Lautan Indonesia - Forum Indonesia Terbesar dan Terlengkap
Welcome, Guest. Please login or register.
Did you miss your activation email?

Login with username, password and session length
March 15, 2010, 05:17:52 am
Pages:  1 ... 227 228 229 230 [231] 232 233 234 235 ... 930   Go Down
  Print  
Author Topic: [LOUNGE & SERVICE] Fiksi Fantasi Dalam Negeri III  (Read 158322 times)
Alpha_Serpentwitch
Kelasi
*
Offline Offline

Posts: 609


Serpent Pro


WWW
« Reply #2300 on: July 23, 2008, 10:21:59 am »

Eh, sejak kapan ada vadisnya k.com? Baru liat... Cheesy

Btw asik nih ada perang cabe lagi wakakak... untunglah sementara Bloodsin teralihkan ke Fred, jadinya ga gangguin gw mulu hehe... Tapi gatel juga pengen ikut lempar cabe sembunyi tangan.  Grin

Tapi kalau yang gw liat sih komen kalian berdua soal metafora itu jelas subjektif. Fred lebih senang dengan gaya bahasa sederhana dan kurang suka bahasa canggih yang dipaksakan (kesannya menyombongkan diri sebagai seorang dosen sastra, malu dong kalau ga pake gaya bahasa maut ala metafora? Gt ya?) Sementara Bloodsin dengan Lemur nya yang selalu puitis jelas senang dengan gaya bahasa canggih dan indah. Metafora yang belum pernah dipakai, unik, mungkin aneh sekalipun, adalah nilai plus sebagai kreatifitas.

Quote
Quote
Quote
Contoh 1: # Jim mencicit seperti tikus dalam perangkap. (hal 62) #
Buat gw metafora ini udah pas, dapet, dan gak ada masalah sama sekali.

Benar-benar menyebalkan bagi gw, lu ngerti gak sih konsep metafora? Kenapa juga orang yang ketakutan jadi gak pas diibaratkan sebagai tikus yang mencicit? jujur aja, argumen lu untuk menjatuhkan metafora di atas bener-bener aneh buat gw, kayak seenak jidat gitu...

Well, metafora tikus mencicit sudah dipakai untuk deskripsi peter pettigrew di Harpot toh? Nah kalau mau liat seperti apa itu manusia ketakutan mencicit, nonton aja versi film bioskopnya. Ada sih ada aja, itu terserah penulisnya, dan terserah pembacanya untuk mengartikannya. Tapi, bagus atau engga? Jelas engga kalau nginget lagi si pettigrew itu. Tongue

Quote
Quote
Quote
Contoh 3: # Jim terdiam melihat siluet pandangan di hadapannya. .... Gadis itu menatap ke gemerincik beningnya air sungai. Mukanya terlihat separuh. Dan hati Jim seketika bergemerincik separuhnya. (hal 178) #

Ini salah satu paragraf terkeren di sang penandai bagi gw, jadi bisa tolong dijabarkan argumen lu untuk komen 'please deh ah' lu thd paragraf ini?


Kl ini sih gw setuju dengan Fred. Kalau ga ada embel2 kalimat sebelumnya mungkin gw masih tertarik mengorek arti metafora ini. tapi kalau liat kalimat sebelumnya jelas aneh, ga nyambung dan ga ada artinya. Udah ada gadis menatap gemericik beningnya air sungai, trus mukanya terlihat separuh, kemudian metaforanya gabungin keduanya, hati Jim seketika bergemerincik separuhnya Huh?

Dari bunyi jelek, estetika biasa aja, dan artinya ga jelas. Seperti kata Fred, metafora yang artinya ga sampai ke pembaca artinya gagal. Tugas kita sebagai penulis itu apa? Menyampaikan cerita/informasi ke pembaca! Kalau pembaca gagal untuk menerima informasi yang diberikan secara benar, artinya kita yang gagal sebagai penulis, bukan mereka yang gagal sebagai pembaca -__-. Pembaca adalah raja.

Quote
Quote
Contoh 4: # Ajaib! Badai terdahsyat yang pernah ada di lautan itu juga mereda begitu saja. Seperti seorang anak yang diberi permen. (hal 240) #

Sekali lagi, ini paragraf metafora sekaligus konotatif yang seharusnya gak bermasalah tapi lu bikin seolah-olah bermasalah.
Tapi wajar kalo keliatan bermasalah buat lu, mungkin lu gagal menafsirkan cara kerja metaforanya gimana.

