pd ISO 400 (misalnya: foto group yg terpaksa dilakukan pd jangkauan max flash). Untuk auto ISO setting, perhatikan range ISO-nya, umumnya antara 100-200, 100-400, 50-150, tergantung merk / type kameranya (walau kamera umumnya cenderung memilih ISO terendahnya).

--------------------------

RETOUCH IMAGE DIGITAL - Untuk Keperluan Cetak    
Kamera-Digital.com (Chandra R)

Untuk mendapatkan hasil yang indah, terkadang perlu dibantu dengan program komputer sehingga hasilnya bisa lebih baik. Berikut adalah langkah-langkah yang sering dilakukan pada image digital untuk keperluan cetak, dengan menggunakan program Photoshop 7.0:

1.Levels (Ctrl+L):

utk memperbaiki tonal balance image, geser slider histogram (input levels) pada ujung kiri / kanan (black / white point) shg tdk terdapat gap (posisikan pada titik di mana awal mulai menanjak / menurunnya histogram), bila image terlihat kurang terang, geser slider tengah (mid point) ke kiri (biasanya cukup antara 1,20 - 1,40). Bagi yang sudah terbiasa, Curves (Ctrl+M) akan dirasa lebih powerfull dengan fungsi yang sama.

Auto Levels dapat digunakan, jika kita merasa cukup puas dgn hasilnya, walau tdk selalu berhasil.

Auto Color dapat digunakan utk mengoreksi warna, jika kita mempergunakan ini, tidak perlu lagi pengaturan Levels, krn pada Auto Color, selain dilakukan koreksi warna, juga sekaligus diperbaiki levelnya;

jika kurang puas, dapat dilakukan dgn Color Balance dan / atau Hue/Saturation.

2.Burn / Dodge Tool:

Untuk memperbaiki “bagian” image yang terlalu terang / gelap, lakukan bilamana diperlukan.

3.Healing Brush / Clone Stamp Tool:

Untuk “menambal” bagian image yang cacat atau yang tidak dikehendaki dgn bagian image lain yang mirip.

Healing Brush cocok bila tekstur aslinya ingin dipertahankan (mis: menghilangkan jerawat wajah);

Clone Stamp akan “menjiplak” persis seperti aslinya.

4.Blur / Sharpen Tool:

Untuk mengaburkan / menajamkan “bagian” image,

Blur Tool sering digunakan untuk “menyembunyikan” bagian image yang dianggap mengganggu (mis: mengaburkan kerutan2 wajah), sebaliknya Sharpen Tool banyak digunakan untuk menajamkan bagian image yang kurang tajam.

5.Crop Tool:

Digunakan untuk mengcropping sekaligus meresize image sesuai dengan format ukuran cetaknya, di sini kita juga bisa memperbaiki framming foto seperti apa yang dilakukan dengan Rectangular Marquee Tool (selection), dengan catatan perbandingan panjang - lebarnya sudah ditentukan sebelumnya, atau memperbaiki sudut pandang (perspektif), terutama berguna pada pemotretan dgn lensa sudut lebar (wide angle lens), di mana lebih mudah terjadi barrel distorsion (terutama pada tepi frame, utk obyek arsitektur).

Isilah panjang / lebarnya sesuai dengan ukuran cetak yang kita inginkan (dalam satuan cm atau inch), jangan lupa isi resolusinya sesuai dengan resolusi cetaknya, saat ini resolusi cetak minilab foto adalah 300 ppi.

Jangan lupa, kita harus menyesuaikan resolusi image kita dengan ukuran cetaknya (resolusi 300 ppi), agar hasil cetaknya optimal, karena bila dipaksakan image dengan resolusi rendah, dicetak dalam ukuran besar, hasilnya tidak akan optimal, walau secara otomatis saat resize, dilakukan interpolasi (meningkatkan jumlah pixel), tapi detail, informasi warna, dll. tidak bertambah, sehingga hasilnya adalah image dengan detail rendah, kurang tajam, lebih banyak noise / artefact. Agar hasil akhirnya optimal, usahakan image aslinya cukup baik dengan resolusi cukup tinggi, sesuai dengan ukuran cetaknya; maksimal interpolasi boleh dilakukan sebesar 1,5-2,0 kali, pastikan metode Bicubic yang kita pilih untuk hasil terbaik; bila kita ingin hasil yang lebih baik lagi, terutama untuk keperluan cetak ukuran besar, bisa mempergunakan plug-in Photoshop (optional) dengan metode “Fractal”.

Contoh image digital dengan max ukuran cetaknya (pada resolusi 300 ppi) TANPA interpolasi:

1600 x 1200 (2 MP) : 4R

2048 x 1536 (3 MP) : 5R dst.nya.

 

6.Unsharp Mask (USM):

Filter ini termasuk filter sharpen, kelebihannya kita dapat mengatur parameternya sesuai dengan kebutuhan, lakukan pada langkah terakhir, atau setiap setelah melakukan resize image, di mana umumnya image menjadi lebih soft (berkurang ketajamannya).

Untuk keperluan cetak:

Amount: 100-200% untuk meningkatkan kontras pixel, umumnya cukup 150%.

Radius: 1-2 pixel

untuk menentukan jumlah pixel di sekitar tepi pixel yang ditajamkan, untuk tepatnya: bagi nilai resolusi cetaknya dengan angka 200, misalnya: resolusi cetak 300 ppi, berarti 300/200= 1,5 pixel.

Threshold: 2-20 pixel

untuk menentukan seberapa tajam pixel dari daerah sekitarnya. Umumnya cukup sekitar 15 pixel, nilai yang terlalu kecil, akan membuat noise / artefact berlebihan.

Satu yang perlu diingat, hasil USM pada cetakan, TIDAK sedramatis seperti yang terlihat di monitor (pembesaran 100%).

Bila ingin melihat “preview” hasil cetaknya, tampilkan dgn hand tool: print size, untuk amannya zoom-in 40-50%, krn biasanya hasil cetak lebih detail / tajam dari zoom 24%.

NB:
Kita tidak perlu merasa “bersalah” dengan melakukan retouch image digital yang kita dapatkan dengan kamera digital, karena hal yang samapun dilakukan pada saat proses pencetakan di lab foto pada hasil cetak film (kamera analog), apa yang kita dapatkan, adalah yang sudah “jadi”, bedanya adalah, dengan “digital dark room”, kita lebih mudah melakukannya (sendiri, atau oleh operator lab foto).

-----------------------

Membuat Background Blur - Dengan Photoshop 7.0
Kamera-Digital.com (Chandra R)

Bagi pengguna kamera digital, terutama kelas consumer, di mana kamera menggunakan sensor yang lebih kecil dan panjang lensa yang terbatas, sulit untuk mendapatkan DOF yang dangkal, agar background terlihat blur, yang sering digunakan untuk mengisolasi / menonjolkan obyek, terlebih umumnya kamera kelas ini bersifat serba otomatis (Point & Shoot).
Dengan bantuan Photoshop, hal tsb mudah dilakukan, di sini diberikan cara yang agak rumit, sehingga hasilnya akan lebih baik:
Buat seleksi thd obyek yang ingin kita pertahankan ketajamannya (paling mudah dgn Magnetic Lasso), untuk memperhalus hasil seleksi, klik select-feather (ketikan nilainya antara 1-4) dan select-smooth (ketikan nilainya antara 2-6).
Buat layer baru hasil seleksi tsb (layer via copy, Ctrl+J),  sembunyikan layer ini (layer1), dgn cara mengklik icon matanya pada palet layers.
Aktifkan / pilih layer background, gunakan Smudge Tool (letaknya pada tool box, satu group dgn blur / sharpen tool), lakukan penarikan pixel di sekitar seluruh tepi obyek ke arah dalam (menuju tepi obyek), agar cepat, pilih ukuran kuas tdk terlalu besar diameternya dan image dalam tampilan pembesaran yang tidak terlalu besar (mis: dalam Hand Tool, pilih tampilan Fit on Screen); tujuan penggunaan tool ini, adalah agar tidak terlihat “halo” pada tepi obyek, yang sering terlihat bila kita menggunakan cara sederhana (seleksi obyek, select-inverse, gaussian blur).
Kemudian pilih filter-blur-Gaussian Blur, ketikan nilainya, tergantung seberapa blur background yang kita inginkan (umumnya nilai antara 6-10 sudah cukup)..
Perlihatkan kembali layer baru hasil seleksi (layer 1) dengan cara mengklik kembali icon mata pada palet layersnya, kita akan melihat hasilnya, di mana pada tepi batas obyek, tidak terlihat halo. Bila kita merasa hasil seleksi kurang halus, bisa kita perbaiki pada layer 1 tsb, mis: dengan Eraser Tool, untuk menghapus kelebihan seleksi yang kita lakukan.
Terakhir, simpanlah (save) hasil kerja kita, bila kita merasa sudah puas dan tidak berencana untuk mengeditnya lagi, gabunglah layer tsb (flatten image),  terutama bila image tsb akan disimpan dalam format JPEG.

Selamat mencoba.

------------------------------------


Blitz for Dummies   
Kamera-Digital.com (Agus Chiawono)

Blitz atau flash diterjemahkan secara bebas menjadi lampu kilat. Ini merupakan satu asesori yang sangat luas dipakai dalam dunia fotografi. Fungsi utamanya adalah untuk meng-illuminate (mencahayai/menerangi) obyek yang kekurangan cahaya agar terekspos dengan baik. Tetapi belakangan penggunaannya mulai meluas untuk menghasilkan foto-foto artistik. Bagaimanapun juga, flash photography adalah satu hal yang perlu dipelajari. Sebagian besar dari pembaca tentunya sudah sering menggunakan flash dengan baik dan mendapatkan hasil yang baik juga, tetapi tulisan ini akan membahas dasar-dasar pengetahuan yang diperlukan untuk menggunakan flash dengan benar. Benar dalam artian secara teori dapat diterima dan benar dalam artian menggunakan suatu dasar yang dapat dijelaskan secara ilmiah.

Menggunakan lampu kilat bukan hanya sekedar menyalakan lampu kilat tersebut, mengarahkan kamera kemudian klik dan jadilah satu foto yang terang serta indah, tetapi ada hal-hal yang perlu kita ketahui demi mendapat karya foto yang baik dan benar tersebut. Baik kita memandang kamera digital sebagai seni atau teknologi, flash tetap adalah satu sarana mempermudah, mengoptimalkan, dan meningkatkan kreativitas.

 

Meter, Aperture, dan Shutter Speed

Fotografi secara ringkas sering didefinisikan sebagai ilmu melukis dengan menggunakan cahaya. Pada fotografi konvensional menggunakan film, kita ‘melukis’ dengan cahaya pada lapisan film. Istilahnya adalah membakar secara permanen film tersebut dengan menggunakan cahaya dengan intensitas tertentu. Intensitas cahaya yang masuk mengenai film atau CCD/CMOS pada kamera digital ini harus tepat. Pencahayaan berlebih akan menyebabkan hasil foto washed-out (lazim disebut over-exposure/OE) dan pencahayaan kurang akan menyebabkan hasil foto gelap (lazim disebut under-exposure/UE). Lalu bagaimana mendapatkan cahaya yang tepat?

Kita mengenal apa yang disebut lightmeter dalam dunia fotografi. Lightmeter ada yang built-in di dalam bodi kamera dan ada pula yang handheld. Yang biasa kita gunakan adalah lightmeter built-in tersebut. Kita menggunakan lightmeter untuk mengukur cahaya reflektif yang masuk ke dalam lensa kita (kalau TTL) dan prosesor kamera akan menentukan apakah sudah sesuai dengan jenis film yang terpasang dalam kamera kita. Pada modus auto atau programmed auto, secara otomatis kamera akan mencarikan kombinasi yang tepat antara f/stop dan shutter speed (penjelasan menyusul). Pada modus aperture priority (A/Av) kamera akan menggunakan f/stop yang kita pilih dan menentukan shutter speed yang cocok. Sebaliknya, pada modus shutter speed priority (S/Tv) kamera akan menggunakan shutter speed yang kita pilih dan menentukan aperture yang tepat. Pada modus manual (M) kita akan harus menentukan kombinasi yang tepat dipandu oleh meter kamera tersebut.

Aperture atau bukaan rana merupakan lebarnya lubang yang dibuka oleh kamera untuk mengizinkan cahaya masuk. Biasanya disimbolkan dengan angka f/stop. Angka ini sebenarnya merupakan hasil kelipatan dari sqrt(2). Yang lazim digunakan biasanya dimulai dari 1.4, 2, 2.8, 4, 5.6, 8, 11, 16, 22, dst. Yang perlu diingat, semakin besar angkanya semakin kecil bukaannya. Karena itu biasa ditulis sebagai penyebut pecahan seperti f/1.4, f/2, f/2.8, f/4, f/5.6, f/8, f/11, f/16, f/22, dst. Aperture ini juga berkaitan dengan DoF (Depth of Field) atau ruang tajam yang bisa kita definisikan sebagai ruangan di depan dan belakang obyek yang masih masuk dalam jangkauan focus. DoF ini sendiri dipengaruhi oleh 3 hal yaitu:
 f/stop dimana f/ yang lebih besar akan memberikan DoF yang lebih lebar (semakin banyak daerah focus).
 Jarak obyek dimana obyek yang focus lebih jauh akan menyebabkan DoF juga semakin lebar.
 Penggunaan lensa dimana lensa tele akan memberikan DoF lebih sempit daripada lensa sudut lebar (wide angle).

Shutter speed atau kecepatan rana adalah lamanya tirai rana dibuka untuk mengizinkan cahaya masuk. Angka ini disimbolkan dengan satuan detik dan kenaikan/penurunan dalam bentuk kelipatan ½. Contoh: 30s, 15s, 8s, 4s, 2s, 1s, 1/2s, 1/4s, 1/8s, 1/15s, 1/30s, 1/60s, 1/125s, 1/250s, 1/500s, 1/1000s, 1/2000s, 1/4000s, dst. Semakin lambat maka cahaya yang masuk semakin banyak.

Yang diukur oleh meter kamera itulah intensitas cahaya yang masuk itu. Jika meter menunjukkan kekurangan cahaya maka kita bisa memperkecil f/stop atau memperlambat shutter speed. Sebaliknya jika meter menunjukkan kelebihan cahaya maka kita bisa memperbesar f/stop atau mempercepat shutter speed. Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa semakin lambat shutter speed maka semakin besar peluang obyek kabur karena gerakan tangan, getaran kamera, atau gerakan obyek itu sendiri.

 

Blitz dan GN

Untuk membagi/mengklasifikasikan blitz, ada beberapa klasifikasi yang dapat digunakan. Yang pertama, berdasarkan ketersediaan dalam kamera maka blitz dibagi menjadi built-in flash dan eksternal. Flash built-in berasal dari kameranya sendiri sedangkan blitz eksternal adalah blitz tambahan yang disambung menggunakan kabel atau hot shoe ke kamera. Selain itu, kita juga dapat membaginya berdasarkan tipe/merk kamera. Kita mengenal dedicated flash dan non-dedicated flash. Dedicated flash adalah flash yang dibuat khusus untuk menggunakan fitur-fitur tertentu dalam suatu kamera spesifik. Biasanya produsen kamera mengeluarkan blitz yang spesifik juga untuk jajaran kameranya dan dapat menggunakan fitur-fitur seperti TTL, slow sync atau rear sync, dll. Sedangkan blitz non-dedicated memiliki fungsi-fungsi umum saja dari kebanyakan kamera dan bisa digunakan terlepas dari tipe/merk kamera. Flash jenis inilah yang biasanya membutuhkan banyak perhitungan karena flash yang sudah dedicated sudah mendapat informasi pencahayaan dari kamera sehingga tidak membutuhkan setting tambahan lagi. Ada juga flash yang kekuatan outputnya (GN) bisa diatur dan ada juga yang tidak bisa (fixed GN). Kita akan cenderung lebih banyak membicarakan tentang flash yang non-dedicated, non-TTL, dan fixed GN.

Dalam fotografi menggunakan blitz, kita tidak akan lepas dari kalkulasi-kalkulasi yang berkaitan dengan intensitas cahaya yang terefleksi balik dari obyek yang kita cahayai. Karena itu, kita akan berjumpa dengan apa yang sering disebut GN (Guide Number) atau kekuatan flash. Secara singkat kita dapat katakan kalau flashnya berkekuatan besar, maka akan dapat mencahayai satu obyek dengan lebih terang dan bisa menjangkau obyek yang lebih jauh.

GN pada dasarnya merupakan perhitungan sederhana kekuatan flash. Kita mengenal 2 macam penulisan GN yaitu dengan menggunakan perhitungan satuan yang berbeda yaitu m (meter) dan feet (kaki). Lazimnya di Indonesia kita menggunakan hitungan dengan m. Ini merupakan salah satu pertimbangan juga karena untuk flash dengan kekuatan sama, angka GN m dan feet berbeda jauh. Selain itu, umumnya GN ditulis untuk pemakaian film dengan ISO/ASA 100 dan sudut lebar (35mm/24mm/20mm).

GN merupakan hasil kali antara jarak dengan bukaan (f/ stop atau aperture) pada kondisi tertentu (ISO/ASA 100/35mm/m atau ISO/ASA 100/35mm/feet). Sebagai contoh, jika kita ingin menggunakan flash untuk memotret seseorang yang berdiri pada jarak 5m dari kita menggunakan lensa 35mm dan kita ingin menggunakan f/2.8 maka kita memerlukan flash ber-GN 14. Penghitungan yang biasa digunakan biasanya justru mencari aperture tepat untuk blitz tertentu. Misalnya, dengan blitz GN 28 maka untuk memotret obyek berjarak 5m tersebut kita akan menggunakan f/5.6.

GN ini hanya merupakan suatu panduan bagi fotografer. Bukan harga mati. Yang mempengaruhinya ada beberapa. Salah satunya adalah ISO/ASA yang digunakan. Setiap peningkatan 1 stop pada ISO/ASA akan menyebabkan GN bertambah sebesar sqrt(2) atau sekitar 1,4 kali (atau jarak terjauh dikali 1.4) dan peningkatan 2 stop pada ISO/ASA akan menyebabkan GN bertambah 2 kali (atau jarak terjauh dikali 2).

 

Film SLRs vs. Prosumer Digital Camera vs. DSLRs

Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa kamera film dan kamera digital berbeda. Di dalam kamera digital sendiri, ada perbedaan antara kamera poket (dalam hal ini yang biasanya bisa menggunakan flash tambahan adalah PDC/Prosumer Digital Camera)) dan Digital SLR (DSLR). Perbedaan pertama tentu saja dalam hal perbandingan ukuran sensor/film dengan lensa. Karena sensor kamera digital lebih kecil daripada film 35mm, maka kita akan terjebak pada perbandingan panjang lensa yang berbeda. Untuk mendapatkan suatu sudut yang sama misalnya 35mm, maka pada kamera dengan sensor 1/1.8” akan menggunakan lensa sekitar 7.5mm, D100 akan menggunakan lensa 24mm dan 10D akan menggunakan lensa 20mm. Inilah panjang lensa efektif untuk mulai perhitungan menggunakan GN flash tersebut.

Kedua, zooming. Pada PDC, zooming akan menyebabkan perubahan f/stop menjadi lebih lambat (angka besar) dan demikian juga dengan pemakaian zoom konsumer pada SLR/DSLR. Sebagai contoh, kita mengenal lensa 35-70 f/3.3-f.5. Artinya, bukaan terbesar pada 35mm adalah f/3.3 dan bukaan terbesar pada 70mm adalah f/4.5. Ini tentunya akan berpengaruh pada obyek yang ingin difoto.

Penggunaan zoom pada kamera biasanya dibarengi dengan penggunaan zoom head pada flash. Lensa tele/zoom akan mempersempit sudut cakupan lensa dan zoom head pada flash akan mempersempit dispersi cahaya flash itu yang dengan kata lain menambah intensitasnya sehingga bisa menjangkau lebih jauh. Zoom head pada posisi tele dan lensa pada posisi wide akan menyebabkan ada bagian foto yang tidak mendapat cahaya atau kita kenal dengan istilah vignet. Zoom head pada posisi wide dan lensa pada posisi tele akan menyebabkan cahaya flash tidak bisa menjangkau obyek yang jauh (after all, ini gunanya lensa tele kan? Untuk memotret obyek yang jauh?). Selain itu ini juga yang akan terjadi jika lensa 35mm kita pasangkan pada DSLR kemudian kita melakukan penghitungan flash tetap dengan menggunakan perhitungan untuk SLR biasa karena sudutnya sebenarnya sudah setara 50mm atau lebih (tergantung faktor pengalinya). Sebenarnya tidak ada masalah berarti yang muncul, tetapi kita ‘menghamburkan’ cahaya tersebut secara sia-sia saja.

(Bersambung pada artikel selanjutnya tentang Indoor - Outdoor Flash, dan Bounce/Diffuse)

-----------------------------

Indoor - Outdoor Flash dan Bounce/Diffuse
Kamera-Digital.com (Agus Chiawono)

Penggunaan Flash sangat membantu apabila kita pemotret pada ruangan yang kondisi cahaya gelap. Tapi apabila kita tidak tepat mengatur setting untuk penggunaan flash, maka hasil foto tidak akan maksimum, terkadang masih kurang terang atau bahkan terlalu terang. Untuk itu artikel lanjutan ini akan menjelaskan bagaimana penggunaan indoor flash dan juga bagaimana outdoor flash digunakan serta penjelasan tentang bounce dan diffuse flash. (Artikel ini adalah sambungan dari artikel Blitz for Dummies)

Indoor Flash

Blitz sering bahkan hampir selalu digunakan di dalam ruangan. Alasannya karena di dalam ruangan biasanya penerangan lampu agak kurang terang untuk menghasilkan foto yang bisa dilihat. Memang, ada teknik menggunakan slow shutter speed untuk menangkap cahaya lebih banyak, tapi biasanya hal ini menyebabkan gambar yang agak blur karena goyangan tangan kameraman maupun gerakan dari orang yang ingin kita foto. Karena itu, biasanya kita menggunakan blitz.

Penggunaannya biasanya sederhana. Kita bisa setting kamera digital di auto dan membiarkannya melakukan tugasnya atau bisa juga kita melakukan setting sendiri menggunakan perhitungan yang sudah dilakukan di atas. Tidak sulit. Hanya saja, ada beberapa hal perlu kita perhatikan agar mendapatkan hasil maksimal.
Jangan memotret obyek yang terlalu dekat dengan blitz yang dihadapkan tegak lurus. Ambil contoh dengan blitz GN 20 yang menurut saya cukup memadai sebagai blitz eksternal bagi kamera digital dalam pemotretan indoor dalam ruangan (bukan aula). Jika kita ingin memotret sebutlah orang pada jarak 2 meter dengan ISO/ASA 200 maka kita membutuhkan f/16 yang tidak tersedia pada sebagian besar PDC dan akan menghasilkan gambar yang over. Karena itu, untuk PDC/DSLR biasanya sudah terdapat flash built-in yang TTL dan memiliki GN agak kecil (8-12 pada sebagian PDC, 12-14 pada DSLR). Gunakan itu daripada flash eksternal untuk obyek yang agak dekat.
Kombinasikan flash dengan slow shutter speed untuk mendapatkan obyek utama tercahayai dengan baik dan latar belakang yang memiliki sumber cahaya juga tertangkap dengan baik. Ini adalah suatu teknik yang patut dicoba dan seringkali menghasilkan gambar yang indah. Jangan takut menggunakan speed rendah karena obyek yang sudah dikenai flash akan terekam beku (freeze).
Bila ruangan agak gelap, waspadai terjadinya efek mata merah/red eye effect. Efek mata merah ini terjadi karena pupil mata yang membesar untuk membiasakan diri dengan cahaya yang agak gelap tetapi tiba-tiba dikejutkan cahaya yang sangat terang dari flash. Jika kamera dan/atau flash terdapat fasilitas pre-flash/red eye reduction, gunakan hal ini. Jika tidak, akali dengan mengubah sudut datangnya cahaya flash agar tidak langsung mengenai mata. 
Dalam ruangan pun ada sumber cahaya yang kuat seperti spotlight. Hindari memotret dengan menghadap langsung ke sumber cahaya kuat tersebut kecuali ingin mendapatkan siluet yang tidak sempurna (kompensasi under 1 – 2 stop untuk siluet yang baik). Dalam kondisi demikian, gunakan flash untuk fill in/menerangi obyek yang ingin dipotret tersebut. 

 

Bounce/Diffuse

Flash adalah sumber cahaya yang sangat kuat. Selain itu, flash adalah cahaya yang bersumber dari sumber cahaya yang kecil (sempit). Karenanya, bila cahaya ini dihadapkan langsung pada suatu obyek akan menyebabkan penerangan yang kasar (harsh). Dalam sebagian besar foto dokumentasi konsumsi pribadi dimana petugas dokumentasi menggunakan kamera point & shoot (film/digital) ini bisa diterima. Tetapi dalam tingkat yang lebih tinggi dimana hasil foto ini akan menjadi konsumsi umum, alur keras cahaya akan memberi efek yang kurang sedap dipandang. Ditambah lagi biasanya ini akan menyebabkan cahaya flash memutihkan benda yang sudah agak putih dan menyebabkan detail-detail tertentu lenyap.

Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk menghindari hal ini dalam artian melunakkan cahaya tersebut:
Memperluas bidang datang cahaya yaitu dengan memantulkannya ke bidang lain (bounce).
Menyebarkan cahaya yang datang dari sumber kecil tersebut sehingga meluas (diffuse).