Yang ini mungkin gw lebih memihak ke BloodSin. Secara arti gw rasa masih cukup mudah dimengerti. Pas gw baca sih malah kepikirannya ke metafora ala pendekar, yang biasa mengucapkan 'anak menangis pun akan terdiam mendengar namaku'. Entah ada sangkut pautnya atau tidak. Maksud sih nyampe, tapi kalau ditilik lebih detil, mestinya bagai seorang anak menangis yang diberi permen. Karena anak jika tidak menangis dikasi permen ya ga terlalu banyak berubah, yang ada lagi anteng2 di kasi permen malah lari2an kegirangan.  Grin

Well, balik ke masalah selera dan level pembaca lah... Karena 2 hal itu sangat bervariasi. Kalau bersikeras menggunakan bahasa yang canggihnya sampe menjelimet, mungkin target dia emang kalangan pembaca level tinggi mungkin? atau bukunya perlu dilabelin requirement : pendidikan minimal S1 jurusan sastra Indonesia  Grin Yowez segitu dulu deh. Thumbs Up

Salam,

Serpentwitch
Logged

cheppy70
Kelasi
*
Offline Offline

Posts: 836


« Reply #2301 on: July 23, 2008, 11:31:47 am »

Nimbrung soal metafora, ah,...

Kalo menurut gue sih, yang bukan dosen sastra UI  Wink, Seni menggunakan metafora antara lain bertumpu pada ketepatan metafora tersebut terhadap situasi yang ingin di metaforakannya (tuh, keribetan gue udah ngalahin dosen, khan? Cheesy)

Artinya antara situasi yang ingin digambarkan melalui metafor, dengan metaforanya sendiri, harus ada kesinambungan, entah berupa kesinambungan rasa atau kesinambungan logika, atau kesepadanan karakter. Mungkin dapat kita persamakan dengan rima atau sajak, yaitu dalam sajak ada kesamaan akhiran kata, misalnya. Gue ga tahu istilahnya menurut ilmu sastra  Wink, tapi let's just say ada semacam paralelisme di dalam suatu metafor.

Misalnya metafora:

"Tatap matanya yang sedalam lautan",  akan memberikan pengertian suatu bobot pandangan mata yang memiliki sifat rasa seperti menekan atau menyedot jauh ke dasar (hati yg terdalam), sepadan untuk karakter yang memiliki pesona karismatik tertentu.

Tapi, kalau dituturkan begini:

"Tatap matanya bagai lautan terdalam", akan memberikan pengertian yang berbeda, mungkin tatapan mata yang terasa penuh misteri, yang tak mudah dibaca oleh orang lain. Somewhat karakter yang tenang tak tergoyahkan, tapi sekaligus ancient penuh pengalaman.

Nah adanya pemahaman karakter ini membuat tidak sembarangan metafora dapat ditempelkan pada sembarang karakter, sebab kesalahan pemasangan akan mengacaukan bentuk karakter tersebut di dalam konsep pemikiran pembaca.

Bayangkan kalau gue menempelkan metafora secara asal seperti ini, "Ahmad, si kenek mikrolet 604 jurusan Pasar Minggu - Kampung Melayu itu bergayut di pintu kijang berwarna hijau telur asin itu, sembari memandang perempatan dengan tatapan matanya yang bagai lautan terdalam,"

Atau, "John Byrson memandangi deretan label harga DVD di display itu dengan tatapan mata sedalam lautan"

 Grin Grin Grin

Kira-kira ngerti, kan, konsepnya?  Wink

Nah, kalo kasus yang disebutkan fred:

"Jim mencicit seperti tikus dalam perangkap"

menurut gue memang berpotensi membentuk konsep karakter yang kurang tepat, atau menghancurkan karakter Jim yang sudah digariskan oleh pengarang sebelumnya. Kebetulan aku belum baca, dan belum tahu seperti apa karakter Jim seharusnya pada point adegan ini. Tapi metafora itu telah memberikan bayangan pada saya berupa karakter seseorang yang luar biasa pengecutnya, yang dikuasai oleh kepanikan sehingga tak mampu mengambil keputusan secara rasional. Kebayang sosok seperti Ruben Onsu saat menghadapi krisis kebakaran rumah atau gempa, gitu  Undecided atau karakter si Pembawa Acara dalam film The Fifth Element Big Wink.