Bounce flash dilakukan dengan cara memantulkan flash ke satu bidang yang luas sehingga cahaya datang dalam sudut yang lebih luas. Kita bisa menggunakan langit-langit atau dinding yang ada dalam ruangan. Jika flash eksternal yang terpasang pada kamera digital terhubung melalui hot shoe, maka flash tersebut harus memiliki fasilitas tilt untuk memantulkan cahayanya. Jika terpasang melalui kabel synchro, maka kita bisa memasang flash pada bracket dengan posisi sedikit menghadap ke atas/samping atau memegangnya dengan posisi demikian. Posisi memantulkan yang tepat agar cahaya jatuh tepat pada obyek adalah dengan menghadapkan flash tersebut pada langit-langit di tengah fotografer/flash dan obyek. Beberapa hal perlu kita perhatikan dalam memanfaatkan bounce flash ini adalah:
Jarak untuk menghitung f/stop berubah bukan menjadi jarak kamera dan obyek tetapi berubah menjadi jarak yang dilalui oleh cahaya flash tersebut. Normalnya pada sudut tilt 45° kita akan melebarkan aperture 1 stop dan pada sudut tilt 90° kita melebarkan aperture sebesar 2 stop. Tentunya ini hanya panduan ringkas. Pada pelaksanaan tergantung teknis di lapangan.
Berkaitan dengan no. 1 di atas, maka jarak langit-langit/dinding tidak boleh terlalu jauh atau akan jadi percuma.
Gunakan selalu bidang pantul berwarna putih dan tidak gelap. Warna selain putih akan menyebabkan foto terkontaminasi warna tersebut sedangkan warna gelap akan menyerap cahaya flash tersebut.
Perhatikan bisa terjadi kemunculan bayangan pada sisi lain cahaya. Misalnya jika kita memantulkan ke langit-langit maka kita akan mendapatkan bayangan di bawah hidung atau dagu dan jika kita memantulkan ke dinding di kiri maka akan ada bayangan di sebelah kanan. Untuk mengatasinya kita dapat menyelipkan sebuah bounce card di bagian depan flash tersebut sehingga ketika kita memantulkan cahaya ke atas/samping kita tetap memiliki cahaya yang tidak terlalu kuat yang mengarah ke depan dan menetralisir bayangan yang muncul.

Untuk mengambil foto secara vertical, akan mudah kalau kita menggunakan koneksi kabel karena kita dapat dengan mudah menghadapkan flash ke atas jika menggunakan bracket atau dipegang. Tetapi jika koneksi kita adalah hot shoe maka pastikan flash kita memiliki fasilitas swivel head sehingga dapat kita putar menghadap ke atas. Lebih bagus lagi jika kita memiliki flash yang dapat di-tilt dan swivel. Ini akan mengakomodasi sebagian besar kebutuhan kita.

Cara lain melunakkan cahaya adalah dengan memperluas dispersinya. Caranya gunakan flash diffuser. Flash diffuser akan menyebarkan cahaya yang keluar dari flash ke segala arah sehingga cahaya yang keluar tidak keras. Umumnya tersedia diffuser khusus untuk flash tertentu mengingat head flash berbeda-beda. Dapat juga kita membuat sendiri diffuser untuk flash kita menggunakan bermacam-macam alat. Ketika kita menggunakan diffuser, sebenarnya kita menghalangi area tertentu dari arah cahaya flash dan membelokkannya ke tempat lain. Ini mengurangi kekuatan flash yang kita gunakan tersebut. Jika diffuser yang kita gunakan adalah hasil beli, maka kita dapat membaca berapa kompensasi aperture yang kita perlukan ketika menghitung eksposur. Biasanya terdapat pada kotak atau kertas manual. Jika kita memutuskan membuat sendiri, maka kita bisa melakukan eksperimen berkali-kali agar mendapatkan angka yang pas untuk kompensasi yang diperlukan kali lainnya.

 

Outdoor Flash

Sekilas jika kita berpikir tentang penggunaan flash, maka kita akan tahu kalau itu berlaku untuk suasana pemotretan yang kekurangan cahaya. Karenanya, kita umumnya tidak memikirkan tentang perlunya penggunaan flash pada pemotretan luar ruangan (siang hari, of course) karena sinar matahari sudah sangat terang. Di sinilah kesalahan kita dimulai. Flash sangat dibutuhkan pada pemotretan outdoor, terutama pada:
Kondisi obyek membelakangi matahari. Pada kondisi seperti ini, meter kamera akan mengira suasana sudah cukup terang sehingga akan menyebabkan obyek yang difoto tersebut gelap/under karena cahaya kuat tersebut percuma karena tidak direfleksikan oleh obyek. Cara mengakalinya adalah dengan melakukan fill in pada obyek sehingga walaupun latar sangat terang tetapi obyek tetap mendapat cahaya.
Matahari berada di atas langit. Ini akan mengakibatkan muncul bayangan pada bawah hidung dan dagu. Gunakan flash untuk menghilangkannya. Untuk melembutkan cahayanya gunakan bounce card atau diffuser.
Obyek berada pada open shade (bayangan). Flash digunakan untuk mendapatkan pencahayaan yang sama pada keseluruhan obyek karena bayangan akan membuat gradasi gelap yang berbeda-beda pada bagian-bagian obyek apalagi wajah manusia.
Langit sangat biru dan menggoda. Jika kita tidak tergoda oleh birunya langit dan rela mendapat foto langit putih ketika memotret outdoor maka silahkan lakukan metering pada obyek tanpa menggunakan flash atau dengan flash. Jika kita rela obyek kekurangan cahaya asalkan langit biru silahkan lakukan metering pada langit. Nah, jika kita ingin langit tetap biru sekaligus obyek tercahayai dengan baik, gunakan metering pada langit dan fill flash pada obyek. Ini akan menghasilkan perpaduan yang tepat dan pas.
Langit mendung. Ketika langit mendung, jangan segan-segan gunakan flash karena efek yang ditimbulkan awan mendung akan sama seperti jika kita berada di bawah bayangan.

---------------------------

Logged

xugari

  • Penyelam Unggul
  • *****
  • Keong: 1
  • Offline Offline
  • Posts: 6136
Re: Kumpulan Tips & Tricks Kamera Digital
« Reply #1 on: July 22, 2008, 10:22:22 AM »

Panduan Praktis untuk mencetak Hasil Foto Kamera Digital   
Kamera-Digital.com (Yoni Tan)

Hasil foto dengan menggunakan Kamera Digital bisa kita lihat langsung melalui Komputer tanpa harus membawa ke lab foto untuk dicetak. Namun tidak bisa dihindari bahwa kita terkadang masih memerlukan hasil foto yang dicetak sehingga bisa dilihat kapan saja dan dimana saja tanpa tergantung dengan komputer. Pada artikel ini akan dijelaskan panduan praktis untuk mencetak hasil foto Kamera Digital.

Sebelumnya saya ingin memperjelas sedikit tentang kerancuan-kerancuan yang ada dalam istilah yang sering dipakai, yaitu :

Besar Resolusi yaitu 1280x960 (1MegaPixel), 1600x1200 (2 MP ), 3MP maupun 4MP dan lain lain itu adalah menandakan banyaknya titik yang ada dalam gambar tersebut. Semisal foto dengan resolusi 1600x1200 berarti ada 1600 titik di horizontal dan 1200 titik di vertikal.

Densitas foto 72dpi, 180dpi, maupun 300dpi (terlihat pada EXIF data yang menempel pada foto yang bersangkutan) itu menandakan tingkat kerapatan dari titik - titik tersebut dalam suatu satuan ukuran inch (dot per inch). Misalnya kita selama ini mendengar ada printer berkemampuan cetak dengan densitas 300dpi, 600dpi, 1200dpi, maupun 4800dpi. Contoh printer dengan kemampuan densitas 4800dpi itu berarti bisa mencetak sebanyak 4800 titik sepanjang garis 1 inch (2,54cm), begitu juga dengan printer berkemampuan densitas 300dpi berarti hanya bisa mencetak 300 titik sepanjang garis 1 inch (2,54cm).

Terkait dengan hal - hal diatas, maka kita patut mengetahui juga bahwa mesin cetak foto itu biasanya berkemampuan densitas 300dpi sehingga kita akhirnya sering memakai patokan ini sebagai standard densitas minimum yang diperlukan baik untuk mencetak di laboratorium foto ataupun dengan printer sendiri.

Berikut daftar ukuran kertas foto yang biasanya dipakai di laboratorium foto :

2R = 6 x 9 cm
3R = 8,9 x 12,7 cm
4R = 10,2 x 15,2 cm
5R = 12,7 x 17,8 cm
6R = 15,2 x 20,3 cm
8R = 20,3 x 25,4 cm
8R Plus = 20,3 x 30,5 cm
10R = 25,4 x 30,5 cm
10R Plus = 25,4 x 38,1 cm

Kita akan mengambil contoh salah satu ukuran yang biasa dipakai yaitu 4R dalam hal ini, yaitu : 10,2x15,2cm
(10,2cm : 2,54) x 300dpi = 1204 titik atau pixel
(15,2cm : 2,54) x 300dpi = 1795 titik atau pixel.

Dengan ini berarti kita mengetahui bahwa resolusi minimum yang dibutuhkan untuk mencetak 4R adalah 1795 x 1204 pixel.

Dalam hal ini berarti boleh dikatakan bahwa resolusi kamera digital yang mendekati ukuran tersebut mungkin adalah 2MP yaitu 1600x1200. Tetapi harus diingat bahwa adanya perbedaan rasio panjang lebar antara file kamera digital (4:3) dengan standar kertas foto (3:2) itu biasanya berakibat terjadinya cropping (pemotongan) pada samping2 foto karena laboratorium foto itu biasanya melakukan sedikit peregangan secara otomatis pada file – file yang bersangkutan, misalnya foto dengan resolusi 1600x1200 akan diperbesar menjadi 1795x1346 untuk memenuhi ukuran frame minimal dari 4R untuk kemudian dicropping lagi sehingga bagian yang tercetak itu tetap beresolusi 1795x1204.

Ada beberapa kasus dimana ada yang berhasil melakukan pencetakan dengan ukuran 8R hanya dengan kamera 2MP ataupun juga mungkin bisa 10R. Dalam hal ini kita harus melihat lagi beberapa hal yaitu :

Kompleksitas dari gambar yang diambil, misalnya gambar - gambar dokumentasi orang tentunya jauh berbeda tingkat detailnya dibandingkan dengan gambar pemandangan alam misalnya pada waktu sunrise). Dalam hal ini gambar orang biasanya lebih mudah untuk diperbesar dibandingkan dengan gambar pemandangan alam)

Tingkat kompresi dari gambar yang dipakai (dengan ACDSee biasanya terlihat dengan click kanan properties, bagian file, di compression ratio). Biasanya file - file yang berpotensi dan bisa dicetak jauh lebih besar dari ukuran yang direkomendasikan itu file - file dengan tingkat kompresi antara 5 - 10. Lebih dari itu, biasanya sulit sekali untuk meningkatkan ukuran gambar.

Ada beberapa kamera yang menyediakan mode RAW dan juga mode TIFF pada hasil akhir gambar yang ditangkap, dalam hal RAW file dan TIFF file itu tidak terdapat kompresi sama sekali sehingga sangat dimungkinkan untuk melakukan resize ulang untuk melakukan cetak pada ukuran lebih besar.

Dari 3 hal diatas, seringkali saya sendiri juga bisa melakukan cetak pada 10R maupun 12R dengan kamera 4MP yang saya miliki meskipun secara perhitungan tidak memungkinkan untuk melakukan pencetakan tersebut. Dalam hal ini kita bisa melakukan test sederhana apakah file yang bersangkutan masih bisa untuk dicetak pada ukuran yang bersangkutan atau tidak dengan cara melakukan image resize pada photoshop

Semoga artikel berikut ini berguna sebagai panduan anda dalam melakukan pencetakan foto anda dari kamera digital. Di bawah ini saya buatkan daftar acuan praktis untuk pencetakan foto yang diinginkan beserta resolusi yang dibutuhkan.
3R = 8,9 x 12,7cm @300 dpi = 1051x1500 pixel
4R = 10,2 x 15,2cm @300 dpi = 1205x1795 pixel
5R = 12,7 x 17,8cm @300 dpi = 1500x2102 pixel
6R = 15,2 x 21,6cm @300 dpi = 1795x2551 pixel
8R = 20,3 x 25,4cm @300 dpi = 2398x3000 pixel
8R Plus = 20,3 x 30,5cm @300 dpi = 2398x3602 pixel
10R = 25,4 x 30,5cm @300 dpi = 3000x3602 pixel
10R Plus = 25,4 x 38,1cm @300 dpi = 3000 x 4500 pixel

----------------------------


Baterai dan perilakunya    
Kamera-Digital.com

Baterai adalah salah satu dari sumber energi dan sangat penting bagi penggunaan kamera digital. Produsen kamera digital mengunakan berbagai macam jenis baterai yang berpengaruh terhadap harga, ukuran serta kemampuan kamera tersebut. Untuk jenis yang paling banyak digunakan saat ini, adalah baterai type Lithium dan type AA. Untuk type AA biasanya digunakan baterai Alkaline. Berbeda dengan baterai AA biasa, jenis Alkaline mempunyai kapasitas lebih besar yang pada kamera digital digunakan untuk LCD dan Flash. Namun, penggunaan baterai Alkaline sebenarnya lebih disarankan untuk diganti dengan jenis NiMH yang mempunyai kapasitas lebih besar lagi dibanding Alkaline dan mempunyai kemampuan untuk di isi ulang. Sedangkan jenis baterai Lithium lebih menguntungkan dari segi berat dan ukuran, karena kamera yang menggunakan baterai type Lihtium biasanya didesign lebih compact dan lebih ringan dibanding kamera dengan baterai type AA.

Jika diperhatikan pada baterai Alkaline kemungkinan tidak terlihat berapa besar kapasitas yang tertulis pada baterai, sedangkan pada NiMH terlihat jelas berapa besar kapasitas yang dapat disimpan oleh baterai tersebut. Ketika baterai memberaikan power kepada peralatan elektronik yang memerlukan energi yang besar seperti kamera digital, peralatan komputer, portable music player sebuah baterai Alkaline hanya akan memberikan sebagian dari kapasitasnya. Sedangkan pada baterai NiMH atau NiCd, baterai tersebut memberikan lebih banyak kapasitasnya dan besarnya mendekati kapasitas maksimum pada peralatan elektronik yang rakus energi. Itu berarti pada kamera digital, sebuah NiMH dengan kapasitas 1800 mAh dapat memberikan lebih banyak foto dibanding sebuah baterai Alkaline yang mempunyai kapasitas 2800 mAh.

Baterai recharger NiCD, NiMH dan Lithioum (Li-ion)

Tipe baterai isi ulang dibagi dalam tiga kategori umum: nickel cadmium (NiCd), nickel metal-hydride (NiMH), dan lithium-ion (Li-ion). Ada juga tipe lithium polymer (Li-poly) yang supertipis, namun mahal dan jarang ada di pasaran.

Baterai NiCd merupakan jenis tertua, paling tahan banting, namun berat dan volumenya paling besar. Baterai jenis ini sudah tidak lagi banyak digunakan pada kamera karena dianggap tidak praktis. Baterai NiCad sangat rentan efek memori. Maksudnya, baterai hanya mengisi ke tingkat dimana baterai terakhir di-discharge, akibat proses akumulasi gas yang terperangkap dalam plat sel baterai. Jika baterai di-discharge hingga 30 persen dan di recharge, maka baterai hanya akan mengisi energi yang terpakai tadi (30 persen) yang dilanjutkan dengan penyusutan volume "gas" yang terperangkap. Cara terbaik untuk menghilangkan efek memori dan membuang sisa gas terperangkap adalah dengan melakukan "burping", atau mengkondisikannya. Maksudnya, menghabiskan seluruh isi baterai pada kamera hingga benar-benar kamerea mati dan melakukan re-charging.

NiMH merupakan pengembangan dari NiCd, dibanding NiCd dengan volume sama, kapasitasnya jauh lebih besar. Namun, seperti halnya NiCd, NiMH juga rawan terhadap memory effect meski tidak sebesar NiCd. Beberapa produsen baterai bahkan menyatakan NiMH produknya bebas memory effect. Fenomena ini muncul saat baterai yang belum habis dipakai sudah di-charge ulang. Bila dilakukan berkali-kali baterai dapat kehilangan kapasitasnya dan hanya mampu menampung sedikit daya saja sebelum dengan cepat habis. Memory effect dapat dihilangkan dengan mengosongkan baterai sampai habis sebelum mengisi ulang.

Li-ion (Lithium) merupakan teknologi terbaru dalam baterai kering isi ulang, lebih ringan dan lebih besar kapasitasnya dari NiMH. Ia juga tidak akan mengalami memory effect hingga Anda bebas mengisi baterai jenis ini kapan saja dan di mana saja. Namun, ia juga paling rentan dengan berbagai macam masalah.

Kata mAh merupakan satuan kapasitas baterai isi ulang. 500 mAh berarti bila baterai dibebani 125 mA (mili amper), ia dapat bertahan 4 jam. Atau 1 jam pada 500mA. Makin besar nilai mAh sebuah baterai berarti ia akan dapat dipakai lebih lama sebelum perlu di-charge ulang. Angka 1.2 V menyatakan besarnya voltase baterai. Pastikan voltase baterai ini sama dengan spesifikasi kamera Anda.

Untuk battery baru, disarankan untuk melakukan proses charging (isi) dan discharging (membuang) setrum 2 sampai 5 kali hingga battery mencapai kapasitas maksimalnya. Cara melakukan discharging dengan menggunakan baterai tersebut sampai tidak bisa digunakan lagi dikamera. Pada alat charger tertentu, disediakan fasilitas untuk discharge baterai. Biasanya fasilitas yang disediakan pada alat ini cukup aman, karena proses pengosongan hanya terjadi sampai batas yang aman.

Setiap 10-15 kali siklus isi ulang baterai NiMH, kosongkanlah baterai hingga habis sama sekali sebelum mengisi ulang. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan "bibit-bibit" memory effect yang mungkin timbul.

Jangan sekali-kali mengosongkan baterai dengan bola lampu dan kabel hingga lampu mati. Ini akan dapat merusak sel baterai yang paling lemah (reversal effect), dan pada gilirannya merusak semua sel. Sisakan setidaknya 1V per sel baterai, pantaulah terus-menerus karena voltase baterai akan turun dengan tiba-tiba. Bila Anda tidak memiliki alat untuk itu, lebih baik jangan lakukan. Mengosongkan dengan kamera adalah cara terbaik, karena ambang batas aman pasti tidak kelebihan.

Beberapa produsen baterai NiMH menyatakan bahwa baterainya bisa di recharge lebih dari 500 kali, namun

bila baterai NiMH telah mencapai 400 kali siklus isi ulang, perlu dipersiapkan untuk penggantian baterai tersebut, karena walaupun masih bisa digunakan, biasanya kapasitasnya sudah menurun dan berarti masa pakai sebelum diisi ulang sudah berkurang.. Baterai Li-ion dapat rusak dengan mendadak jika rangkaian di dalamnya rusak.

Untuk membuang baterai yang sudah tidak digunakan, sebaiknya berhati-hati karena kandungan kadmiumnya bisa mencemari tanah.

Self Discharge

Salah satu yang perlu diperhatikan pada penggunaan baterai charge NiCad dan NiMH adalah 'self discharge', yaitu berkurangnya kapasitas yang terdapat pada battery walaupun tidak digunakan. Jumlah/persentasi self discharge pada masing-masing baterai berbeda-beda, tapi bisa diperkirakan sekitar beberapa persen (1 sampai 3%) perhari dari kapasitas maksimumnya dan pada suhu 70 derajat Fahrenheit.

Penempatan baterai NiMH pada temperator yang lebih rendah akan sedikit membantu mengurangi efek self discharge. Ada yang menyebutkan apabila baterai NiMH dibekukan (dingin) dalam 1 bulan sisa kapasitas baterai masih ada 90% sejak terakhir di recharge. Tapi sebelum digunakan, baterai NiMH yang dibekukan tersebut harus dikembalikan dulu pada suhu ruangan yang normal. Jadi setelah kita men-charge baterai NiMH, sebaiknya disimpan pada suhu yang dingin untuk mengurangi efek self dischargenya.

Disarankan untuk me-recharge lagi baterai yang sudah disimpan dalam jangka waktu yang lama sebelum di gunakan.

Berbeda dengan baterai Alkaline, jika baterai Alkaline disimpan pada suhu ruang normal, efek self discharge yang terjadi kurang dari 2% per tahun. Sehingga walaupun disimpan dalam jangka waktu yang lama, kapasitas baterai Alkaline nyaris tidak akan berkurang dari semula. Sebagai catatan, jika baterai Alkaline disimpan pada suhu 85 derajat Fahrenheit, efek self discharge hanya sekitar 5% pertahun, tapi pada 100 derajat Fahrenheit, efek self discharge baterai Alkalin sekitar 25% pertahun. Jadi apabila kita tinggal pada lokasi yang cuacanya sangat panas, disarankan untuk menyimpan baterai Alkalin pada ruang pendingin untuk menghindari efek selft discharge, walaupun persentasinya sangat kecil sekali dibandingkan efek self discharge pada baterai NiMH dalam kondisi suhu yang sama.

Baterai Lithium juga hampir sama dengan baterai Alkaline, efek self dischargenya sangat kecil dibandingkan dengan baterai NiMH, sehingga jika kita charge penuh dan disimpan pada suhu ruang normal pada waktu yang lama, kapasitanya juga tidak akan banyak berkurang. Tapi sampai saat ini untuk ketiga jenis baterai tersebut (Alkaline, NiMH, dan Lithium) baterai NiMH harganya memang lebih murah dibanding yang lainnya. Jadi dipertimbangkan saja menggunakan baterai jenis yang mana dan disesuaikan dengan peralatan yang akan digunakan.

Charging Time

Ada berbagai macam jenis alat charger yang digunakan untuk mengisi ulang baterai NiMH atau NiCd yang kapasitasnya habis. Alat-alat tersebut mempunyai berbagai macam sensor untuk membatasi kelebihan kapasitas (overcharge) yang dapat mengakibatkan sel baterai tersebut rusak dan kemampuan penyimpanannya berkurang. Sensor dalam bentuk timer, biasanya ini sudah disesuaikan satu paket dengan jenis baterainya, sehingga dari awal charging sampai waktu tertentu, alat charger ini dapat menghentikan pengisian sehingga menghindari overcharge. Ada juga dalam bentuk microprocessor yang biasanya disebut oleh produsen sebagai smart rapid charger, yaitu dapat menghitung dengan tepat berapa sisa kapasitas baterai sebelum alat tersebut berhenti men-charge baterai. Kadang alat ini juga dilengkapi dengan detektor suhu baterai yang berfungsi juga untuk membantu mengendalikan charging baterai. Trickle charge, adalah kemampuan alat charger untuk memberikan ampere secara sedikit-sedikit ke baterai NiMH akibat dari efek self discharge (keterangan tentang self discharger diatas). Kemampuan ini berguna untuk menjaga agar baterai selalu dalam kondisi penuh dan siap pakai, walaupun dibiarkan dalam jangka waktu yang lama di alat charger.

Terdapat juga alat charge yang manual, untuk alat ini sebenarnya hampir sama dengan alat charge yang menggunakan sensor, tapi bedanya perlu diperhitungkan dengan tepat sehingga tidak terjadi overcharge, karena alat ini akan men-charge terus selama belum dimatikan, jadi tidak ada indikator baterai sudah penuh. Namun apabila charging timenya tepat dan tidak melebihi hitungan maksimum, maka penggunaan alat ini cukup aman, tapi biasanya arus yang diberikan cukup kecil (untuk menghindari overcharge) sehingga diperlukan waktu lama agar baterai bisa terisi penuh.

Untuk charging Time pada masing-masing jenis alat charge sebenarnya mempunyai perhitungan dasar yang dapat dihitung dengan rumus ideal sebagai berikut :

mahB = Kapasitas Maksimum Baterai
mAhC = Bersarnya Amper perjam yang diberikan charger
th = Total Waktu dalam Jam
th = mAhB / mAhC

Jadi, jika baterai 1800 mAh dan Ampre Chargernya 100 mAh, berarti :

1800 / 100 = 18 jam
Waktu yang diperlukan untuk chargingnya pada kondisi ideal adalah 18 jam.

Penting !

Hindari untuk membawa baterai AA NiMH / NiCd dan disimpan pada kantong baju atau celana (atau dibawa dengan sembarangan), pada keadaan tertentu baterai tersebut dapat berhubungan singkat satu dengan yang lain dan itu dapat menyebabkan panas dan bahkan menyulut api didalam kantong.

--------------------------

ISO Digital Kamera    
Kamera-Digital.com (Digicom - CBN)

Film pada dasarnya digolongkan berdasarkan nomor yang disebut nomor ISO. ISO singkatan dari International Standard Organization. Dulu kita mengenalnya sebagai ASA (American Standard Association). Kata ISO sendiri tidak mengandung arti kata khusus, kecuali ISO Speed. ISO Speed adalah nomor yang digunakan untuk merepresentasikan International Standard Organization guna merating sensitivitas film dan jumlah cahaya yang diperlukan kamera untuk menangkap foto.

Jadi, semakin gelap kondisi pencahayaan obyek yang akan Anda ambil, semakin tinggi pula ISO Speed yang Anda butuhkan. Sebagai contoh, untuk pengambilan gambar di pantai pada tengah hari, Anda harus memilih film dengan ISO serendah mungkin. ISO 100 biasanya sudah cukup untuk berbagai kondisi. Film dengan ISO yang tinggi kita sebut sebagai film cepat. Sebaliknya, film dengan ISO rendah kita sebut sebagai film lambat.

Ada harga yang harus dibayar dengan ISO yang tinggi, yaitu gambar yang dihasilkan akan lebih grainy (grainnya tampak jelas) dan warnanya akan semakin redup/dull.

Film dibuat dengan lapisan plastik yang dilapisi butiran kimia yang peka terhadap cahaya - yang disebut grain. Semakin tinggi /cepat setting ISO film, semakin besar grainnya, sehingga kita bisa bekerja di kondisi pencahayaan yang rendah. Jadi, semakin besar Anda akan mencetak film, anda harus memilih film yang lebih lambat/lebih rendah ISOnya. Tapi, ini bukan jaminan utama untuk mendapatkan hasil cetak yang baik. Faktor utama dari kualitas percetakan adalah kecepatan Film dan tipe film, Exposure, Fokus dan Kualitas lensa. Semakin baik faktor ini, semakin baik gambar yang akan Anda dapat dan Anda cetak.

Bagaimana dengan Kamera Digital?

Pada dasarnya, prinsip kerja film tersebut sama. Bedanya, kita tidak lagi menggunakan media film. Jadi, yang bekerja di sini adalah amplifikasi dari sensitivitas sensor kamera digital terhadap cahaya. Semakin gelap kondisi ruangan, semakin tinggi smplifikasi sensitivitas sensor.

Sama dengan prinsip kerja film, semakin tinggi ISO kamera Digital, gambarnya akan semakin grainy dan intensitas warna pun turun. Pada ISO yang tinggi, di kamera digital akan menimbulkan efek samping yaitu Noise. Untunglah pada kamera digital High End, ada Noise Filter sehingga masalah ini bisa diatasi. Dengan semakin tingginya ISO, berarti jarak efektif fiash juga meningkat. Semakin jauh jangkauan Flash pada kamera digital anda.