Persoalannya, apakah itu konsisten dengan karakter Jim sebagai tokoh utama? Gue kurang tahu, tapi kurasa yg sudah membaca bisa menilai. Bisa aja karakterisasi seperti itu memang konsisten dengan kondisi Jim saat adegan tersebut berlangsung. Siapa tahu memang di awal-awalnya, Jim adalah pribadi bencong yang kemudian mengalami transformasi berkat petualangannya di novel itu.

Jadi temen-temen, IMO, sebagai suatu perangkat penulisan yang memiliki aspek seni, memang metafora memiliki kekuatan untuk diinterpretasikan secara tak terbatas. Tapi tetap saja, dalam kerangka komunikasi kita kepada pebaca, kita tetap harus memilihkan metafora yang mampu mengantarkan ide (cerita) kita secara tepat ke dalam pikiran pembaca.

Salam,


FA Purawan



« Last Edit: July 23, 2008, 12:58:19 pm by cheppy70 » Logged

cheppy70
Kelasi
*
Offline Offline

Posts: 836


« Reply #2302 on: July 23, 2008, 01:06:02 pm »

Well, metafora tikus mencicit sudah dipakai untuk deskripsi peter pettigrew di Harpot toh? Nah kalau mau liat seperti apa itu manusia ketakutan mencicit, nonton aja versi film bioskopnya. Ada sih ada aja, itu terserah penulisnya, dan terserah pembacanya untuk mengartikannya. Tapi, bagus atau engga? Jelas engga kalau nginget lagi si pettigrew itu. Tongue

Hebatnya Rowling, metafora ini sangat konsisten dengan status Peter Pettigrew sebagai animagus tikus, yg notabene udah menjadi tikus selama belasan tahun terus-menerus,... hehehe,...

Salam,

FA Purawan
Logged

fr3d
Kelasi
*
Offline Offline

Posts: 689



« Reply #2303 on: July 23, 2008, 01:13:17 pm »

Hebatnya Rowling, metafora ini sangat konsisten dengan status Peter Pettigrew sebagai animagus tikus, yg notabene udah menjadi tikus selama belasan tahun terus-menerus,... hehehe,...

Ini salah satu aspek kejutan di harpot yang sampe sekarang gw masih dibuat terkagum-kagum, lho! Big Grin
Gw inget dulu pas baca, gw sampe gak rela, bener-bener GAK RELA, ternyata scabbers adalah pettigrew...
Buku 3 emang top! Thumbs Up
Logged
Alpha_Serpentwitch
Kelasi
*
Offline Offline

Posts: 609


Serpent Pro


WWW
« Reply #2304 on: July 23, 2008, 01:23:14 pm »

Quote
Ini salah satu aspek kejutan di harpot yang sampe sekarang gw masih dibuat terkagum-kagum, lho!
Gw inget dulu pas baca, gw sampe gak rela, bener-bener GAK RELA, ternyata scabbers adalah pettigrew...
Buku 3 emang top!


Yup, buku ketiga itu titik perubahan 'kelas' cerita Harpot ke level fantasi misteri yang lebih tinggi. Yah, soal pettigrew lagi, dia emang mau dibikin kaya tikus jelek dan pengecut. Dalam kasus Penandai, kalau memang karakter Jim itu sejelek itu dan emang ingin dijelek-jelekkan, berarti udah fit on place ^^
Logged

BloodSin
Chingu
**
Offline Offline

Posts: 1440



« Reply #2305 on: July 23, 2008, 02:01:06 pm »

Quote
Ah, gak seru nih lempar2an cabe kalo gak ada penulisnya!
Lempar2an cabe antarpembaca pasti cuma berakhir ke lubang hitam...


Tenang aja, gw udah nge-add ym penulisnya di ym gw (masalah diapprove apa kagak ama Tere Liye itu urusan nasib Tongue), pasti nanti gw undang beliau kesini (atau at least, dia bisa baca 'diskusi' menyenangkan kita ini Eyebrow)


Quote
Masalahnya adalah plot2 ini cuma tempelan belaka dan gak dioptimalkan sebagai penguat bangunan plot utama (dongengnya Jim).
Maksudnya gini, kalau dua plot itu dihapus, ngaruh gak ke ceritanya Jim?
Nggak!