Pada kamera digital yang menyediakan Option untuk Manual ISO (100,200, 400 dan seterusnya) dan Auto ISO, sebaiknya Anda pilih Manual ISO sesuai dengan kondisi pemotretan Anda. Karena, bila kita menggunakan Auto ISO bisa terjadi dua kemungkinan, yaitu ISO yang diset melebihi kebutuhan, atau sebaliknya, ISO yang diset justru kurang dari kebutuhan anda.

Untuk masalah mencetak ukuran yang besar, pada kamera digital hal ini lebih dipengaruhi oleh besar resolusi kamera digital. Semakin tinggi Resolusi kamera digital, semakin besar anda dapat mencetaknya. ISO pada kamera digital lebih cenderung mempengaruhi kualitas grain dan warna pada image digital.

---------------------------------

Digital Imaging Tips
Kamera-Digital.com (Computer Easy)

Sebelum mengolah foto, Anda harus terlebih dahulu memasukkannya ke dalam komputer. Cara yang mudah yaitu mengambil foto dengan kamera digital dan pindahkan langsung ke komputer. Alternatifnya,
Video klip dengan kamera digital ambil foto dengan kamera biasa lalu hasil cetaknya discan dengan scanner. Kedua cara ini akan dibahas bersama.
1.    KUALITAS GAMBAR      
Membuat foto untuk cetak poster
Kamera digital menyimpan foto dalam format yang berbeda-beda. Selain format terkompresi JPEG, ada pula format TIFF. Dalam format TIFF foto tidak akan dikompresi atau dikompresi seminimal mungkin. Format ini membutuhkan ruang penyimpanan yang lebih besar. Untuk mencetak poster dibutuhkan data gambar dan warna seasli mungkin. Jadi, format TIFF lebih cocok untuk keperluan ini.
 
2.    KUANTITAS GAMBAR      
Menghemat ruang penyimpanan
Problema dalam fotografi digital adalah ruang penyimpanan yang terbatas. Dengan media penyimpanan 8 Megabyte pada kamera beresolusi 2 Megapixel setidaknya hanya mampu memuat 5 foto dengan resolusi tertinggi. Agar Anda dapat mengambil foto lebih banyak lagi, kurangi resolusi foto yang akan diambil dan pilih JPEG sebagai formatnya.
 
3.    PENGAMBILAN GAMBAR        
Video klip dengan kamera digital 
Banyak kamera digital tidak hanya menghasilkan foto saja. Bahkan beberapa model yang murah dengan harga mulai dari 1 juta rupiah saja sudah dilengkapi dengan fungsi movie yang menjadikan kamera digital sebagai kamera video. Hasilnya adalah video berdurasi pendek yang dapat membuat koleksi foto liburan menjadi semakin menarik. Pilih resolusi maksimal 640x480 pixel hanya jika kamera punya media penyimpan sebesar 64 Megabyte atau lebih. Apabila tidak, kapasitas media penyimpan cepat penuh dan tidak akan ada ruang lagi untuk menyimpan foto.
   
4.    MEDIA PENYIMPANAN      
Memutuskan media yang tepat
Format dari media penyimpanan yang sudah umum adalah Compact Flash, Smart Media, dan Memory Stick. Kebanyakan kamera digital hanya dapat menggunakan satu jenis format saja. Kamera dengan Compact Flash dapat menggunakan media penyimpanan Microdrive, sebuah format dari IBM berupa hard disk mini dengan kapasitas sampai dengan 1 Gigabyte. Cukup untuk kebutuhan dokumentasi liburan panjang Anda.
 
5.    MEMASANG SCANNER      
Hemat waktu dengan koneksi cepat 
Scanner beresolusi tinggi akan menghasilkan data gambar cukup besar. Agar proses transfer data berlangsung lebih cepat, pilihlah scanner dengan interface USB 2.0 atau Firewire. Dengan interface ini data gambar akan ditransfer lebih cepat dibandingkan interface USB 1.1 yang masih menjadi standar umum. Komputer model lama yang hanya memiliki interface serial dan paralel akan memerlukan card USB 2.0 atau Firewire tambahan.
   
6.    PROSES DIGITALISASI      
Foto-foto dalam Photo CD
Sekarang sudah banyak laboratorium foto yang melayani permintaan mendigitalkan foto dari film negatif biasa dan dimuat ke dalam Photo CD. Hal yang praktis bila Anda tidak memiliki scanner. Prosesnya juga cepat karena fotonya akan langsung discan dari film negatif. Photo CD akan menjadi pemetaan langsung film negatif milik Anda yang disimpan dalam resolusi yang tinggi. Sebuah Photo CD dapat dipesan beserta pencucian film negatifnya dengan biaya yang tidak terlalu mahal. Hal yang menyenangkan dari komputer adalah Anda tidak hanya bisa mengarsip dan mencetak gambar digital saja, melainkan juga memberi sentuhan kosmetik dan mengoptimalkan kualitas gambar. Berikut ini akan dibahas langkah-langkah yang umum dalam mengolah foto dengan bantuan software Paint Shop Pro. Namun jangan khawatir, program pengolah gambar lainnya juga menawarkan hal yang serupa. Jika Anda bekerja dengan program lain, gunakan fungsi help untuk mencari menu atau fungsi yang sama.
   
7.    PAINT SHOP PRO      
Menghilangkan pola moire
Siapa pun yang pernah menscan sebuah gambar dari kertas bertekstur, buku, atau koran tentu tahu efek moire. Anda akan melihat permukaan latar foto dengan pola seperti sebuah kain bermotif kotak-kotak. Dengan bantuan image editor, Anda dapat menghilangkan moire tersebut. Bukalah file gambar dalam Paint Shop Pro kemudian klik menu Effects | Enhance Photo | Moire pattern removal. Perbesar nilai Fine details hingga pola moire yang mengganggu ini menghilang. Konfirmasikan perubahan yang telah dibuat dengan mengklik OK.
   
8.    PAINT SHOP PRO      
Membuat bingkai (frame)
Anda bisa menghiasi foto dengan bingkai. Caranya dengan fungsi Picture frame dari menu “Image”. Dalam menu ini terdapat kumpulan bingkai dengan efek berlian, air, atau fantasi. Anda juga bisa menggunakan motif bingkai buatan sendiri dengan cara memilih gambar motif tersebut dari menu “Edit paths”.
 
9.    PAINT SHOP PRO      
Mewarnai foto hitam putih
Gambar hitam putih dalam komputer mungkin mengesankan kehampaan saja. Agar lebih menarik, Anda harus menambahkan nuansa warna seperti biru. Caranya, buka foto hitam putih Anda lalu klik pada menu Colors | Increase color depth | Curves | 16 Million colors (24 Bit). Jika Anda tidak mengklik perintah ini, maka gambar secara otomatis ditampilkan dalam mode warna 24 Bit. Sekarang klik Colors | Adjust | Channel mixer. Pilihlah salah satu warna di bawah menu Source channels yang ingin dinuansakan pada gambar Anda. Geser tombol pengatur warna sampai Anda mendapatkan warna yang diinginkan. Terakhir tinggal klik OK.
 
10.    PAINT SHOP PRO    
Foto sebagai background di monitor
Ingin menggunakan foto favorit sebagai gambar latar atau background desktop Windows? Ubahlah format foto tersebut ke dalam format Windows compatible BMP. Sebaiknya gunakan resolusi gambar sekecil mungkin agar tidak memakan banyak memori Windows. Buka foto tersebut, klik menu Image | Resize. Pilihlah Pixel size dan berikan nilai 1024 pixel untuk lebarnya (width) dan 768 pixel untuk tingginya (height). Dengan mengaktifkan opsi Maintain aspect ratio maka dimensi gambar akan tetap terjaga. Klik OK dan simpan gambar tadi sebagai Windows Bitmap (.bmp). Tutup program lalu klik kanan pada desktop. Pilih Properties dan di tab Background klik Browse. Pilih gambar yang telah Anda olah sebelumnya dan klik OK.
   
11.    PAINT SHOP PRO      
Menyamakan warna pada monitor
Setiap pemula dalam mengolah gambar tentu kenal masalah ini: Setelah bersusah payah mengoptimalkan warna dan kontras pada monitor, tetapi ketika dicetak hasilnya tidak seperti yang terlihat pada monitor. Warnanya tampak lebih kusam. Problemnya adalah tidak adanya kalibrasi antara monitor dan printer. Beberapa program gambar menawarkan manajemen warna otomatis. Namun, Anda juga bisa mengkalibrasinya sendiri. Cetaklah sebuah gambar dan bandingkan tampilan warna hasil cetakan dengan tampilan pada monitor. Anda harus mengatur warna dan kontras hingga mendekati kondisi yang ideal.
 
12.    PAINT SHOP PRO    
Filter efek yang mengesankan
Filter efek akan mengubah foto Anda menjadi karya seni dalam sekejap! Kebanyakan program pengolah gambar sudah dilengkapi dengan sederet filter efek yang menawan, seperti efek kilat, kristal, atau tekstur cat minyak. Fasilitas ini masih bisa ditambahkan lagi dengan plugin dari PhotoShop. Setelah instalasi, efek tambahan ini akan dikelompokkan dalam sebuah menu khusus plugin. Dalam program Paint Shop Pro, Anda dapat menemukannya dalam menu “Effects”.
   
13.    PAINT SHOP PRO      
Kembali ke versi terakhir
Apabila Anda merasa gambar asli masih lebih baik daripada perubahan yang telah dibuat, atau secara tidak sengaja Anda memberi efek atau warna yang salah, Anda dapat mengembalikan gambar ke kondisi sebelumnya. Dalam Paint Shop Pro cukup dengan klik pada menu Edit | Undo atau tombol “Ctrl + Z”.
 
14.    PAINT SHOP PRO    
Menempatkan teks dan grafik
Apabila Anda ingin menghias foto dengan tambahan teks, garis berwarna, atau objek lain, maka Anda butuh fasilitas layer (lapisan). Teks dan gambar lain akan dikerjakan pada lapisan yang terpisah dari gambar asli. Buka menu layer dengan menekan tombol L. Foto Anda akan ditampilkan sebagai Background. Dengan mengklik simbol kertas, akan ditempatkan satu layer baru di atas gambar asli Anda.
 
15.    PAINT SHOP PRO    
Membebaskan dari latarbelakang
Apabila Anda inginkan, foto pacar Anda dapat dimasukkan dalam foto baru seolah pacar Anda ada pada saat tersebut. Anda perlu memisahkan sang pacar dari foto dahulu. Akan lebih mudah jika latar belakangnya hanya satu warna, semisal ia berdiri di depan tembok putih. Klik pada tool Magic wand dan klik pada bidang tembok putih. Bidang baru ini akan dibatasi dengan garis putus-putus. Klik menu “Selections | Invert”. Sekarang gambar pacar Anda dapat dicopy dan dimasukkan (paste) ke dalam foto lain, di mana Anda menginginkan kehadirannya. Jika hard disk sudah terlalu penuh dan Anda kesulitan menemukan foto yang dicari, hal ini dapat diatasi dengan beberapa tip penyortiran dan pengarsipan.
 
16.    WINDOWS EXPLORER    
Membuat direktori khusus gambar
Simpanlah foto-foto pada folder yang sesuai dengan temanya. Klik menu Start | Programs” dan bukalah program Windows Explorer. Klik pada folder khusus di mana foto akan disimpan, misalnya di C:My DocumentsMy Pictures. Buat folder baru di dalamnya dengan menu Files | New | Folder. Sekarang klik kanan pada folder baru tersebut, pilih opsi Rename dan berikan nama baru yang sesuai dengan tema foto-foto Anda, misalnya Liburan ke Bali.
 
17.    WINDOWS EXPLORER    
Melihat foto-foto dengan sekejap
Untuk melihat foto-foto digital Anda dengan cepat, lihat langsung saja dalam Windows Explorer. Kliklah menu View” dan aktifkan opsi “as web page”. Gambar akan ditampilkan di pinggir jendela folder.
 
18.    IRFANVIEW    
Membuat tampilan yang lebih besar
Tampilan gambar dari Windows Explorer memang kecil (ukuran thumbnail). Untuk penyortiran gambar yang lebih baik, gunakan image viewer seperti Irfanview. Jalankan Irfanview langsung dari folder tempat Anda menginstall. Aktifkan jendela thumbnail dengan tombol T lalu buka folder foto Anda. Untuk mengubah ukuran thumbnail, klik menu Options | Set thumbnail options. Ubah setting pada Thumbnail size dari 80x80 pixel menjadi 100x100 pixel atau lebih.
 
19.    IRFANVIEW    
Menyortir foto secara kronologis
Bagi Anda yang mempunyai koleksi foto di dalam komputer dari beberapa kali liburan, Anda dapat mengurutkannya berdasarkan tanggal pemotretan. Buka program Irfanview, tekan tombol T, klik pada folder foto yang dimaksud, lalu klik Options | Sort thumbnails dan pilih opsi by Date. Foto akan tersortir berdasarkan kronologis waktu pemotretan.
 