Kalo lu bilang gitu, sama aja lu mempermasalahkan kenapa di LotR ada scene kebiasaan Merry & Pippin yang seneng ngisep cerutu, terus adegan pengejaran orc di deked hutan Lorien yg menyebabkan Boromir mati, tradisi bangsa elf bikin roti lembas, terus scene Aragorn pacaran ama Arwen, terus scene perang Rohan, dan masih banyak lagi.

Semua itu ngaruh gak ke misi utama Frodo ngelebur One Ring? Gak.

Apakah setiap detil/subplot kecil dalam suatu tubuh cerita harus selalu mendukung bangunan plot utama secara konkrit? Aturan maen darimana itu? Betapapun sepelenya, yang namanya 'wisata fantasi' itu tetap penting, terutama buat faktor entertaining novel, memperkaya warna plot, & memperjelas setting.

Apakah karena rintangan-rintangan itu muncul secara 'alamiah' maka jadinya aneh dan berkesan sengaja 'diada-adakan'? Sama sekali kagak, justru realistis dan malah banyak terjadi dalam kehidupan nyata. Contoh kasusnya, hari ini Budi punya misi pergi ke  bogor, apakah segala sesuatu yang terjadi di sekujur perjalanan itu harus merupakan satu kesatuan plot sinkron hingga akhirnya Budi sampe ke bogor? Gw kira, kagak juga. Bisa aja mobil yang Budi kemudikan nabrak bajaj, dan si Budi jadi harus mengantarkan supir bajaj ke rumah sakit terdekat sebelum nyampe ke bogor. Atau bisa juga si supir bajaj tewas dan Budi jadi ditangkep polisi dan malah gak pernah nyampe bogor. Ini yang namanya 'warna plot', fred, kalo lu nangkep poin gw.

Itu, jawaban gw kalo emang bagian-bagian yg lu sebut itu gak relevan dengan tubuh cerita secara keseluruhan. Karena sesungguhnya bagian-bagian itu tetep nyambung ke dalam cerita. Bagian kura-kura yang mendatangkan badai mahadahsyat, itu jelas buat menguatkan tema struggle dalam tubuh buku, tentang sebuah rintangan tak terduga yang harus dihadapi di tengah perjalanan.

Bagian Puncak Adam, itu jelas Subplot buat karakter Pate lha! Elu ngeprotes bagian ini, sama aja dengan ngeprotes subplot Merry & subplot Pippin (dan masi banyak lagi) di LOtR. Tapi sebetulnya subplot ini pun masi berpengaruh kuat ke plot utama Jim, karena di lereng puncak adam itu Jim kena godaan cinta pertamanya.

Buat Barikade Perawan, apakah gak wajar kalo suatu artefak yang amat berharga dijagain sedemikian rupa ama rintangan yang berat banged?


Quote
Sori man, di cerita gw mah semua yang dipertanyakan itu (ada manusia, nama2) ada ALASANNYA.


oke kalo gitu gw tunggu cerita lu terbit biar gw bisa baca dan nilai langsung Eyebrow


Quote
Tentang contoh2 kiasan, gw cuma mau membuktikan satu hal.
Kalau misalnya pembaca sampe butuh penjelasan yang dijabarkan sama rey supaya bisa ngerti/paham, ya berarti udah jelas lah kalau kiasan2 itu gagal dan layak dipertanyakan.
Kiasan yang bagus itu, siapa pun yang sekali ngebacanya PASTI langsung nangkep artinya apa.


ah gw kira, orang yang udah lulus SMP mestinya bisa langsung ngerti semua kiasan yang ada di Sang Penandai sekali-dua kali baca. Masih cetek banged gitu lho, belom sedalem kiasan dalam cerpen-cerpen kompas minggu.

Quote
Pernah liat tikus di dalam perangkap? Pernah liat dia mencicitnya seperti apa?
Nah, sekarang bayangin deh kejadian itu diibaratkan ke Jim.

Ada yang setuju kalau kalimat itu bagus?

Gw gak bilang kalimat itu salah, tapi gw bilang itu jelek.
Aneh aja, padahal masih ada banyak kiasan yang lebih bagus gitu. Kenapa harus milih yang itu?


Rumah gw lagi kebanjiran tikus!! Kemaren ada yang ketangkep pake lem tikus anaknya satu ekor, dan tuh anak tikus bercicit-cicit ria pulak

Terus terang aja Fred, dari semua vonis sotoy lu thd penggunaan gaya bahasa di Sang Penandai, bagian ini yang paling konyol dan bikin gw gregetan tujuh keliling Cheesy

Kenapa juga orang harus selalu diibaratkan dengan hal yang bagus-bagus dan gak boleh jelek? Maksud lu kiasan yg 'lebih bagus' itu, harus yang bersih-bersih dan steril bebas kuman semacam "Jim berhati seputih malaikat", "Jim setulus orang suci", "Jim setampan pangeran Harry" gitu kali ye?

Well bos, yg namanya metafora itu yang penting maknanya pas, kena, dan sinkron dengan posisi dari si yang dimetaforakan. Gak peduli mau berkonotasi positif atau negatif. Dan emang makna yang diniatkan pengarang thd tokoh Jim dari metafora itu adalah kondisi begimana jeleknya tikus kalo lagi terdesak dan mencicit.

Tuh si Serpent bilang penulis sekaliber JK Rowling aja pake metafora ini.

Quote
Norak.
Hanya karena di kalimat sebelumnya ada akhiran kata "separuh" gak menjadikannya legal untuk memasukkan kata yang sama ke akhiran kalimat berikutnya. Butuh pertimbangan solid supaya kalimat itu artinya bisa bener2 bagus.
Lagian apa pula maksudnya "hati Jim bergemerincik separuhnya"? Separuhnya lagi emangnya kenapa?


Well, penilaian ini jelas subjektif banged, dan gak jelas banged isi argumentasi lu itu kayak gimana di atas.

untuk satu poin ini, gw nyerah tanpa syarat dah Grin Grin

Soalnya ini cuman bisa diukur ama orang-orang yang ngerti sastra, dan kapasitas gw untuk menjelaskan belum nyampe ke situ.

Quote
Gih eksperimen sana, coba deh ngasih permen ke anak kecil yang lagi diam (gak ngapa2in atau gak lagi kenapa2). Terus liat reaksinya apa.
Seneng aja kan?
Nah, analogi "seneng" sama "badai reda" apaan?
Gak ada.

Rey, gw tau maksud loe apa, dan gw juga tau maksud Tere-Liye apa.
Tapi, kalimat yang bener itu kan seharusnya si anak lagi mengalami sesuatu yang perlu "dibuat reda" oleh permen, misalnya nangis.


Gw kan udah bilang yang terpenting di sini itu konteks.

Terkadang, seorang penulis gak harus menjabarkan segala sesuatunya secara langsung, jelas, dan lengkap. Yang terpenting itu asal konteksnya dari awal udah ada terpatri di pikiran pembaca. Yang Tere Liye coba terapkan di metafora_gak_utuh itu, beliau ingin memancing pemahaman utuh dari pembaca dengan sepotong umpan yang 'tepat'. Tapi emang gw rasa umpan yang 'tepat' ini cuma bisa kena di pembaca yang 'tepat' jugak. *sigh*

Buat gw, di situlah seninya, fred.

Yahhh.. Apakah level bahasa gw terlalu tinggi sampe-sampe gw bisa nangkep konteksnya sedangkan elu kagak? Kagak juga ah...

Quote
Kalau maksudnya memakai kata "berdenting" cuma itu, ada banyak kata lain yang bisa menggambarkan/mewakili kegiatan "mengeluarkan/menghasilkan" dengan lebih tepat daripada "berdenting", dan lagi, kata-kata yang lain itu gak ada embel2 menghasilkan bunyinya. Silakan liat aja di tesaurus.


Sama aja elu mempermasalahkan semua metafora yang berjenis majas ini (termasuk contoh majas-majas sejenis yang udah gw kasih). Yang satu ini udah masuk ke gaya bahasa personal pengarang, sih. Tapi gw inget dulu waktu jaman gw belajar Bahasa Indonesia di SMP, ada jenis majas yang prinsipnya sama kayak metafora di atas. (@anyone ada yg tauk nama majasnya?)