20.    IRFANVIEW    
Menyimpan gambar hemat tempat
Album foto dapat memakan banyak tempat dalam hard disk. Sebuah foto dalam format TIFF dengan resolusi 1600x1200 pixel butuh ruang 5 Megabyte. Agar lebih hemat tempat, ubahlah formatnya menjadi format terkompresi JPEG. Dengan Irfanview Anda dapat mengonversi banyak gambar berformat TIFF menjadi JPEG hanya dalam satu langkah saja. Jalankan program dan tekan B untuk Batch conversion. Pilih folder dalam Look in dan klik ganda pada setiap file yang ingin dikonversikan. Pilih tempat baru tempat menyimpan data gambar di opsi Output directory. Pilih JPEG sebagai output format. Klik Start maka foto-foto akan otomatis dikonversikan. Isi folder baru ini kemudian bisa Anda buat menjadi photo CD untuk lebih menghemat tempat pada hard disk.
 
21.    IRFANVIEW    
Membuat gambar yang lebih kecil
Tidak hanya untuk penghematan arsip, foto dengan ukuran yang kecil akan lebih cepat dikirim bila Anda menyisipkannya dalam email. Kapasitas email juga tidak dalam email. Kapasitas email juga tidak dapat diubah dengan Irfanview. Jalankan program dan buka gambar. Klik menu “Image | Resize/resample. Tentukan ukuran yang baru pada menu “Set new size” atau pilih ukuran standar yang sudah disediakan di jendela menu bagian kanan. Jangan lupa agar opsi Preserve aspect ratio sudah aktif. Klik OK maka ukuran gambar Anda sudah diperkecil. Tibalah saatnya untuk mencetak foto. Agar semua detail dan warna bisa keluar, Anda membutuhkan kertas foto yang berkualitas dan printer yang memadai. Tak hanya itu, beberapa trik mencetak berikut pasti akan sangat berguna.
 
22.    MEMPERBAIKI KESALAHAN    
Menghilangkan bingkai putih di foto
Mencetak foto digital dengan kertas foto jarang yang sesuai harapan. Seringkali hasilnya terdapat bingkai putih pada cetakan foto. Untung hal ini sudah dapat diatasi oleh printer-printer keluaran baru. Anda hanya perlu mengaktifkan opsi borderless pada software pengendali printernya. Namun, terkadang Anda harus mengoreksi sendiri batasan gambar atau foto dengan image editor.
 
23.    KUALITAS FOTO    
Tergantung resolusinya
Anda bisa langsung mencetak foto digital dalam ukuran yang berbeda-beda di laboratorium foto digital. Namun, tentunya tidak semua foto dapat dicetak dengan ukuran sebesar poster karena datanya harus sesuai. Untuk ukuran cetak relatif sebesar 30x45 cm dibutuhkan resolusi foto 3 juta pixel sebagai syarat utama. Sebuah kamera digital kelas menengah saja belum tentu bisa memadainya. Cetaklah dengan ukuran yang lebih sesuai. Untuk ukuran 15x20 cm diperlukan gambar 1,2 juta pixel, dan untuk ukuran 9x13 cm dibutuhkan gambar 0,4 juta pixel saja.
 
24.    MENAMPILKAN FOTO    
Mengatur printer dari kamera
Ada kemungkinan Anda akan bingung jika hendak mencetak foto dari media penyimpan yang sudah penuh. Mana yang harus dicetak, dan yang mana yang tidak perlu? Pada kebanyakan kamera digital terdapat menu untuk dapat memilih terlebih dahulu foto mana yang akan dicetak oleh printer dan berapa banyak yang diperlukan. Untuk hal tersebut maka kamera digital dan printer foto harus sudah mendukung standar DPOF (Digital Printer Order Format).
 
25.    MENAMPILKAN FOTO    
Mencetak foto tanpa komputer
Semakin banyak printer foto yang dilengkapi dengan slot untuk membaca format media penyimpan yang sudah umum seperti Compact Flash, Smart Media atau Memory Stick. Contohnya adalah printer Canon S530D. Bahkan Anda bisa menghubungkan kamera digital ke printer ini untuk langsung mencetak. Pada display printer Anda dapat mengatur berapa jumlah dan ukuran foto yang akan dicetak. Umumnya printer model baru seperti ini juga sudah bisa mencetak semua foto dalam media penyimpan pada satu lembar kertas foto saja. Anda juga bisa mengontrol bagaimana foto akan dicetak pada kertas foto kualitas tinggi dengan ukuran penuh.
 
26.    MENAMPILKAN FOTO    
Menampilkan foto sebagai slideshow
Alternatif selain mencetak: Perlihatkan foto-foto liburan Anda kepada rekan-rekan dengan sebuah CD slideshow. Hal ini tentunya terasa lebih nyaman dibandingkan memperlihatkan cetakan foto yang berukuran kecil. Untuk keperluan ini Anda juga tidak butuh proyektor. Anda bisa menyimpan foto-foto dalam sebuah VCD (Video CD) kemudian perlihatkan di televisi dengan bantuan VCD player atau nikmati langsung dari layar komputer. Penambahan teks serta musik latar akan lebih mempesona tentunya. Anda membutuhkan program seperti WinOnCD, Nero Burning ROM, atau Instant CD/DVD yang memiliki kemampuan untuk membuat sebuah CD slideshow.

---------------

TIPS: BERMAIN DENGAN LENSA ZOOM

Oleh: Judhi Prasetyo
 
Berbahagialah jika kamera Anda memiliki lensa zoom optikal walaupun hanya 2x (kebanyakan kamera saku digital modern biasanya hanya 3x).

Fasilitas zoom sebenarnya adalah kemampuan untuk mengubah dari pengambilan sudut lebar (wide) ke sudut sempit (tele).

Pengambilan sudut lebar sangat cocok untuk foto ramai-ramai seperti foto bersama satu kelas, satu kesebelasan sepak bola, rumah dengan pekarangan yang lebar, dsb.

Sedangkan pengambilan sudut sempit biasanya dilakukan untuk membuat sebuah obyek yang jauh nampak lebih dekat atau lebih besar tanpa si pemotret harus mendekati obyek. Contoh penggunaannya adalah untuk memotret penyanyi di panggung, gedung di seberang sungai, pertandingan olahraga, dsb.

Lebarnya sudut lensa bisa Anda atur dengan mengoperasikan tombol Zoom-in dan Zoom-out pada kamera Anda. Proses zoom-in adalah saat Anda mengubah dari sudut lebar ke sudut yang lebih sempit, sedangkan proses zoom-out adalah kebalikannya, dari yang tadinya sempit/nampak dekat menjadi jauh.

Fasilitas zoom juga bisa dimanfaatkan untuk mendramatisir hasil foto yang akan kita buat.
Dengan zoom, latar belakang foto bisa kita atur agar menjauh atau mendekat kepada obyek sesuai keinginan.

Gambar di bawah ini menjelaskan perbedaan penggunaan mode zoom untuk obyek yang sama:



Pada foto yang atas yang diambil dengan mode Wide Angle nampak backgroundnya lebih luas dan kesannya terletak jauh dari obyek utamanya (biasanya kenyataannya memang begitu). Sedangkan pada foto kedua, gedung di background menjadi seolah-seolah dekat sekali dengan obyek utama tapi kita kehilangan gambar gedung-gedung lainnya.

Perhatikan bahwa pada mode zoom-in (tele) si pemotret harus menjauh dari obyek agar dapat menempatkan seluruh obyek (tiga orang yang nyengir itu) dalam satu layar, akibatnya kekuatan lampu flash jadi berkurang dan obyek nampak agak gelap. Tentu saja masalah ini tidak akan terjadi di siang hari di bawah sinar surya.

Selamat mencoba!
Judhi Prasetyo

--------------------------------

BEDAH TRIK: AIR MENETES

Oleh: Rahadi Lukita
 
Terinspirasi dari berbagai karya FN-ers yang mengandung air, dan umumnya bukan menggunakan kamera jenis Point & Shoot, sehingga bagi saya yang memiliki jenis tersebut, tertantang untuk berbuat hal yang sama dengan segala keterbatasan yang ada pada kamera (digital) jenis P & S ini.

Karya saya terkait dengan air akan saya bahas disini, seperti Air Menetes , S.p.l.a.s.h ! , Tetesan Air maupun Tetes Air


Air Menetes, Tetesan Air dan Tetes Air

Kebutuhan :
- Kamera digital P & S (sebaiknya resolusi minimal 2 MP, lebih baik lagi bila memiliki kemampuan makro)
- Tripod, monopod atau benda yang dapat difungsikan sebagai dudukan kamera.
- Senter atau benda yang mengkilat seperti sendok, digunakan untuk pre-focus.
- Ruangan dengan pencahayaan tidak terlalu terang (kira-kira seterang ruangan berukuran 4 x 4 dengan lampu PLC 9 s/d 13 W).
- Sumber tetesan air (keran, selang, sedotan atau yang lainnya) dengan tetesan sekitar 2 atau 3 tetes per detik.

Proses pengambilan gambar :
- Atur tetesan air sekitar 2 sampai 3 tetes setiap detiknya. Banyaknya tetesan setiap detik ini tergantung dari keinginan fotografer, bebas bereksperimen.
- Lakukan setting kamera pada makro bila ada, dan aktifkan fill-in flash (bukan auto flash).
- Arahkan kamera pada air yang menetes, lakukan pre-focus (menekan tombol shutter setengah). Bila tidak dapat fokus, dekatkan benda mengkilat pada posisi air yang menetes untuk membantu pre-focus, bila masih belum fokus, bantu dengan senter. Ini merupakan langkah kritis untuk mendapatkan hasil optimal dari air yang menetes supaya jelas dan tajam.
- Setelah fokus didapat melalui pre-focus, tunggu sampai tetesan air yang terbaik muncul, ambil gambar dengan timing yang pas. Sebaiknya dilakukan berkali-kali, agar nantinya bisa dipilih yang terbaik.
- Kondisi di atas tidak mengikat, lakukan eksperimen dengan berbagai lighting atau angle.


S.p.l.a.s.h !
Kebutuhan:
- Kamera digital P & S (sebaiknya resolusi minimal 2 MP, lebih baik lagi bila memiliki kemampuan makro)
- Botol kecil berisi air

Proses pengambilan gambar:
- Setting flash digicam pada posisi fill-in.
- Pegang kamera dengan tangan kanan (atau kiri)
- Pegang botol berisi air dengan tangan kiri (atau kanan)
- Lakukan pre-focus (lihat artikel di atas)
- Lakukan gerakan cepat terhadap botol seolah kan menumpahkan air di dalamnya secara sekaligus.
- Pada timing yang pas, tekan tombol shutter sepenuhnya.
- Sama seperti sebelumnya, lakukan berkali-kali untuk mendapatkan hasil yang terbaik.

Demikian sedikit sharing pengetahuan, semoga bermanfaat dan selamat berkesperimen.

Berikut gambar tetesan air dengan berbagai bentuk :



----------------


DASAR PENCAHAYAAN (UNTUK PEMULA)
Oleh: D. Z. Sjechlad, Penjahat
 
Orang suka membedakan antar teknik pemotretan outdoor dgn indoor. Padahal semuanya sama. Pada dasarnya ada main light (Sumber cahaya utama) dan ada fill in light (Sumber cahaya pengisi).

Kalau di outdoor main light nya adalah matahari dan fill in nya adalah pantulan cahaya matahari yg tdk langsung mantul melalui tanah, langit, batu, laut dll. Kalau di indoor juga sama. Harus ada main light dan kemudian fill in nya bisa 1 atau lebih tergantung efek yg mau diangkat.Perbedaan kekuatan pencahayaan antara main light dan fill in yg akan menimbulkan contrast.

Matahari pagi langsung dimana unsur UVnya masih rendah dgn sudut sinar yg miring ditambah dgn pantulan cahaya dr sekitarnya membuat sudut pencahayaan yg menarik dgn tingkat contrast yg tinggi. Matahari yg terlindung awan mengakibatkan mainlight yg dihasilkan tdk jauh berbeda dgn fill in hasil pantulan sekitarnya menimbulkan efek flat / tanpa dimensi yg teduh. Di Indoor hal ini juga bisa dibuat; sudut datangnya sinar, tingkat kekontrasan, tingkat kekesasan dll.

Perbedaan utama antara outdoor dan indoor terletak pada factor kendali. Kalau outdoor kendali ada pada alam. Manusia hanya memanfaatkan / mengoptimumkan kondisi yg sedang terjadi. Di indoor manusia yg pegang kendali. Sudut sinar, efek keras / halus, kekontrasan, dll bisa di set sesuai keinginan.

----------------

MEMOTRET TOKOH DAN MODEL

Oleh: Kristupa W Saragih
 
Salah satu obyek yang paling sering dipotret adalah manusia. Ketika berwisata
bersama keluarga, sekedar kumpul bareng teman, atau ketika lulus kuliah, kamera
menjadi alat utama untuk mengabadikan saat-saat kenangan. Di dinding rumah pun
bisa jadi foto manusia yang banyak dipajang, dalam bentuk foto keluarga di studio
atau reuni teman-teman sekampus, sebagai misal.



Dalam data pribadi kerap kali dijumpai hobi difoto, untuk menyebut hobi-hobi
lain seperti membaca, jalan-jalan, dan nonton film. Bisa jadi yang sebenarnya
menjadi hobi adalah hobi melihat foto diri sendiri ketimbang difoto. Karena untuk
difoto sebenarnya tidak selalu semenyenangkan duduk sambil ngemil di depan TV
atau membaca di kursi malas. Difoto, dalam arti serius, berarti wanita harus menyiapkan
rias wajah dan rambut, sementara pria harus tampil rapi dengan pakaian necis.