It's okelah kalo lu gak sreg ama gaya bahasa 'memerintah' yang ada di Sang Penandai, tapi kalo buat metafora-metafora yang udah wajar (dan ternyata dipermasalahkan dengan cara yang tidak relevan) seperti dalam quote-quote di atas, gw dengan senang hati rela membahasnya bersama elu sampe tuntas. Big Grin
« Last Edit: July 23, 2008, 02:03:06 pm by BloodSin » Logged
piethitam
Kelasi
*
Offline Offline

Posts: 61


« Reply #2306 on: July 23, 2008, 03:05:26 pm »

ck..ck..terjadi perkelahian antara rey dan fr3d karena tere liye dan kayaknya cuma dewa pedang Villam (yang sedang menikmati masa ulang tahunnya!) yang bisa memisahkan mereka satu-persatu! Big No

Udah..udah!hentikan bahasan tentang Sang Penandai, ntar jangan-jangan tret ini dibelah dua lagi gara-gara para pendukungnya ikut terbelah Cry  ada yang ikut fr3d dan ada yang ikut rey.Gua sih kayak Rey, kemana aja bole apalagi kalo kepepet....

Eh, gue bisa bayangin keributan panjang ini bakal muncul lagi saat Fr3d mulai mereview Goran. He..he.. salah-satu buku fave-nya Rey tuh!

Udahlah...ntar aku kasi permen satu-satu Thumbs Up

btw, cuma Rey, cowok yang bilang Pangeran Harry tampan  Question

@Fr3d
terima kasih atas dukungannya, sekarang engkelku udah mendingan...pake obat fantasi berbau tradisi sejak jaman majapahit yang mungkin juga dipake sama Gajah Mada : kompresan beras kencur!
jangan jera untuk me-review!

@rey
Sabarlah...banyak kok orang yang suka Sang Penandai...kayaknya

@all
Gue baru mau baca kite runner, nih.katanya sedih buanget,ya.Gue juga udah baca eps.1 Ketika Cinta Bertasbih (KCB)..aduh mak!Ini sih telenovela bersetting Mesir n bergaya bahasa ala Marah Rusli jamannya Balai Pustaka masih bikin novel bukan buku pelajaran.

Boseeeeeeen banget!Peringatan!jangan baca buku ini kalo ga mau nemuin tulisan 'tukang tempe' seratus lima puluh kali dalam 400 halaman!Emak gue yang (karena males baca) bisa ketawa n nangis dengerin gue baca tetralogi Laspel langsung ngorok setelah gue baca KCB dua halaman.
Btw gue belon lagi baca nopel Fantasy karena semua yang ingin gue baca udah direpiu kalian habis-habisan...

@all
e-book yang gue maksud ya yang dimaksud Fr3d. Yang mungkinin kita download buku gratis dari blog-nya orang, bukan dari toko buku digital atao dari web-nya penulis digital.


Logged
MakMak
Chingu
**
Offline Offline

Posts: 1214


Choooo Denji.... Yo-Yooo!!!!


« Reply #2307 on: July 23, 2008, 03:18:37 pm »

Perang Fr3d Vs Bloodsin bisa jadi hadiah buat si raja perang.  Grin Grin
Logged

lagi baca Hourou Musuko.
manga tentang lika-liku kehidupan cross dresser. sangat menarik.

visit: http://visnovtranslation.blogspot.com - for unofficial visual novel translation

visit: http://ninou-maxmax.blogspot.com/ - for my stories documentation so far
fr3d
Kelasi
*
Offline Offline

Posts: 689



« Reply #2308 on: July 23, 2008, 03:30:50 pm »

Gue baru mau baca kite runner, nih.katanya sedih buanget,ya.

Bagus banget nih!
Buat gw, sepuluh kali lebih bagus daripada laspeng (*sambill melambai perpisahan ke Andrea Hirata*). Thumbs Up
Tapi, jangan nonton film-nya, karena film-nya kurang banget dibandingin novelnya.
Logged
fr3d
Kelasi
*
Offline Offline

Posts: 689



« Reply #2309 on: July 23, 2008, 04:19:08 pm »

Kalo lu bilang gitu, sama aja lu mempermasalahkan kenapa di LotR ada scene kebiasaan Merry & Pippin yang seneng ngisep cerutu, terus adegan pengejaran orc di deked hutan Lorien yg menyebabkan Boromir mati, tradisi bangsa elf bikin roti lembas, terus scene Aragorn pacaran ama Arwen, terus scene perang Rohan, dan masih banyak lagi.

Semua itu ngaruh gak ke misi utama Frodo ngelebur One Ring? Gak.

Contoh2 di atas gak relevan sama yang gw perdebatkan. Hammer
Lagian, dari lima contoh di atas, empat di antaranya memang mempengaruhi misi utama Frodo ngelebur One Ring, cuma satu yang kagak dan itu pun bukan masuk kategori plot/subplot.


Apakah setiap detil/subplot kecil dalam suatu tubuh cerita harus selalu mendukung bangunan plot utama secara konkrit? Aturan maen darimana itu? Betapapun sepelenya, yang namanya 'wisata fantasi' itu tetap penting, terutama buat faktor entertaining novel, memperkaya warna plot, & memperjelas setting.

Plot2/subplot2 yang gw perdebatkan tidak memperkaya plot (kalau soal warna, gw gak tau maksudnya apaan; plot twist?), dan jelas tidak memperjelas setting.
Kalau segi entertaining (faktor plus) sih iya, untuk orang yang memang suka.
Tapi, untuk entertaining yang mengisi sepertiga novel, tetep aja boros, dan gak ada usaha untuk diberdayakan dengan lebih tepat atau optimal. Hammer
Males kali ya? Yang penting terbit? Huh?


Contoh kasusnya, hari ini Budi punya misi pergi ke  bogor, apakah segala sesuatu yang terjadi di sekujur perjalanan itu harus merupakan satu kesatuan plot sinkron hingga akhirnya Budi sampe ke bogor? Gw kira, kagak juga. Bisa aja mobil yang Budi kemudikan nabrak bajaj, dan si Budi jadi harus mengantarkan supir bajaj ke rumah sakit terdekat sebelum nyampe ke bogor. Atau bisa juga si supir bajaj tewas dan Budi jadi ditangkep polisi dan malah gak pernah nyampe bogor. Ini yang namanya 'warna plot', fred, kalo lu nangkep poin gw.

Argumen yang ngaco. Coba baca lagi deh contoh di atas.
Jelas2 semua kejadian yang dialami Budi itu mempengaruhi perjalanannya ke Bogor.
Jadi, udah pasti gw gak akan bermasalah kalau ceritanya seperti yang dicontohkan di atas ini.


Bagian kura-kura yang mendatangkan badai mahadahsyat, itu jelas buat menguatkan tema struggle dalam tubuh buku, tentang sebuah rintangan tak terduga yang harus dihadapi di tengah perjalanan.

Bagian Puncak Adam, itu jelas Subplot buat karakter Pate lha! Elu ngeprotes bagian ini, sama aja dengan ngeprotes subplot Merry & subplot Pippin (dan masi banyak lagi) di LOtR. Tapi sebetulnya subplot ini pun masi berpengaruh kuat ke plot utama Jim, karena di lereng puncak adam itu Jim kena godaan cinta pertamanya.

Buat Barikade Perawan, apakah gak wajar kalo suatu artefak yang amat berharga dijagain sedemikian rupa ama rintangan yang berat banged?

Cuma Tere-Liye yang tahu pasti apa sebenernya tujuan memasukkan cerita tentang Puncak Adam, kura-kura raksasa, dan Barikade Perawan.

Eniwei, yg gw maksud dengan Puncak Adam itu bukan tentang si Jim ditangkep sama orang2 desa itu, tapi tentang Puncak Adam-nya itu sendiri. Maksudnya gini, Tere-Liye sengaja menciptakan Puncak Adam supaya si Jim bisa ditangkep sama orang2 desa itu, lalu mengalami "godaan" pertama kali. Itu maksud gw dengan menyebutnya sebagai "tempelan".

(Mendramakan Tere-Liye)

TL: Aduh, yang penting Jim harus ditangkep terus digoda nih sebelum tiba di kota Champa, tapi gimana ya caranya supaya itu logis? Undecided
(*berpikir... berpikir... berpikir keras...*)

Lampu tiba-tiba menyala!

TL: Itu dia caranya! Gw buat aja kalau ternyata si Pate kenal pendeta yang kepengen naik ke Puncak Adam! Aaargh! Bagus banget nih pasti! Jadi nantinya ternyata ada desa yang terisolasi di lereng gunung itu! Nah, Jim dan Pate mampir dulu deh ke situ, terus... Hmm... terus gimana ya...
(*berpikir... berpikir... berpikir lebih keras...*)

Lampu menyala lebih terang!

TL: ADA TRADISI! Desa itu punya tradisi yang melarang orang naik ke Puncak Adam! Terus Pate melanggar, dan akhirnya Jim ditangkep! Habis itu, dia "digoda" deh! YES! Hebat banget sih gw! Thumbs Up
(*melompat kegirangan*)
Clap Winner Punk

---TAMAT---


ah gw kira, orang yang udah lulus SMP mestinya bisa langsung ngerti semua kiasan yang ada di Sang Penandai sekali-dua kali baca. Masih cetek banged gitu lho, belom sedalem kiasan dalam cerpen-cerpen kompas minggu.