Semakin serius sebuah pemotretan, berarti semakin serius pula persiapannya. Sebuah
pemotretan model gaya ABG di studio-studio foto tentu tak seberat sesi pemotretan
model untuk iklan produk. Lebih serius lagi jikalau model yang di-casting adalah
model terkenal yang dibayar mahal. Bisa jadi sangat serius jika model foto adalah
pejabat tinggi negara atau pengusaha kaya yang hendak ditampilkan anggun, gagah,
berwibawa, chic dan mewah. Di luar itu semua, unsur fun tetap lebih banyak dan
lebih dinikmati ketimbang peluh yang bercucuran untuk menyiapkan kostum dan setting
tempat. Terlebih lagi jika seluruh kru pemotretan dan model bisa berkomunikasi
dengan akrab.



Segi Teknis Penting

Tentu saja, unsur-unsur teknis tetap tak bisa disepelekan. Karena sedap tidaknya
sebuah foto dipandang tetap dibangun oleh unsur-unsur teori dasar fotografi. Tak
perlu rumit-rumit, cukup dengan bermain-main dengan komposisi dan pencahayaan
maka sebuah foto model bisa dibuat dengan benar. Selebihnya, tinggal bagaimana
cara fotografer mengarahkan pose dan ekspresi sang model. Misalnya saja pada foto
close up Rahma Azhari. Dalam foto tersebut bisa dilihat penempatan titik Point of Interest (POI) sesuai
dengan komposisi sepertiga (Rule of Third). Pencahayaan dibuat frontal menggunakan
reflektor, karena kondisi pemotretan aslinya adalah outdoor pada saat cahaya matahari
pada posisi top lighting. Sementara pada foto “Rahma in Blue” komposisi masih
dibuat sesuai komposisi sepertiga tapi dalam format horisontal.

Masih dalam kaitan unsur teknis dasar fotografi, komposisi sepertiga juga diterapkan
pada foto “Main Air”. POI diletakkan pada sepertiga bagian sebelah kanan dengan pose menghadap ke
kiri untuk “mengisi” bagian kiri foto. Di sini ada unsur teknis lain yang terlibat,
yakni pemilihan ruang tajam (depth of field) yang sempit sehingga mem-blur-kan
latar depan dan latar belakang. Ruang tajam yang sempit (shallow depth of field)
membantu fotografer mengarahkan perhatian pemirsa foto hanya pada model yang menjadi
POI, tanpa harus teralihkan perhatiannya dengan bebatuan di sekitar model. Teknik
dasar lain yang digunakan adalah freezing (membekukan gerak), dengan cara memakai
kecepatan rana tinggi, untuk merekam butir-butir air secara tajam. Elemen-elemen
yang ada di lokasi pemotretan, terutama pemotretan di luar ruangan, akan sangat
berguna jika dimanfaatkan secara cerdik.



Pose dan Ekspresi

Kemampuan model berpose dan berekspresi tetap menjadi unsur yang tak terpisahkan
dari keberhasilan sebuah foto model. Mengarahkan model yang bukan profesional
lebih menantang daripada model profesional. Tapi, bisa jadi lebih menarik dan
menantang jika memotret tokoh dalam pose-pose yang lain dari biasanya. Istilah
gampangnya, tampil unik tapi menarik, nyeleneh tapi jenaka, pose tak biasa tapi
tetap sedap dipandang. Pose-pose tersebut membutuhkan kemampuan non-fotografis
yang kental, seperti pendalaman pribadi, kedekatan emosional dan kemampuan berkomunikasi.
Resep utamanya adalah menggali hal unik yang menjadi pencerminan khas tokoh dan
model yang hendak difoto.

Ketika memotret Sheila on 7 (SO7), yang notabene kerap bertemu muka di sebuah
radio di Yogyakarta, tetap menjadi tantangan tersendiri. Komunikasi yang dibangun
kerap kali menjadi bercanda yang kebablasan bercanda terus, atau malah sebaliknya
serius yang bablas menjadi kaku. Ketika itu sekitar tahun 1998, SO7 baru menyelesaikan
album pertama dan dipotret untuk kepentingan materi iklan sebuah perusahaan t-shirt.
Hari berikutnya, mereka ingin difoto untuk kepentingan manajemen mereka dan koleksi
pribadi. Jadilah, pose-pose yang nyeleneh, jenaka, dan unik yang tak terencanakan
sebelumnya. Foto “Sheila on 7’s Free Style” akhirnya dihasilkan bermodal komunikasi
akrab. Ketika itu, kamera medium format fokus manual memaksa tangan terus menerus
melekat di gelang fokus lensa dan tombol pelepas rana agar momen ekspresi yang
muncul hanya untuk beberapa detik tak luput dari rekaman.

Lain halnya dengan pose-pose yang tidak terlalu dinamis bergerak atau berekspresi.
Fotografer bisa dengan perlahan mengeset kamera dan pencahayaan serta berhati-hati
memilih angle. Misalnya saja pada foto “Terkulai” yang dibuat pada set indoor
dengan pencahayaan artifisial dan sentuhan akhir di komputer untuk memberi pewarnaan
berkesankesan lembut dan hangat.


Perlu Pendekatan Personal

Keberhasilan merekam pose-pose menarik memang tak berhubungan langsung dengan
segi teknis fotografi. Tapi, keberhasilan secara teknis fotografi tak ada artinya
dalam kancah memotret model dan tokoh tanpa pose yang sedap dipandang mata. Terlebih
lagi jika ingin mengekplorasi seorang tokoh dalam pose-pose yang unik dan ekspresif.
Bisa jadi pose-pose tersebut adalah pose-pose “apa adanya“ meski sebenarnya diarahkan
oleh fotografer.

Ketika memotret seorang aktor teater dan seniman serba bisa Butet Kertarejasa,
misalnya. Tak ada pembicaraan khusus sebelumnya, selain berbincang ringan di ruang
tunggu bandara pada suatu pagi. Lantas, niat untuk membuat suatu sesi foto kemudian
muncul yang dilanjutkan dengan beberapa perencanaan sederhana, seperti soal lokasi
dan kostum. Memang, adalah penting untuk membuat tokoh sebagai model tetap nyaman
berpose di depan kamera dan berbagai perlengkapan pencahayaan. Dan memutuskan
kediaman pribadi tokoh itu sendiri sebagai lokasi pemotretan tentu bukanlah suatu
syarat yang sulit.

Perencanaan yang cerdik dibutuhkan untuk berhasil membuat foto-foto bagus. Mengenali
diri seorang tokoh, berikut keseharian dan karir tokoh tersebut sama pentingnya
dengan merencanakan kostum yang hendak dikenakan. Pemanfaatan properti pun jangan
disepelekan demi menciptakan suasana yang mencerminkan pribadi sang tokoh. Seperti
dalam foto “Oom Pasikom Style”, sudah diketahui terlebih dahulu bahwa Butet melakoni
tokoh bernama sama dengan judul foto dalam sebuah sinetron di stasiun TV swasta.
Maka, kostumnya pun menjadi saling dukung-mendukung dengan pose, plus imbuhan
properti mobil kuno koleksi pribadi Butet.


Lokasi dan Properti

Masih dalam mobil kunonya, Butet terlihat merasa sangat bebas dan nyaman, didukung
suasana penuh canda dan komunikasi yang berlangsung akrab. Jadilah pose jenaka
pada foto “Butet in Expression” tercipta. Ini adalah pose yang tak muncul dalam benak saya sebagai fotografer
ketika merencanakan pemotretan Butet. Bisa dibilang, pose ini adalah improvisasi
yang berhasil.

Kebutuhan akan properti tak perlu berlebihan, dengan cara memanfaatkan properti
yang sudah ada di lokasi. Kebetulan Butet pernah menulis di Kompas perihal koleksi
kotak rokoknya. Maka, adalah pose yang wajar jika Butet kemudian difoto sambil
merokok di depan koleksi kotak-kotak rokoknya, seperti pada foto “Butet dan Koleksi
Kotak Rokoknya”. Lantas, ada pula faktor keberuntungan dan kebetulan yang bisa
menghasilkan foto candid. Ketika dalam pose merokok di depan lemari koleksi kotak
rokoknya, kebetulan ponsel Butet berdering dan saya persilakan untuk menjawabnya.
Tentu bukan tanpa alasan dan sama sekali tidak mengganggu sesi pemotretan, karena
pada saat itulah salah satu kesempatan emas muncul untuk merekam ekspresi Butet
yang paling tak dibuat-buat. Maka, terciptalah foto “Halo, Butet di Sini...”.


Mengukur Keberhasilan

Membuat foto model dan foto tokoh bisa disebut berhasil jika fotografer berhasil
mengkomunikasikan ide di benaknya kepada para pemirsa foto. Jika pemirsa foto
mengernyitkan dahi pertanda bingung atau memicingkan mata pertanda tak nyaman
memandang, maka bisa dibilang pemotretan belum berhasil sepenuhnya. Lain halnya
jika pemirsa foto mengangguk-angguk pertanda paham atau diam untuk merenung lantaran
berhasil meresapi makna dan rasa dari foto yang dilihatnya. Keberhasilan itu menjadi
lebih berguna lagi tatkala muncul inspirasi-inspirasi baru di benak pemirsa foto
setelah melihat karya-karya seorang fotografer.***

--------------------

MENANGKAP PETIR

Oleh: Heri Sudarmaji, HEZ
 
Tulisan ini saya buat untuk menaggapi beberapa pertanyaan yang diajukan pada karya saya yang berjudul Cahaya Petir (30 Oktober 2003), silakan lihat di http://www.fotografer.net/isi/galeri/lihat.php?id=50689. Foto tersebut saya buat tahun 90-an ketika saya masih SMA, terinspirasi sebuah tulisan di sebuah majalah waktu itu (saya lupa majalahnya apa). Dan suatu kebetulan juga saya sedang rekreasi bersama teman-teman SMA, waktu itu, ke tempat yang cukup sering muncul petir (kebetulan yang langka). Sayangnya, waktu itu di kamera hanya ada sisa film hitam putih dan nggak banyak, sehingga saya hanya dapat mencoba beberapa frame saja dan hampir semuanya under exposure.

Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:

1. Carilah daerah atau tempat di mana petir sering muncul. Pada kasus foto saya, pengambilan gambar terjadi di Pantai Pasir Putih Probolinggo, Jatim). Pada saat itu cuaca mendung dan di arah laut petir muncul cukup sering (tiap 2 atau 3 menit). Menurut saya, cari tempat seperti ini yang susah. Soalnya sampai saat ini belum pernah ketemu lagi tempat yang seperti ini.

2. Pastikan kamera anda ada fasilitas B (bulb) dan dilengkapi dengan tripod. Akan lebih baik jika anda melepas shutter dengan cable realese button atau dengan remote controller untuk mengurangi guncangan saat shutter di tekan. Pada saat pengambilan foto Cahaya Petir, saya menggunakan kamera manual Yashica FX3 super dengan lensa 50 mm. Penggunaan kamera digital boleh juga dicoba karena pada prisipnya sama saja, yang penting ada B (bulb)-nya.

3. Berapa bukan diafragma? Ini yang agak sulit ditentukan. Pertama, karena kita belum tahu akan seberapa kuat intensitas cahaya petir yang kita tunggu. Kedua, berapa lama shutter kitra terbuka untuk menunggu datangnya petir. Saat itu saya membuka shutter selama kurang lebih 5 menit, dengan diafragma antara 5.6 sampai 8. Namun dari beberapa shot hanya satu yang bisa dicetak karena semuanya under. Maklum saat itu di pantai kondisinya gelap sekali (saya memotret malam hari). Mungkin akan berbeda sekali jika anda melakukannya siang hari, sore hari, atau di perkotaan dengan lampu-lampu kota dan gedung-gedung. Untuk yang ini saya tidak bisa memberi formula yang pas, yah.. trial and error saja atau lakukan braketing dengan variasi yang banyak. Boleh dikata, menangkap petir ini sangat untung-untungan. Jadi berdoa saja nasib anda baik, he..he..he..

4. Kalau semuanya sudah siap, atur kamera ke arah di mana petir sering muncul. Atur angle dan koposisi yang anda inginkan, kemudian tekan SRB (shutter Release Button) dan tunggu sampai petir muncul. Setelah dianggap cukup anda dapat melepas SRB kembali.
Mungkin itu saja yang bisa saya bagi, soalnya saya sendiri masih belum pengalaman motret petir. Pengalaman pertama saya masih belum sukses dan nggak tahu kapan bisa trial lagi.

Bagi teman-teman yang sudah pengalaman, mohon dikoreksi kalau ada tulisan saya yang salah atau kurang.

Dan bagi yang ingin Mengakap Petir, saya ucapkan “Selamat Mencoba” mumpung cuacanya pas karena lagi musim hujan (khususnya di Jakarta). Silakan hunting dan jangan lupa ‘sharing’-nya.

---------------------------

TEKNIK SOLARISASI DI KAMAR GELAP

Oleh: david hermandy
 
Ada dua macam solarisasi yaitu solarisasi pada kertas foto dan pada film. Prinsip kedua solarisasi ini sama, yaitu expose-develop-expose-develop. Expose pertama adalah proses pemotretan atau penyinaran pada saat cetak. Film atau kertas foto yang terexpose harus didevelop agar timbul image. Pada saat develop kertas/film masih peka terhadap cahaya, jika kertas/film yang sudah terdevelop kita expose lagi dengan sejumlah cahaya dan didevelop lagi akan muncul efek yang namanya solarisasi.
Solarisasi tidak bisa dilakukan jika paper/film sudah difixer, karena paper/film sudah tidak peka cahaya lagi.

Berikut uraian singkat tentang solarisasi.

Print Solarization (pada kertas foto):
1.Lakukan test print seperti biasa, setelah diperoleh exposure time, expose paper kemudian develop selama ¾ dari waktu total.
2.Pindahkan paper dari developer ke dalam tray yang berisi air bersih, agitasi sekitar 1 menit. Angkat kemudian dengan spon penyerap air hilangkan air yang menempel pada permukaan foto.
3.Expose kedua bisa dilakukan dengan lampu yang redup. Intensitas cahaya dan waktu pada second exposure memerlukan percobaan hingga ditemukan waktu dan intensitas yang sesuai. Expose bisa dilakukan dengan enlarger yang diredupkan (diafragma diset kecil).
4.Develop lagi paper tersebut selama ½ dari waktu total kemudian stopbath dan fixer seperti biasa.
5.Print solarization bisa dilakukan sebagian yaitu dengan cara menutupi (dodging) bagian yang tidak ingin disolarisasi dengan potongan kertas yang dipotong seperti obyek. Cara lain dengan mengoleskan larutan fixer menggunakan kuas pada bagian yang tidak ingin disolarisasi setelah diexpose bilas lagi dengan air agar developer bisa bekerja (tidak terlalu terkontaminasi fixer).

Saya jarang melakukan print solarization karena kecenderungan semua tone menjadi gelap, bagian putih tidak ada (menjadi abu-abu) dan mustahil untuk membuat dua cetakan solarisasi yang identik.
Film solarisasi memiliki hasil yang lebih bagus (menurut saya) dan dari film solarisasi bisa dicetak identik tiap cetakannya, hanya saja lebih sulit (menurut orang) dan hasilnya yang grainyness. Kemungkinan berhasil-gagal adalah 50-50, makanya saya lebih senamg melakukan solarisasi film hasil dari repro slide. Teknik solarisasi film yang saya pakai saya temukan pada sebuah artikel di majalah Popular photography tahun 1993 (kalo gak salah, sekarang majalahnya udah hilang). Developer yang digunakan Kodak Dektol (saya kurang tahu kenapa dianjurkan menggunakan Dektol yamg merupakan paper developer, mungkin agar bisa diperoleh fine grain atau efek Sabatiernya labihjelas?) pada suhu sekitar 35-38 Celcius dengan waktu developing sekitar 10 menit.

Film Solarization:
1.Develop film seperti biasa dengan Kodak Dektol Stock Sollution pada 35-38 Calcius selama 5-6 menit, agitasi seperti biasa yang Anda lakukan.
2.Keluarkan developer, isi tabung proses dengan Ilford Wetting Agent atau Kodak Photo Flo, agitasi selama 30 detik buang larutan (jangan dipakai lagi karena sudah terkontaminasi), ulangi sekali lagi. Tahap ini penting agar pada second expose tidak ada sisa developer yang bisa mengakibatkan hasil belang-belonteng.
3.Dalam keadaan darkroom gelap total keluarkan film dari tabung dan reel, nyalakan safe light, expose film selama 8-12 detik. Safelight yang saya gunakan adalah Kaiser Duka 50 dengan intensitas dipasang pada 10 (max 50) diexpose dari jarak sekitar 150 cm, untuk safelight biasa sebaiknya dilapisi lagi sehingga lebih redup 50% atau lebih dari biasanya.
4.Matikan Safelight (gelap totak lagi), masukan film kembali pada reel dan tabung kemudian lanjutkan proses develop hingga waktu mencapai 10 menit, stopbath dan fixer seperti biasa. Developer jangan dipakai lagi (sudah terkontaminasi wetting agent).

Tips (untuk solarisasi film):
Gunakan film yang fine grain seperti Kodak Tmax 100, Ilford Delta 100 atau Ilfordpan Plus 50, karena hasil solarisasi pasti grainyness.
Pada pemotretan atau repro bracket mulai +2 stop sampai -3 stop.
Hati-hati pada saat second expose, karena film basah dan developer yang agak hangat, film menjadi lebih gampang tergores.
Menurut pengalaman saya, temperatur developer dan waktu proses tidak terlalu kritis (makanya saya menulis temperatur 35-38 dan waktu sekitar 10 menit, lagipula kenapa harus diperhatikan jika kita sudah pasti mendapatkan film yang over sekali)
Bersiap-siap untuk mencetak dengan variable contrast paper dan teknik split filter
Gunakan developer yang bersifat fine grain, hindari developer semacam Minigrain, Superbrom, Micro MF, Pro BW dan sejenisnya.

Contoh hasil solarisasi film bisa dilihat pada dua foto teratai yang saya upload di FN.
Jika ada pertanyaan, kritik atau komentar, bisa dilontarkan pada forum, sekalian menjadi bahan diskusi.

-----------------------


TIPS CAMCORDER - MODE WIDESCREEN (16:9)

Lebih Jauh dengan Mode Widescreen (16:9)

Menonton Film/Movie di bioskop ataupun televisi layar lebar, memang terasa lebih mengasyikkan daripada menikmatinya pada layar televisi biasa. Karena, secara natural mata kita memang lebih nyaman melihat sesuatu hal secara horizontal daripada vertikal. Fasilitas layar lebar, juga dapat Anda temui pada beberapa jenis camcorder, terutama di kelas menengah ke atas. Dengan fasilitas ini, Anda dapat menikmati video secara maksimal pada televisi layar lebar, ataupun melalui projector. Namun perlu diketahui, tidak semua fitur widescreen yang dimiliki camcorder benar-benar “widescreen” sesungguhnya. Ada tiga jenis implementasi fitur widescreen, dan hanya satu yang benar-benar widescreen “asli”.

1. Letterbox matte

Teknik ini adalah teknik paling gampang dalam menciptakan mode widescreen, karena hanya perlu memblok sisi atas dan sisi bawah area perekaman. Sehingga, otomatis tampilannya menjadi “layar lebar”. Ketika Anda memainkan rekaman ini pada televisi biasa, maka tentu saja akan tampak area hitam di bagian atas dan bawah layar televisi. Sementara pada televisi layar datar, tampilan hasil rekaman akan tergantung dari “kepandaian” TV layar lebar tersebut, apakah secara otomatis dapat menerima sinyal “layar lebar” atau harus mengaturnya secara manual.
Yang pasti, kualitas gambar yang dihasilkan dalam metode ini jelas akan menurun dari yang semestinya. Karena, terjadi “cropping” area perekaman/sensor yang mengakibatkan tidak seluruh kemampuan sensor digunakan secara maksimal.

2. Widescreen "stretch" mode

Meskipun hasil akhir yang diperoleh dari mode ini sama saja dengan mode Letterbox matte, namun metode ini relatif lebih populer dalam implementasinya. Dalam teknik ini, camcorder tetap akan merekam gambar secara normal, tetapi kemudian membuang bagian atas dan bagian bawah gambar, sehingga mirip pola Letterbox matte. Gambar kemudian ditarik (stretch) secara vertikal untuk menutupi lubang yang ditinggalkan. Hasilnya, gambar yang semuanya terlihat menjadi lebih tinggi dari yang seharusnya. Hasil akhir di televisi sekali lagi, tergantung sejauh mana kepandaian televisi Anda membaca gambar video yang digencet ke atas ini.


3. True 16:9 camcorders

Kedua mode di atas lebih banyak mengandalkan solusi software untuk menciptakan mode widescreen dari mode aslinya yang 4:3. Namun, untuk mendapatkan tampilan layar lebar terbaik, solusi paling tepat adalah menggunakan camcorder yang benar-benar memiliki aspek rasio 16:9. Camcorder jenis ini memiliki sensor CCD berukuran khusus (16:9) yang mampu menerima masukan gambar dari lensa (khusus pula), sehingga gambar yang direkam langsung merupakan gambar 16:9 asli. Sayangnya, jenis camcorder seperti ini biasanya tidak murah, karena selain biaya produksi yang relatif lebih mahal, jumlah pemilik televisi layar lebar juga tidak terlalu banyak.

Selain tiga teknik di atas, pemilik camcorder yang menginginkan mode widescreen dengan kualitas baik, namun menggunakan camcorder beraspek rasio 4:3, dapat menggunakan lensa adapter khusus seperti keluaran Optex atau Century Optics. Lensa ini harganya cukup mahal, sekitar US$500, atau tidak jauh beda dengan harga camcordernya sendiri!. Tampaknya, solusi termurah masih tetap menggunakan software, baik langsung di camcorder, ataupun melalui editing di komputer pasca perekaman.
 
more info : www.majalahdigicom.com

---------------------

« Last Edit: July 22, 2008, 10:25:41 AM by xugari »
Logged

xugari

  • Penyelam Unggul
  • *****
  • Keong: 1
  • Offline Offline
  • Posts: 6136
Re: Kumpulan Tips & Tricks Kamera Digital
« Reply #2 on: July 22, 2008, 10:24:13 AM »


TIPS HANDYCAM - CAMCORDER CCD ATAU 3CCD

Menjelang liburan pertengahan tahun ini, tak sedikit orang yang bingung ketika akan memutuskan membeli camcorder untuk merekam akitvitas keluarganya nanti. Merk A menawarkan camcorder dengan sensor CCD yang mencapai 1.5 megapixel. Sementara merk B hanya memiliki 270.000 pixel, namun mengunggulkan fitur 3CCD yang katanya mampu menghasilkan video berkualitas. Manakah sebenarnya camcorder yang yang harus di beli? Bukankan 1.5 megapixel lebih bagus dibanding 270 ribu pixel? Lalu mengapa camcorder berpixel kecil namun memiliki 3CCD tersebut malah lebih mahal?

CCD, atau charge coupled device adalah bagian dari kamera/camcorder yag berfungsi menangkap cahaya dari dunia luar, dan kemudian menerjemahkan dalam kode biner no


---------------------

12 Tips Jitu Menjepret Foto Candid

Fransiska Ari Wahyu - detikinet

 
Jakarta - Dalam fotografi, kita mengenal istilah candid camera. Ini berarti bahwa subjek yang kita potret tidak dalam kondisi berpose atau 'sadar' kamera. Hasilnya pun terlihat lebih natural, spontan, dan tidak dibuat-buat.

Untuk candid camera, kita tidak perlu dipusingkan dengan berbagai macam teknik yang rumit. Meski demikian, untuk mendapatkan hasil jepretan yang memikat, ada kiat-kiat khususnya. Berikut 12 tips jitunya yang dikutip detikINET dari Picturecorrect, Selasa (22/7/2008):

1. Bawa kamera kemana pun Anda pergi. Siap-siaplah untuk menjepret setiap saat, karena momen menarik bisa hadir di depan mata kapan saja.

2. Perhatikan kondisi sekitar Anda. Hal-hal sederhana bisa menjadi objek menarik untuk dibidik dengan kamera Anda. Misalnya, pemilik toko yang tengah melamun, orang yang sedang menunggu kereta api, lansia yang duduk di sebelah Anda, dua
sejoli yang sedang berpacaran dan sebagainya.

3. Sigaplah untuk siap membidik, karena tidak mudah mendapatkan kesempatan untuk mengambil gambar secara candid. Jadi ketika ada momen bagus, jangan ragu untuk langsung menjepret.

4. Jangan terlalu memusingkan teknik-teknik lighting yang rumit. Berfokuslah pada teknik yang sederhana, dan gunakan fitur otomatis kamera. Ini akan memudahkan Anda. Berbagai masalah teknis, seperti gambar terlalu terang atau gelap dapat disiasati dengan editing komputer.

5. Setinglah kamera pada ISO 400, sehingga kamera menggunakan shutter speed yang cepat. Hal ini memungkinkan Anda untuk menangkap momen dengan tepat meski Anda sedang bergerak.

6. Anda tidak perlu selalu memotret dengan kamera pada posisi mata. Mungkin, Anda bisa meletakkan kamera di pinggang saat mengambil gambar. Di sini memang dibutuhkan pengalaman dan keberuntungan untuk mendapatkan gambar yang bagus.

7. Gunakan lensa zoom paling maksimal sehingga Anda dapat menjaga jarak dari subjek jepretan Anda saat memotret.

8. Jangan pernah mengambil foto punggung orang, ini akan menghasilkan gambar yang membosankan.

9. Cobalah untuk meng-convert gambar ke posisi 'Black and White' untuk mendapatkan hasil yang lebih emosional.

10. Momen 'orang sedang melakukan sesuatu' akan menjadi foto candid yang bagus. Misalnya, atlet, pedagang, petani. Cobalah untuk meng-capture inti dari pekerjaan orang tersebut. Misalnya, meng-capture tukang ledeng yang sedang berkutat memperbaiki pipa bocor atau yang lainnya.

11. Jika Anda berada di tempat umum, sah-sah saja memotret orang. Jika Anda merasa tidak enak untuk mengambil gambar orang tanpa sepengetahuannya, tak ada salahnya Anda meminta izin. Mintalah subjek untuk tidak berpose, bersikap senatural mungkin dan tetap melanjutkan aktivitasnya.

12. Jangan pernah bosan untuk berlatih dan mencoba terus-menerus. Cobalah berbagai macam angle, tempat dan scene yang berbeda-beda. Anda juga bisa mencari inspirasi dari foto candid orang lain. Latihan terus menerus akan mengasah kemampuan Anda.
Logged
Pages: [1]   Go Up