Kalau mau, gw juga bisa bilang gini, "Tere-Liye mungkin gak lulus SMP kali ya, levelnya ternyata cuma bikin kiasan sejelek itu. Masih jauh sama cerpen-cerpen kompas minggu, yang udah bagus, tepat sasaran pula kiasannya." Tongue


Kenapa juga orang harus selalu diibaratkan dengan hal yang bagus-bagus dan gak boleh jelek? Maksud lu kiasan yg 'lebih bagus' itu, harus yang bersih-bersih dan steril bebas kuman semacam "Jim berhati seputih malaikat", "Jim setulus orang suci", "Jim setampan pangeran Harry" gitu kali ye?

Argumennya gak relevan lagi. Hammer
Toh gw bukan bilang kiasannya jelek karena gak steril bebas kuman/bersih.
Kenapa pula sampe bawa2 malaikat? Huh?


Soalnya ini cuman bisa diukur ama orang-orang yang ngerti sastra, dan kapasitas gw untuk menjelaskan belum nyampe ke situ.

Gw penasaran "aspek sastra" dari kalimat terakhir paragraf yang ada "gemerincik separuhnya" itu apaan.
Mudah2an segera bisa dijelaskan oleh seorang dosen sastra. Big Grin


Terkadang, seorang penulis gak harus menjabarkan segala sesuatunya secara langsung, jelas, dan lengkap. Yang terpenting itu asal konteksnya dari awal udah ada terpatri di pikiran pembaca. Yang Tere Liye coba terapkan di metafora_gak_utuh itu, beliau ingin memancing pemahaman utuh dari pembaca dengan sepotong umpan yang 'tepat'. Tapi emang gw rasa umpan yang 'tepat' ini cuma bisa kena di pembaca yang 'tepat' jugak. *sigh*

Buat gw, di situlah seninya, fred.

Yahhh.. Apakah level bahasa gw terlalu tinggi sampe-sampe gw bisa nangkep konteksnya sedangkan elu kagak? Kagak juga ah...

Cuma nyari2 alasan juga nih!
Kalau semua penulis nyari2 alasan kayak gini, kasian lah yang jadi pembaca.
Sayang sekali, seperti kata jeff, berarti pembaca bukan raja. Ban

(Drama contoh; Warning: Don't try this at home!)

Penulis iblis: Mampus deh loe2 pada yang jadi pembaca! SYUKURIN! (*sambil mengutuk2 keras!*)
Mendingan jadi penulis aja sono! Kayak gw nih! Bisa ngapain aja sesuka gw!
BWAHAHAHA! (*ketawa bos penjahat level 8*)

---END SCENE---

Eniwei, gw kan udah bilang di post sebelumnya kalau gw juga sebenernya paham sama maksudnya Tere-Liye.
Tapi, kalau sesuatu bisa dibuat mudah, kenapa harus dipersulit? Huh?


Sama aja elu mempermasalahkan semua metafora yang berjenis majas ini (termasuk contoh majas-majas sejenis yang udah gw kasih). Yang satu ini udah masuk ke gaya bahasa personal pengarang, sih.

Wanna know something, rey?
Majas2 contoh yang dikau kasih emang tepat dan emang lebih bagus daripada kalimat "berdenting" itu.
Bahkan, gw inget di prolog Lemuria ada kalimat yang nyinggung2 tentang "kucing pelabuhan" atau apa gitu (gw agak lupa), dan itu masih jauh lebih bagus daripada yang "berdenting" ini. Eyebrow

"Aaah... membicarakan ini semua, membuat jantungku jadi berdenting tak karuan," kataku pasrah.
Logged
Lautan Indonesia - Forum Indonesia Terbesar dan Terlengkap
   

 Logged
Pages:  1 ... 227 228 229 230 [231] 232 233 234 235 ... 930   Go Up
  Print  
 
Jump to:  

Powered by MySQL Powered by PHP Powered by SMF 1.1.10 | SMF © 2006-2009, Simple Machines LLC Valid XHTML 1.0! Valid CSS!
Page created in 1.301 seconds with 25 queries. (Pretty URLs adds 0.212s, 3q)